Kamis, 03 Maret 2011

Menulis, Bekerja Untuk Keabadian

Oleh Ayatulloh Marsai

“Orang boleh pintar setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer)

Begitulah seorang Pram menulis. Dia seolah berkata: “menulislah, maka engkau akan abadi!” karena memang dengan menulis kita akan mampu mengabadikan diri sepanjang zaman, meski jasad kita sudah menjadi tanah. Buktinya, kita masih bisa berguru pada ‘orang-orang hebat’ yang sudah lama meninggal seperti, Plato, Aristoteles, Ibnu Ishak, Ibnu Kasir, al-Khawarizm, Umar Khayam. Dari Imam Nawawi al-Bantany, Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, dan banyak lagi. Karya-karya mereka masih setia membimbing umat manusia hingga sekarang.

Maka benar pepatah, “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan nama”. Nama mereka sampai kapanpun akan selalu disebut dalam kancah keilmuan mereka. Pendapat mereka akan terus dikutip dan terus dikutip dalam setiap kesempatan yang sesuai. Nama dan karya mereka tetap bertebaran memberikan manfaat pada kehidupan ini meskipun secara fisik mereka sudah menjadi tanah.

Tidak mustahil, bahkan biasa terjadi, tulisan memberikan kekuatan perlawanan terhadap sebuah keadaan. Kekuatannya lebih dari senjata M-16 maupun AK-47. Seperti Hitler bisa menguasai Jerman dan menggerakan Otto Bismarch untuk menguasai Eropa, dengan ide-ide yang dituliskan dalam “Mein Keimph”.

Dalam sejarah panjang perjuangan Indonesia melawan penjajah Belanda, juga tidak sepi dari para pejuang pena. Diantaranya adalah Ki Hajar Dewantara, dia menulis, “Seandainya Aku Orang Belanda”, pada saat Belanda melaksanakan pesta ulang tahun ke-100 di Indoneisa. Tulisannya mendapat sambutan hangat dari kaum humanis Belanda dan menjadi kegelisahan tersendiri bagi kerajaan Belanda. Dan, tidak lama setelah tulisan itu beredar, kerajaan Belanda mengeluarkan kebijakan politik balas budi (politik etis). Isinya adalah transmigrasi, irigasi dan edukasi. Dengan ketiga program ini, kerajaan Belanda bermaksud memberikan atau mengembalikan sedikit keuntungan mereka untuk penduduk “boemi poetra” melalui program yang berorientasi pribumi. Perubahan orientasi politik kerajaan Belanda ini, sekali lagi akibat sebuah karya tulis seorang Ki Hajar Dewantara, yang patut dipegang sampai sekarang.

Semua Orang Bisa Menulis
Apakah setiap orang bisa menulis? Tentu saja bisa, asalkan mau berlatih setiap hari. Menulis bukan pengetahuan melainkan keterampilan, siapa pun yang rutin berlatih maka dia akan terbiasa dan bisa. Setelah terbiasa dan bisa, seseorang akan sampai pada tahapan memperbaiki kualitas tulisan tersebut.

Menulislah, diary atau catatan harian sekalipun. Banyak contoh karya besar yang merupakan diary atau catatan harian seseorang. Misalnya, “Catatan Harian Ahmad Wahib”, diterbitkan LP3ES, Jakarta, merupakan catatan-catatan singkat Ahmad Wahib. Juga surat-surat Kartini yang kemudian dibukuan oleh Armin Pane dengan judul, “Dari Gelap Terbitlah Terang”. Dua karya ini pada zaman yang melampaui penulisnya sendiri, telah merubah pandangan dunia tentang Islam dan perempuan. Karya Ahmad Wahib berpengaruh besar menggeser tradisi berfikir Islam Indonesia, dari cara berfikir dogmatis menjadi berfikir merdeka. Lebih besar lagi pengaruhnya terhadap organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Hidup Ahmad Wahib yang singkat tidak mengakhiri pengaruhnya terhadap perkembangan pemikiran Islam Indonesia, ternyata tulisannya abadi menjadi inspirasi generasi muda muslim, baik Indonesia maupun dunia.

Sementara, karya Kartini, telah merubah nasib perempuan Indonesia pada masa jauh setelah Kartini meninggal. Tulisan-tulisan Kartini telah mengentaskan perempuan Indonesia dari diskriminasi gender, menuju kesetaraan gender di Indonesia. Inilah kekuatan tulisan, menembus ruang dan waktu.

Bagaimana seseorang bisa menulis?
Bagaimana seseorang bisa menulis? Dia harus membaca. Kegiatan menulis tidak bisa dipisahkan dengan membaca. Ada yang mengatakan menulis adalah saudara kembar membaca. Seseorang bisa menulis kalau dia sudah sukses membaca. Tentu membaca dalam pengertian yang sangat luas. Membaca dalam pengertian yang seluas-luasnya, tidak hanya terbatas membaca teks tulisan, namun juga termasuk merenungkan alam dan segala isinya, sesuatu yang ada dan mungkin ada, dari yang konkret hingga yang abstrak.

Membaca, menurut Quraish Shihab, “menghimpun” makna dari tercerai berai kemudian dihimpun menjadi suatu pembacaan dan pemahaman. Tidak jauh dengan pendapat Hernowo, bahwa membaca adalah ‘megikat makna’ dari paparan teks yang dibaca. Bagaimana seseorang bisa mengambil “nyawa” dari lembar per lembar bacaan yang dibacanya, itulah mengikat makna.
Sedangkan kegiatan menulis adalah bentuk akumulasi dari kemampuan membaca, kemudian dituangkan hasil pembacaannya itu lewat tulisan. Di sini, seorang penulis sukses pasti seorang pembaca yang sukses. Misalnya, seorang Hernowo, pekerjaan rutinnya selama belasan tahun adalah membaca karya-karya yang akan diterbitkan Penerbit Mizan, kemudian dia buatkan sinopsisnya untuk kepentingan promosi buku tersebut. Siapa sangka setelah pekerjaan itu dia tekuni selama belasan tahun, dia malah menjadi penulis sukses. Dia berhasil menulis buku bagaimana cara membaca (Mengikat Makna), bagaimana cara menulis (Quantum Writing), dan bagaimana cara membuat buku (dalam bab khusus Quantum Writing).

Sesuatu yang tidak diajarkan oleh orang-orang yang bukunya dia baca. Namun karena Hernowo mampu membaca pola ‘kepenulisan’ dari karya mereka, maka dia bisa menulis bagaimana caranya menulis. Bahkan lebih bisa dari guru Bahasa Indonesia yang lebih berkewajiban mengajarkan bagaimana caranya menulis kepada siswanya. Kenapa Hernowo bisa? Karena Hernowo sudah banyak membaca. Setiap buku yang akan diterbitkan mau tidak mau harus dia baca, dia simpulkan, dan dia tulisakan sinopsisnya. Jadi, dari rutinitas membaca inilah dia bisa menulis.

Dengan demikian semua orang bisa menulis? Betul! Semua kalangan bisa menulis, apakah ia pelajar, mahasiswa, karyawan, birokrat, pejabat, hingga ibu rumah tangga. Caranya dengan menulis apa saja dan memenuhi kebutuhan membaca setiap hari. Maka keabadian yang dimaksud oleh Pramudia Ananta Tour di atas bisa kita raih. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa mati sebuah keharusan, namun fitrah manusia menginginkan keabadadian. Maka salah satu cara untuk mengabadikan diri adalah dengan menuliskan ide dan gagasan kita saat ini. Mengabarkan kehidupan kepada masa depan melalui tulisan. Wallahu ‘alam bissawab.

*Penulis adalah Pengajar di Madrasah Aliyah Al-Khairiyah Karangtengah, Pengurus Komunitas Penulis Muda Cilegon (KPMC)

Kamis, 27 Januari 2011

Aspirasi dan Media Massa

[Banten Raya Post, 27 Januari 2011

(Tanggapan Atas Tulisan Mohammad Sofiyan, “Aspirasi Sebatang Pohon Pisang”)

Oleh Ayatulloh Marsai

Mohammad Sofiyan, dalam tulisannya “Aspirasi Sebatang Pohon Pisang” (dimuat di Baraya Post dan Radar Banten, 15 Januari 2011), mengemukakan pergeseran nilai yang signifikan dalam hal rakyat menyampaikan aspirasinya. Menurutnya, ada perubahan pola menyampaikan aspirasi pada zaman orde lama, orde baru dan orde reformasi ini. Pada masa orde lama dan orde baru, aspirasi disampaikan dengan turun ke jalan dengan pengerahan massa. Banyaknya massa menggambarkan banyaknya (besarnya) aspirasi tersebut. Sementara, pada orde reformasi  aspirasi disampaikan dengan kreatif, baik secara verbal, tertulis hingga pelambangan atau simbol-simbol. Secara verbal biasanya aspirasi disampaikan dengan orasi oleh juru bicara massa demonstrasi. Secara tertulis, biasa dilakukan melalui pamphlet-pamplet yang dibagikan kepada pengguna jalan dan tulisan di media massa. Sementara pelambangan ---ini yang sedang trend, dilakukan dengan menggunakan media simbolisasi sesuai dengan aspirasi yang diusung. Misal, untuk mengatakan bahwa pemerintahan SBY lamban, demonstran mengajak seekor kerbau yang ditulis, “SBY”. Atau, seperti pada tulisan ‘Aspirasi Sebatang Pohon Pisang’ ini: untuk meminta perbaikan/pembangunan jalan digunakanlah pohon pisang, untuk menggambarkan bahwa kondisi jalan sudah tidak layak untuk kendaraan bahkan jalan kaki, lebih tepat dipergunakan kebon pisang.

Pergeseran nilai tersebut, lebih lanjut memperlihatkan penyampaian aspirasi tidak membutuhkan massa yang besar (banyak). Cukup dengan memasang tulisan-tulisan di karton, pamphlet-pamplet, hingga simbol-simbol di tempat umum, maka aspirasi dipastikan akan sampai pada sasaran demonstrasi. Hal ini pernah disampaikan oleh Asep Saeful Muhtadi, dalam kuliah jurnalistik tahun 1998, dimana aksi demonstrasi  saat itu telah menumbangkan rezim orde baru. Dia berkomentar terhadap aksi demonstrasi yang sedang marak di hampir seluruh tanah air, “unjuk rasa sebetulnya tidak usah repot-repot turun ke jalan dengan massa yang banyak, cukup beberapa orang saja dengan konsep yang jelas. Tulis konsep-konsep itu di karton atau semacamnya. Lalu undang media untuk meliput unjuk rasa itu, selesai. Maka tuntutan akan sampai kepada sasaran.” 

Tulisan ini mencoba mengisi ruang yang kosong dalam “Aspirasi Sebatang Pohon Pisang”, yang tidak menempatkan media pada posisi signifikan. Padahal di era informasi ini, media massa menjadi kekuatan bagi siapa saja yang mampu menguasainya. Ketika media massa dikuasi oleh pemerintah, maka pemerintah akan kuat. Media massa dikuasi oleh parlemen, parlemen akan kuat. Begitu juga sebaliknya, kalau media berpihak pada rakyat dengan segudang aspirasinya, maka rakyat akan kuat.

Jadi, aspirasi sebantang pohon pisang, akan sampai ke telinga sasaran aspirasi tergantung pada media. Media yang berpihak pada kepentingan rakyat akan menguatkan aspirasi itu, tentu dengan tetap berpegang pada etika jurnalisme. Dengan begitu, “aspirasi sebatang pohon pisang”, tidak hanya akan didengar, lebih jauh akan terngiang untuk kemudian direspon oleh yang bersangkutan. Karena pemerintah merasa terus dikontrol oleh ‘media’ yang mengatasnamakan ‘massa’  ini.

Kenyataan serupa banyak terjadi di masyarakat, bervariasi bentuk aspirasi disampaikan, mulai dari membuang sampah di jalan, hingga menulis: “jalan ini akan diperbaiki dua hari lagi”, “tolong jalan ini segera di perbaiki pak!”,  di jalan yang rusak itu. Tetapi, unjuk rasa itu luput dari pandangan media massa. Akibatnya, unjuk rasa itu tidak sampai pada sasarannya. Bayangkan, berapa aspirasi rakyat yang tidak sampai sasaran ketika media massa tidak meliputnya, entah karena tidak tahu, tidak konfermasi, atau karena kepentingan pada profit, kepentingan orang besar, dan isu-isu besar saja? Misalnya, protesnya petani terhadap kelangkaan pupuk, protesnya pedagang kecil terhadap menjamurnya waralaba, protesnya karyawan kecil, guru honor, protesnya tukang becak, tukang ojeg dan seterusnya.  

Padahal media massa menjadi satu-satunya saluran aspirasi rakyat ketika aspirasi itu jauh, atau “tersumbat” pada jalur seharusnya. Termasuk kepada parlemen. Aspirasi rakyat banyak tidak digubris ketimbang keinginan partai politik .  

Maka keberpihakan media massa kepada ‘massa’ (masyarakat) menjadi pilar untuk tegaknya demokrasi. Media yang berpihak kepada ‘massa’ akan mendampingi aspirasi rakyat, mengontrol jalannya pemerintahan pada satu sisi. Dan juga, tidak “menghasut” rakyat serta menjatuhkan pemerintah pada sisi yang lain dengan pemberitaan yang tidak terbukti kebenarannya.

Era informatika memfasilitasi rakyat untuk menyampaikan aspirasinya lewat dunia maya. Menurut Ono Purbo (Filosofi Naif Kehidupan Dunia Cyber, Penerbit Republika, 2003), di dunia maya, dimana informasi dan pengetahuan bergerak dengan sangat cepat tidak mustahil kita akan kembali ke masa lalu, hukum tidak tertulis dan keimanan yang akan mempengaruhi kehidupan sosial dan budaya umat manusia. Situs jejaring sosial yang paling popular sekarang ini adalah facebook. Pengguna jejaring ini bisa menuliskan apa saja pada status-nya, dari urusan pribadi (narsis), sosial, budaya, agama, pendidikan, politik, hingga urusan promosi produk usahanya. Termasuk di dalamnya aspirasi kepada pemerintah yang “dilempar” kepada masyarakat facebooker.

Dukungan publik di dunia maya pernah berhasil mengeluarkan Bibit Candra dari jerat hukum kejaksaan dan polri.  Dukungan publik dunia maya juga telah terbukti berhasil membebaskan Pryta Mulyasari dari tuntutan sebuah rumah sakit internasional yang merasa tercoreng nama baiknya.

Sampai di sini, aspirasi sebatang pohon pisang bisa sampai kepada sasaran karena keberadaan media massa. Begitupun aspirasi unjuk rasa lainnya, baik kecil maupun besar, sangat tergantung kepada media massa. Karena media massa, satu pilar utama dalam demokrasi. Keberadaan media massa, corak, isi, hingga pilihan headline, menggambarkan kualitas demokrasi sebuah negara.

Penulis adalah Pengajar Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Al-Khairiyah Karangtengah.

Rabu, 19 Januari 2011

YA RASULULLAH, APAKAH KAMU SENANG DENGAN CARA UMATMU MENCINTAIMU


by. ayatulloh marsai

S
aya baru saja pulang dari masjid, memberi materi bulanan kepada anggota RISMA Nurul Ikhlas Dukumalang. Pada kesempatan ini saya mengambil tema tentang muludan yang sedang ramai dilaksanakan oleh masyarakat Cilegon khususnya, dunia pada umumnya. Saya katakan bahwa kita jangan terjebak pada “cinta gincu” kepada rasul. Cinta kita harus berasa seperti garam pada sayur, tidak terlihat tapi sangat menyedapkan masakan yang kita makan. Inilah gambaran untuk kita yang menjadikan muludan ini tidak hanya sebagai acara seremonial belaka. Sehingga zikir mulud yang berisi puji salawat kepada Kanjeng Nabi bukan sebagi rayuan gombal kita kepada beliau, tetapi cinta kita terbukti dengan menjalankan perintahnya, anjurannya dan tauladannya dalam kehidupan kita sehari hari.

Dalam “upacara muludan” ini, sering kita dengar ada masalah dalam mempersiapkannya. Terutama ibu-ibu yang mempersiapkan berkat. Sampai tidak tidur, bahkan mungkin ada yang tidak sholat, ada yang marah-marah bermasalah dengan anggota keluarga karena tidak menjaga emosi, marah-marah dan seterusnya. Kalau ini terbukti masih saja terjadi pada masyarakat kita berarti, muludan kita belum berhasil.

Saya berani menjamin “ahli zikir mulud” tidak semuanya mengerti apa yang mereka teriakan, apa yang mereka kumandangkan. Yang pasti mereka tahu, kekompakan, suara sekeras-kerasnya, mengalahkan lawan zikir dan pulang dapat berkat.

Peringatan kelahiran nabi sudah menjadi budaya, tradisi atau upacara adat. Suatu kampong mengadakan muludan. Mereka mengunang tetangga kampung terdekat untuk zikir mulud. Sementara masyarakat yang mengadakan mulud menyediakan berkat untuk oleh-oleh pezikir pulang. Di dalam pelaksanaannya, peserta zikir yang berkelompok berdasarkan asal kampungnya masing-masing, dinilai oleh juri/tim pengawas. Yang menang dapat oleh-oleh lebih atau hadiah untuk kampungnya. Macamnya bervariasi dan tidak terikat. Yang sudah biasa: karbau, uang, lemari alat musik dst. Ada berupa pakaian yang tadinya tergantung di panjang-panjang. Semuanya diserahkan kepada kelompok, bukan perorangan. Di kampunya atau masyarakatnya nanti setelah beberapa hari oleh-oleh tadi di lelang kepada masyarakat setempat dengan harga relative murah. Uangnya diserahkan kepada kas masjid sebagian, sebagian lagi untuk kas kelompok zikir.

Masalah berkat. Masyarakat yang hajat mempersiapkannya. Bentuknya ada yang dinamakan panjang, ada yang biasa (nasi di bakul sama lauknya). Khas lauk yang mesti adalah telur ditusuk sama bambu yang sudah dibikin sedemikian rupa. Telur itu dihias dengan kertas hias. Yang berupa panjang, lebih berfariasi karena bisa saja didalamnya terdapat pakaian dan uang rupiah yang dipajang di panjang itu. Pakian macam-macam: sarung, kaos, pakaian anak-anak, dst.

Ada yang tidak kalah pentingnya adalah bentuk panjang. Bentuk panjang menggambarkan berbagai bentuk. Yang sudah biasa adalah bentuk masjid, perahu, kapal. Atau kalau saya inget tahun kemaren ada yang gambar ayam dan alat tebang kayu. Itu menggambarkan hidup, atau mata pencaharian yang mencari penghidupannya dari menjual ayam dan tukang tebang pohon. Sesudah sampai di masjid karya seni panjang itu seakan sia-sia, langsung dirusak diambil isinya untuk segera di bagikan kepada tamu undangan zikir.

Di Rumah, sebelum panjang sampai ke mesjid, ibu rumah tangga mengantarkan nasi kepada handai taulan kepada saudara terdekat yang beda Kampung. Disini jelas positif karena memberi tetangga. Sayangnya kebaikan ini, nantinya terkesan negative karena yang diberi berkat tadi merasa punya hutang atau keutangan. Artinya, kalau nanti kampungnya mengadakan muludan dia harus memberi balik kepada orang-orang yang pernah member. Memang tidak ada akad hutang-menghutangkan, tetapi merasa harus membalas kebaikan orang lain.

Dari uraian tradisi ini bisa dibayangkan capeknya bukan main mempersiapkan acara ini bagi yang mengadakan. Terutama di dapur. Ibu-ibu dan para gadis. Tidak jarang mereka sampai meninggalkan kewajiban salatnya. Bertengkar keluarga karena terlalu capek dan tidak bisa mengendalikan nafsu.

Ya Rasulullah apakah kamu senang dengan cara umatmu mencintaimu?

Dukumalang, 24 Februari 2010

Senin, 17 Januari 2011

“Sekarang Saya Sudah Jadi Guru, Guru Besar. Karena Kekaguman Saya Kepada Guru”

Oleh: Ayatulloh, S. Hum

“Waktu kecil, saya punya dua cita-cita. Pertama, saya pengen jadi kondektur. Saya lihat enak sekali jadi kondektur. Setiap pagi, ketika saya pergi sekolah naik bus, saya lihat kondektur memintai uang setiap penumpang, sehingga setiap saku baju dan celanya penuh dengan uang. Kalau besar nanti, saya mau jadi kondektur, supaya punya uang banyak.

Cita-cita saya yang kedua, pengen jadi guru. Waktu saya sekolah SD, setiap pagi menunggui guru datang untuk mengambil tas dan sepedahnya. Tasnya ditaruh di meja guru, sementara sepedahnya, ditaruh di tempat parkir. Dan itu saya lakukan dengan berebut antar sesama teman. Saya pengen jadi guru. Karena saya lihat betapa guru dijunjung tinggi oleh murid-muridnya.

Sekarang, sepedanya sudah tidak ada. Tapi, nilai-nilainya harus tetap bertahan. Guru dihormati, karena guru sayang kepada muridnya. Waktu saya lagi malas sekolah. Siangnya, Bu Guru saya langsung ke rumah. Dan bertanya, “kamu sakit ya?, istirahat yang cukup yah, mudah-mudahan besok sudah bisa sekolah”. Padahal saya tidak sakit, dan Bu Guru pasti tahu itu. Tapi, tidak mau menampakkan keadaan yang sebenarnya. Sehingga besoknya, saya mulai sekolah. Guruku sayang kepadaku”.

Kalimat panjang tersebut meluncur dari mulut Cendikiawan Muslim yang juga Rektor UIN Jakarta, Komarudin Hidayat, ketika memberikan sambutan pada acara Pengukuhan Guru PAI Profesional Propinsi Banten, di Kampus UIN Jakarta, tanggal 6 Januari 2010.

Saya terhanyut dengan pembicaraan beliau. Gaya bicaranya, kekuatan karakter dari setiap katanya. Beliau, selalu berangkat dari pengalaman pribadinya. Pengalaman pribadi yang disikapi dengan kepandaian mengambil hikmah terdalam, yang tidak hanya bisa diambil oleh dirinya sendiri, tetapi juga ampuh untuk orang lain.

Satu contoh lagi, sebagai bukti bahwa beliau sangat bijaksana mengambil perspektif dalam memandang suatu masalah; pada sambutan sebelumnya yang disampaikan oleh Direktur LPTK. Beliau bercerita tentang kesimpulan sebuah penelitaian di sebuah sekolah. Kesimpulan penelitian itu menyebutkan bahwa minat siswa terhadap pelajaran Agama Islam sagat rendah. Pertanyaan yang melahirkan kesimpulan itu adalah “ketika jam pelajaran apa anda merasa bosan dan malas”. Jawabannya, pelajaran Agama Islam.

Bagaimana Komarudin Hidayat memandang masalah itu? Belau bertanya kepada peserta pengukuhan, “Anda-anda sekalian inikan, dulunya murid juga. Nah, apakah anda ketika jadi murid dulu punya kesan bagus tentang belajar agama”. Peserta pengukuhan tidak menjawab ya atau tidak, malah gerr, semuanya tertawa. Sebagai tanda pengakuan hadirin, bahwa tidak ada kenangan indah dan menyenangkan ketika belajar agama dulu. “Ini artinya apa”, sambung Pak Rektor, “bahwa ini bukan masalah baru. Dari dulu memang pelajaran agama sudah tidak menyenangkan. Ini masalah yang harus diselesaikan oleh Guru Profesional bidang PAI yang sekarang. Jadi, kalau Guru Profesional itu harus bisa merubah wajah pelajaran agama menjadi manis dan banyak diminati oleh siswa”, pungkas beliau.

Sekarang, Pak Komar menyandang status Guru Besar di Universitas Islam Jakarta. Sebuah status yang patut dibanggakan oleh gurunya. Sebuah status yang dilejitkan oleh rasa kagum pada sosok guru.

Sampai disini, saya memandang pas pribahasa, Guru kencil berdiri, murid kencing berlari, untuk kita arahkan kepada arah positif. Sehingga menjadi, Guru mimpi berdiri, murid mimpi berlari. Bagaimana, kalau guru mimpi berlari? Muridnya akan mimpi terbang. Dan meraih cita-citanya di langit.***

Minggu, 16 Januari 2011

PEMBICARA HEBAT SAMA DENGAN PENDENGAR HEBAT

Judul Buku
25 kiat dahsyat menjadi pembicara hebat

Tebal
120 hal

Penulis
Rob Abernathy dan markReardom

Penerbit
Penerbit kaifa PT Mizan Pustaka

Cetekan VI, 2004


Salah satu BUKU KOLEKSI PERPUSTAKAAN BAITUL HIKMAH ini, praktis, lezat dibaca kapanpun dan di manapun. Karena model penyajian materinya sangat singkat. Halaman demi halaman terdapat “tali pengikat makna”, baik kata-kata mutiara ataupun ungkapan-ungkapan tokoh-tokoh besar. Sehingga pemahaman akan semakin kuat terbangun di benak siapa saja yang membaca buku ini.

Seperti anjuran dari penulis buku ini, Rob Abernathy dan Mark Reardon, bahwa anggap kiat-kiat yang ada di dalamnya sebuah alat. Ambil yang anda suka, gunakan sebagai modal untuk tampil di podium dengan sempurna. Salah satu alat (kiat) itu adalah Memuji, kiat nomor 16.

Di antara yang jarang nampak dari seorang pembicara kita adalah sikap mau mendengar dan memuji pembicaraan orang lain. Dan itu “haram” di lakukan oleh seorang pembicara hebat. Kenapa? Karena sikap pembicara itu akan segera kehilangan pendengar setianya. Lalu, buat apa terus bicara kalau ternyata tidak ada lagi orang yang mau mendengarkan.

Jadi, memuji lawan bicara, mendengar, harus di lakukan. Pada tahap ini penulis menyebutnya dengan “teknologi hati”. Bagaimana seorang pembicara masuk keranah perasaan merubah energi energi negatif menjadi energi positif: minder menjadi percaya diri, perasaan kecil menjadi besar dan seterusnya. Akhirnya, ikut membantu peningkatan keberanian mengambil resiko. Berani mengambil resiko adalah bagian dari ciri belajar sepanjang hayat.

Memuji, dapat menyemangati, memberikan kegembiraan dan mendorong keinginan belajar sepanjang hayat. Bertepuk tanganlah sambil berdiri, bersoraklah, acungkan ibu jari untuk mengakui prestasi seseorang atau kelompok.

Kapan kita memuji sama pentingnya dengan bahwa kita memuji. Pujilah peserta, siswa atau teman kita yang maju ke depan kelas (apabila dia tidak tahu pasti apa yang harus di lakukan di depan), ketika memberi wawasan mengagumkan. Pujilah hasil presentasi seseorang atau kelompok. Bahkan pujilah, karena seseorang telah mengikuti pembelajaran/ pelatihan.

Buku ini cocok untuk di baca siapapun. Terutama anda yang bergelut dengan bagaimana menyampaikan informasi atau pengetahuan kepada orang lain. Ataupun yang sedang belajar meraihnya. Terlebih, jika anda adalah presenter, guru, fasilitator, penceramah dan pembicara.

Selamat membaca!

Ayatulloh, S.Hum
Karangtengahsawah, 27 januari 2010

Sabtu, 15 Januari 2011

Saya Beruntung Menemukan "Menulis Mengurangi Stress"

by. ayatulloh marsai

23:26

Hari ini saya beruntung. Menemukan tulisan seorang yang saya kagumi kelihainnya menulis dan juga menyampaikan kuliah. Dia, Bapak Prof. Prof. Komarudian Hidayat, menulis di sindo on line, “Menulis Mengurangi Stress”. Dia menyampaikan bahwa masukan informasi kepada kita yang lumayan bikin pusing dan stress, akan mengganggu pikiran dan bisa mengakibatkan struk. Maka, seperti kita buang air besar, kita harus menumpahkan segala yang membuat kita sakit itu. Kotoran. Kita harus menuliskan segala kotoran yang menumpuk dalam pikiran kita. Agar kita sehat. Buang pada tempat yang sudah dipersiapkan, maka juga akan bermanfaat bagi yang lain. Memfungsikan lagi unsur alam yang hampir punah, agar kehidupan berlangsung wajar, tidak ada satu mendominasi yang lain.

Kotoran harus dibuang. Masukan informasi harus dikomunikasikan. Harta harus diambil sodakohnya. Baru bisa berjalan dengan wajar dan normal. Saya teringat pengalaman para penulis, banyak manfaat yang bisa dirasakan oleh orang yang rutin menulis setiap hari. Fatimah Mernisi misalnya, merasa kulitnya semakin kencang dan awet muda. Komarudin Hidayat, berasumsi menulis bisa menangkal stress. Dan hasil penelitian Profesor Sian Beilock, dari University of Chicagho, menyebutkan bahwa menuliskan masalah-masalah yang dicemaskan, justru bisa mengurangi rasa cemas itu.

Saya Lagi Susah Nulis!

Jumat, 14 Januari 2011
23:08

by. ayatulloh marsai

Sekarang saya susah nulis. Beberapa hari ini saya tidak melahirkan apa-apa, sipa-siapa. Resah, tidak tenang. Padahal lagak saya seperti orang paling hebat dalam hal menulis. Sok memberikan motivasi kepada siapapun, terlebih kepada siswa-siswaku. Aku sendiri, ah payah!

Sebabnya mungkin terlalu terobsesi untuk menjadi terkenal, cepat punya buku. Sementara proses kreatif dilewatkan, tahapan-tahapan tidak dilakukan. Percuma. Padahal, menurut Afifah Afra, dalam …and the star is me, bahwa keinginan, atau mungkin visi adalah kata sifat, dan misinya merupakan kata kerja. Jadi visi atau keinginan tidak akan menjadi apapun selagi tidak diikuti dengan menempuh proses menuju visi tersebut. Dia mencontohkan, ibarat kita ingin ke Singapura, sementara kita tiduran di rumah, tidak membeli tiket, tidak ke bandara. Maka sudah bisa dipastikan bahwa kita tidak akan sampai ke Singapura. Inilah contoh kongkret untuk sebuah visi yang tidak diikuti oleh misi yang jelas.

Begitu pun hal menulis, ingin menjadi penulis (apapun), tidak akan menjadi kenyataan jika tidak ada langkah nyata. Harus ada langkah pertama. Kemudian diikuti dengan langkah kedua dan seterusnya. Langkah nyata itu adalah mulai menulis, kemudian menulis, dan terus menulis.

Kamis, 06 Januari 2011

Input-Output = Membaca-Menulis & Mencerahkan Umat

Oleh Ayatulloh Marsai

Sabtu, 01 Januari 2011
14:59

Teori input-output dalam membaca-menulis saya kenal lag-lagi dari guru saya Hernowo Hasyim. Dari catatan dia di facebook, judulnya “Belajar dari Tulisan Sendiri, karya Juli-Desember 2010”. Dia mengatakan: “semakin banyak pemasukan maka semakin banyak pengeluaran”. Dalam kegiatan berkarya, khususnya menulis, kalimat itu berarti: “semakin banyak membaca [tentu dalam pengertian yang luas], semakin mungkin untuk bisa banyak menulis”. Dengan kata lain, semakin menguatkan pendapat, bahwa kegiatan menulis tidak bisa dipisahkan dari membaca.

Hentakkan dalam diri saya juga kembali terjadi, ketika dia mengutip ayat dari surat al-alaq: iqra’ warabbukal aqram. Tentu ayat ini sudah berkali-kali saya baca, terutama ketika melaksanakan shalat subuh, tetapi yang menyadarkan saya tentang maknanya adalah rangkaian kata “sang pengikat makna”, Bapak Hernowo, bahwa dengan membaca sungguh-sungguh kita akan diberi kemuliaan oleh Allah.

Membaca, menurut Bapak Quraisy Shihab adalah proses menghimpun makna dari segala sesuatu yang ada di alam ini. Nah lo, sekarang, apa bedanya antara “input” dalam istilah Hernowo dengan “menghimpun makna” dalam istilah Pak Quraisy untuk menafsirkan “iqra” dalam surat al-alaq ini? Sama saja! Sama-sama mengambil pemahaman dari luar, baik tertulis maupun tidak tertulis, kemudian diambil manfaat dan maslahatnya untuk “rahmatan lil alamin”.

Nah, dalam tindakan lebih lanjut, setelah diamalkan, manfaat lebih luas bisa didapatkan lewat hasil pembacaan yang dituliskan, dibukukan dan dipublikasikan. Maka public (umat) bisa mengakses “produk pemahaman” atau “hasil pembacaan” kita. Maka dari proses tersebut sebetulnya sudah terjadi proses pencerahan terhadap umat. Atau dalam bahasa yang umum, sudah terjadi proses dakwah, atau mengajak kepada agama. Jadi, menuliskan hasil pembacaan, atau dalam bahasa Mas Hernowo, output, termasuk “dakwah” dalam bahasa agama. [ayatbanten].

Ki Qomar Mencerahkan Masyarakat Lewat Tiga Jalur Dakwah

Oleh Ayatulloh Marsai

Teori termashur tentang saluran dakwah Islam di Indonesia menggambarkan 5 saluran utama penyebaran Islam di Indonesia, yaitu perdagangan, perkawinan, seni budaya, pengajaran dan tasawuf. Dari 5 saluran utama ini, actornya bisa satu atau dua orang, tapi jarang sekali satu saluran satu orang. Ini menggambarkan penyebar-penyebar Islam mempunyai banyak talenta, kompetensi dan jiwa social yang tinggi.

Sebut saja namanya Ki Qomar, panggilan Kiai Qomarudin bin Rakta, seorang tokoh penyebar agama Islam di Cilegon Utara. Dia tokoh paling penting. Ini bisa dibuktikan lewat jaringan ilmu pengetahuan (istilahnya Azyumardi Azra) yang terbentuk sebagai hasil dari usahanya mengajarkan agama Islam, baik kepada santri, jawara, kiai sebaya, bahkan masyarakat umum. Melihat objek dakwah yang bervariasi, maka Ki Qomarpun menggunakan metode sesuai dengan objek dakwahnya. Kepada para santri dia menggunakan metode bandungan kitab kuning dan sorogan. Kepada jawara, ia sampaikan ajaran agama sambil berlatih ilmu kanuragan. Kepada masyarakat, cukup dengan “ngaji kuping”. Dalam metode ini, masyarakat hanya mendengarkan wasiat-wasiat dari Kiai. Metode ini, kalau kita lihat sekarang masih berlaku di banyaj masjlis-majlis ta’lim, tabligh akbar dan ceramah-ceramah agama. Terakhir, objek pengajaran agama Ki Qomar juga para kiai muda, sebaya bahkan lebih tua. Kepada mereka digunakan metode diskusi, tukar informasi masalah-masalah agama, sosial kemasyarakatan dan ilmu pengetahuan.

Khusus untuk para jawara dan kiai pengajian diadakan pada hari Sabtu sampai malam minggu. Malam minggu dengan materi khusus ilmu kanuragan, mencakup ilmu batin bagi beberapa orang yang dianggap layak.

Jadi, Ki Qomar dalam menyampaikan ajaran agama tidak hanya lewat pengajaran di majlis-majlis, namun juga melalui seni beladiri atau kanuragan bahkan ilmu batin atau tasawuf. [ayatbanten publishing]

Jumat, 31 Desember 2010

MUI Kota Cilegon Sosialisasikan Mushaf Al-Bantani & Kalender Hijriyah

Jumat, 31 Desember 2010

06:43

“Ada seorang perempuan tua, pedagang pecel keliling. Di tengah dia menjajakan dagangannya dia kebelet buang hajat. Saking tak tahannya, dia membuang hajat sembarangan dan memilih tempat di bawah papan pengumuman bertuliskan “DILARANG BUANG AIR BESAR DI SINI”. Dia langsung ditegur oleh petugas yang melihatnya, “NEK APA NENEK GAK BISA BACA?”, “BISA”, jawab nenek itu. “COBA!”, cecar petugas. Lalu si nenek membaca dengan sangat fasih pengumuman itu. “KENAPA NENEK MASIH BUANG AIR BESAR DI SINI”, tanya petugas. “SAYA TIDAK MEMBUANG AIR SINI, APALAGI SAMPAI SATU EMBER, SAYA CUMA MAU BUANG HAJAT”, nenek membantah. Petugas langsung mengerti apa yang sedang terjadi dan tersenyum sambil menjelaskan maksud pengumuman tersebut, “NEK, YANG DIMAKSUD DENGAN “BUANG AIR BESAR ITU ADALAH BERAK, ATAU BUANG HAJAT, JADI NENEK JANGAN BERAK DI SINI.”

“Begitu perumpamaan orang yang tidak memahami al-qur’an”, hal ini sampaikan oleh Ketua MUI (Majlis Ulama Indonesia) Kota Cilegon, dalam acara Gema Muharram keliling di Mesjid Husnul Huda Link. Karangtengah, Desa Pabean, Kec. Purwakarta Kota Cilegon, malam Jum’at, 30/12.


Dalam acara ini MUI Kota Cilegon memberikan 2 buah al-Qur’an Al-Bantani yang sudah di revisi, karena sebelum mengalami sedikit kesalahan. Selain penyerahan al-Qur’an Al-Bantani juga diserahkan Kalender Hijriyah. Keduanya, dikatakan oleh MUI Kota Cilegon, amat dari Ibu Gubernur Banten, Atut Chosiyah.

Menurut Udi, kalender hijriyah hampir tidak dikenal oleh umat Islam sendiri, terutama generasi muda. Diterbitkannya kalender hijriyah ini adalah sebagai usaha sosialisasi tahun hijriyah kepada masyarakat yang cendrung lebih mengenal tahun masehi. Hal ini, selain disebabkan oleh nasionalisasi tahun masehi , juga disebabkan kesadaran umat Islam yang pudar. “saya himbau kepada para pemuda, jangan merayakan tahun baru dengan berlebihan, apalagi sampai pesta-pesta di pantai, ugal-ugalan dsb.”, pungkasnya.

“Selain amanat mushaf Al-Bantani dan kelendar hijriyah beliau (gubernur Banten -red) juga menghimbau agar masyarakat mengutamakan kebersamaan, kekompakan agar tercipta masyarakat yang kuat”, kata Udi.[ayatbanten].

Kamis, 30 Desember 2010

Kiai Qomarudin Menghancurkan “Gegubugan” Yang Dibuat Penggali Kubur

By: Ayatulloh Marsai

Supaya tidak salah paham, saya akan menjelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan istilah gegubugan. Kata dasarnya adalah “gubug”, yang punya arti rumah atau pondok atau yang mirip dengannya. Sementara “ge” dan “an” adalah kata imbuhan awalan dan akhiran untuk menunjukan bahwa rumah atau mirip dengannya itu adalah rumah mainan. Atau dalam istilah sekarang, miniature, tapi dalam bentuk yang sederhana.

Mudah-mudahan dengan penjelasan di atas gambaran tentang adat membuat “gegubugan” bagi penggali kubur yang punya istri sedang hamil, bisa dipahami dengan benar.

Kebiasaan ini adalah warisan nenek moyang kita, orang Banten, khususnya kampung Karangtengah, Cilegon. Dan, tetap berlangsung sampai Islam menjadi agama kita. Fenomena ini umum terjadi pada tradisi-tradisi yang lain di pulau Jawa.

Membuat gegubugan dilakukan khusus oleh orang yang istrinya sedang hamil. Gubug ini dibangun di sisi-sisi dekat kuburan, setiap orang yang istrinya sedang hamil membuat satu gubug. Posisinya berjejer satu sama lainnya. “Ritual” ini dipercaya bisa menyelamatkan cabang bayi yang ada dalam kandungan dari malapetaka cacat atau kelainan.

Karena unsur niat melakukan ritual itu berisi kemusyrikan, menyandarkan maslahat dan midarat kepada selain Allah, maka gubug-gubug itu dihancurkan oleh Kiai Qomar. Tentu saja sembari memberi penjelasan kepada umat, dimana letak kemusyrikan membuat gegubugan tersebut.

Banyak lagi praktek kemusyrikan yang dihancurkan oleh Kiai Qomar di Kampung Karangtengah dan sekitarnya. Misalnya, mengarak seekor kucing untuk meminta hujan; memasang Sapu Lidi terbalik, untuk menangkal hujan; menyajikan makanan untuk orang yang sudah meninggal pada malam Jum’at; dan kemusyrikan-kemusyrikan yang lain.
Kiai Qomarudin adalah tokoh Islamisasi di Cilegon bagian utara. Murid-muridnya tersebar di Banten, Lampung, Palembang, dan Jakarta. Mereka memegang peranan penting dalam bidang pendidikan, sosial-kemasyarakatan dan pemerintahan di tempatnya masing-masing.

[Dari Penuturan Purta Kiai Qomarudin, KH. Hasbullah Qomar]


Cilegon
Jumat, 24 Desember 2010/12:32

Rabu, 22 Desember 2010

Meratapi Kehancuran Istana Surosowan

Rabu, 01 Desember 2010
01:21

Oleh Ayatulloh Marsai
Entah ini yang keberapa kali saya datang ke Banten Lama. Apalagi kalau dihitung dari masa kecil. Karena orang-orang di kampong saya, termasuk keluarga saya, hampir menjadikan ziarah ke Banten sebagai agenda tahunan pasca lebaran. Ditambah dengan kalau ada keluarga yang mau menunaikan ibadah haji, pasti ziarah ke Banten dulu. Agenda seperti ini menjadi kebiasaan yang tidak hanya berlaku di kampong saya, tetapi sudah menjadi kebiasaan masyarakat Banten pada umumnya.

Jadi, kalau kita bertanya kepada orang Banten secara acak, “sudah pernahkah ke Banten Lama untuk berziarah?”. Mudah ditebak, jawabannya pasti sudah pernah. Kalau ada yang jawab, belum pernah, kebantenannya patut dipertanykan.

Tetapi, dari sekian pengunjung yang datang, khususnya orang Banten sendiri, berapa persen yang mau tahu dengan aspek yang lain selain ziarah. Kita tahu bahwa Banten Lama yang sering kita datangi dulunya adalah Kerajaan Islam Banten. Terus, berapa persen pengunjung yang mau tahu dengan gambaran utuh Kerajaan Islam Banten itu, minimal dari jejak yang bisa kita saksikan. Sedikit.

Peziarah adalah potensi besar. Untuk kepentingan sosialisasi dan penyadaran sejarah cukup signifikan. Sudahkah pemerintah berusaha sampai kearah sana?

Sebab, dari rute tempat yang mereka kunjungi, sedikit sekali yang tertarik untuk datang ke Museum, Kraton Surosowan, Kaibon, Jembatan Rante dan bentengnya Belanda, Speelwizk. Ini sekaligus menunjukan corak kesadaran sejarah di Banten cendrung bercorak mistik atau tarekat.

Ketika saya baru konsentrasi di sejarah Islam, saya duduk seharian di bawah pohon yang terlatak di tengah bongkaran Istana Surosowan. Tidak saya sadari saya menagis ketika membayangkan bagaimana Surosowan dihancurkan oleh Belanda. Saya bertanya dalam hati kenapa Belanda melakukan ini semua? Kenapa hanya Banten, lainnya tidak? Saya pernah ke Cirobon, istanya masih utuh. Di Yogyakarta, Surakarta dan sebagainya.

Tetapi, diam-diam saya bangga terhadap kerjaan Islam Banten dengan kehancurannya. Tersirat makna bahwa pendahulu kita, para sultan, para pejuang yang lain, melakukan perlawanan sampai titik darah terakhir. Hal yang mungkin tidak terjadi di daerah-daerah lain yang istananya masih utuh sampai sekarang. Mungkin hasil dari kompromi.
Pertanyaannya, kenapa Belanda menghancurkan Surosowan? Dan kenapa juga Speelwizk hancur? Kenapa di kraton kerajaan Islam lain masih utuh? Ada apa dengan Kerajaan Islam Banten? Saya harus mencari tahu jawabannya.[?]

Murid Istimewa Saya

06:41
Masih momentum kemarin. Saya menyemangati satu siswa lagi, namanya Umi. Saya lihat dia punya buku harian. Saya selalu mengistimewakan siapa saja yang punya buku harian, kemudian mendorongnya untuk terus menulis rutin setiap hari. Apapun isinya. Mulai dari percintaan, perseteruan, problematika persahabatan dan keluarga, bahkan perenungan jati diri bisa kita temukan dalam buku harian. Dan tidak ketinggalan perkembangan pemikiran. Proses pemebentukan jati diri [pencarian] akan bisa lihat dan ikuti dengan mendetail. Ini sejarah.

Guru saya bilang, Amaludin Muslim, dalam satu kesempatan di status FB-nya: Sejarah adalah apa yang dituliskan, bukan apa yang terjadi. Artinya, seberapa banyak peristiwa dalam hidup ini, pribadi maupun sosial, terencana ataupun tidak, tidak akan bisa diketahui secara benar, tanpa dituliskan. Jadi dengan alasan sederhana ini saya selalu memandang mereka istimewa, dan masih banyak alasan yang lain. Antaranya, saya tidak bisa melakukan ‘tradisi nulis’ ini sejak dini. Saya mendendam dengan kondisi ini, makanya mereka harus memulainya dari sekarang: sedini mungkin. []

Sang Pencerah itu Jiwa Zaman, di Kampung Saya Ada

Oleh Ayatulloh Marsai

Dari ujung mataku, kulihat kebingungan di wajah para remaja itu. “Kenapa main musik londo, Kiai?” tanya Jazuli. “Memangnya kenapa?” Aku balik bertanya. Mereka tampak semakin bingung, “Bukannya alat musik itu bikinan orang kafir?” sanggah Daniel. “Orangnya yang kafir, alat musiknya tidak ada yang muslim atau yang kafir,” jawabku sambil kembali menggesek biola perlahan-lahan. [bisa dilihat di cover belakang “Sang Pencerah”]

Paragraph di atas adalah penggalan cerita dari novel “Sang Pencerah”, karya Akmal Nasery Basral. Isinya jelas, mendobrak pemahaman awam tentang alat2 yang diproduksi barat [kafir] yang dianggap ‘haram’. Ahmad Dahlan justru memakai alat music Biola, bikinan Eropa. Tindakan ini jelas sebagai jawaban bahwa tidak haram hukumnya memakai produksi-produksi orang kafir, selagi itu bermanfaat untuk kepentingan umat manusia.

Hal Biola, urusannya bukan hanya alat, tetapi ini juga berkaitan dengan music yang juga menjadi masalah hilafiyah dalam ajaran fiqih. Jadi, tindakan Ahmad Dahlan sekaligus menjawab dua masalah sekaligus: masalah alat-alat yang diproduksi kafir dan musik. Dua-duanya diperbolehkan oleh Kiai Ahmad Dahlan. *

Saya jadi ingat cerita Kiai saya, KH. Hasbullah Qomar, bahwa ayahnya, Kiai Qomaruddin juga mengalamai hal yang sama secara umum. Tapi, kali ini alatnya adalah spiker [alat pengeras suara]. Konon, dulu dilingkungan saya [Kecamatan Purwakarta sekarang], ada perbedaan pendapat tentang pemakaian pengeras suara ini: ada kiai yang melarang dan ada yang membolehkan. Kiai yang melarang beralasan sama dengan kasus Ahmad Dahlan di atas, spiker adalah alat yang diproduksi oleh orang kafir, jadi hukumnya haram. Dalilnya, antara lain, ‘tidak ada dalam tuntunan Rasulullah’. Satu lagi, pengeras suara juga biasa digunakan untuk hal yang maksiat, daripada maslahat.

Sementara kiai yang membolehkan, Kiai Qomarudin, beralasan bahwa pengeras suara jelas sangat bermanfaat untuk menyambung suara supaya suara dakwah [urusan ibadah] bisa didengar oleh banyak orang secara efektif.

Perdebatan tidak bisa dielakkan, masing-masing teguh dengan pendapatnya, masing-masing punya pengikut, hingga masyarakat pun terpecah dalam sekte-sekte. Walaupun di masyarakat adanya sekte itu tidak terlalu tegas adanya.

Alhamdulillah, kiai yang tidak sepakat dengan spiker tadi kuasa melaksanakan rukun Islam ke-5, haji. Di sana rupanya dia mengalami hal yang selama ini di kampungnya dia tentang. Di Mekah, spiker dipakai untuk segala aktifitas haji, mulai azan, solat, hutbah, hingga pengumuman-pengumuman. Kiai itu tersentak kaget, dan tersadar bahwa memang spiker sangat bermanfaat untuk fasilitas ibadah kepada Allah swt. **

Dari dua kasus diatas, di dua daerah yang berbeda, terdapat persamaan fenomena yang orang menyebutnya ‘semangat pembaharuan’. Jiwa zaman yang sama, antara Yogyakarta dengan Banten, “jiwa pembaharuan” Islam, yang mengalir dari Jamaludin Al-Afghani dan Muhammad Abduh, baik langsung maupun tidak langsung. Tetapi jelas, wasilah-nya ibadah haji. Karena dulu, ibadah haji tidak sekedar haji, tetapi dibarengi dengan menuntut ilmu kepada ulama-ulama besar seluruh penjuru dunia, rata-rata sampai 5 tahun. Dari sinilah perubahan pemahaman agama serta gerakan sosial di Nusantara bermula. Perubahan dan Gerakan itu sampai juga di kampung saya, lewat tangan Kiai Qomarudin. Wallahu ‘alam. []

Selasa, 14 Desember 2010

Berhaji, Harus Mabrur

Sabtu, 11 Desember 2010

Oleh Ayatulloh Marsai

Berkesempatan pergi haji memang harus disyukuri. Sebab, setelah saya membaca “Sang Pencerah”, ternyata pergi haji, dari dulu sampai sekarang adalah satu pekerjaan yang sulit. Tidak hanya butuh kemampuan individu dalam masalah finansial, tapi juga berkaitan dengan administrasi. Dulu, berangkat haji dipersulit oleh kolonial Belanda. Sekarang, sulit karena tidak serta merta dengan adanya uang, calon jama’ah bisa berangkat ke Tanah Suci.

Bayangkan saja, pada jaman penjajah Belanda, orang yang pergi haji harus tercatat dalam catatan penjajah Belanda, berangkat dengan memakai kereta dengan gerbong khusus no.2, dan nanti pulang-pulang harus mengikuti tes kelulusan ibadah haji oleh pemerintah. Yang terakhir ini lucu, keabsahan haji seseorang ditentukan oleh kolonial Belanda. Yang lulus tes berhak memakai atribut pakaian haji, sebaliknya yang tidak lulus dilarang memakai atribut haji dalam bentuk apapun.

Penerapan sistem tersebut di atas menimbulkan beberapa kesan. Antara lain klasifikasi sosial, dan identifikasi (sensus) para haji Indonesia, agar semua haji Indonesia tercatat dalam buku kolonial Belanda. Apa tujuan Belanda melakukan ini?
Agar para haji tercatat dalam “kamus haji Indonesia” tahunan, kemudian mengawasi gerak-gerik para haji yang biasanya bikin ulah (memberontak) terhadap pemerintahan penjajah. Anggapan ini kemudian dikuatkan oleh Snouck Horgronje dalam penelitiannya di Mekkah. Dan, akhirnya ibadah haji adalah ibadah yang dilarang oleh protestan Belanda. Tidak hanya itu, akhirnya semua kegiatan agama Islam diawasi, sampai-sampai menerjemahkan al-qur’an juga dilarang. Karena, Belanda sadar betul bahwa ketika Islam dimengerti oleh penganutnya maka akan melahirkan perlawanan keras terhadap usaha penjajahan mereka.

Jadi, sekarang yang berhaji harus bersyukur dengan cara mabrur. Karena kesempatan berhaji, baik dulu maupun sekarang tidak mudah. Cara bersyukur paling bijak adalah dengan cara “memabrurkan” hajinya. Kenapa “memabrurkan”, bukan “mabrur” saja? Ya, “kemabruran” seorang haji tidak terjadi dengan sendirinya, namun harus diupayakan oleh yang bersangkutan. Ada tidak kemauan untuk “merubah” dirinya lebih baik dari sebelumnya. Kalau ada, berarti dia harus terus berupaya (pasca haji sampai mati) untuk menyempurnakan pengamalan ibadahnya, baik berkaitan dengan Allah SWT. maupun berkenaan dengan manusia serta mahkluk lainnya. Butuh konsistensi untuk meraih tingkatan haji mabrur ini. Sebab, mabrur bukan harga mati yang bisa diraih berbarengan dengan selesainya ibadah haji. Bukan! Melainkan proses yang terus-menerus “menjadi”, sampai mati.

Biasanya, perubahan orang yang baru pergi haji ini sangat signifikan. Dalam segala hal, mereka berubah. Terutama cara dan dialek bahasanya. [wallahu ‘alam]

Sabtu, 11 Desember 2010

AMNESIA SEJARAH*

Oleh Ayatulloh Marsai

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya”. (Bung Karno).


Kata-kata bijak di atas mengandaikan bangsa kita untuk mengenal sejarah bangsanya secara utuh, bukan sempalan-sempalan. Karena bangsa kita terdiri dari daerah-daerah, suku bangsa, maka dalam mengenalkan sejarah nasional terhadap generasi muda hendaknya tidak mengurangi dan juga tidak melebihkan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain.

Dalam buku pelajaran Sejarah tingkat SLTA misalnya, sejumlah pahlawan Banten seperti, Ki Wasyid, Ki Sam’un, Syafrudin Prawiranegara, tidak mendapatkan tempat yang sama dengan pahlawan-pahlawan nasional dari Jawa pada umumnya. Seperti, Pangeran Diponegoro, Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari.

Jangan anggap porsi penyajian sejarah yang berbeda ini masalah sepele. Karena perbedaan porsi penyajian akan menentukan “brain” anak didik, juga karakter generasi kita sebagai pemegang kendali masa depan. dalam pentas politik nasional, seolah-olah Banten daerah yang kecil peranannya dalam perjuangan nasional. Hingga nantinya tidak layak menjadi pemimpin nasional. Seperti yang pernah menimpa calon presiden, Yusuf Kalla. Dia, karena dari Sulawesi, dianggap belum saatnya menjadi orang nomor satu di Indonesia. Ironisnya, pernyataan itu keluar dari orang Sulawesi sendiri, Andi A Mallarangeng (Kemenpora sekarang).

Sementara, orang Jawa, dengan keberhasilannya menghargai sejarahnya, membesarkan para pahlawannya, selalu layak menjadi presiden Indonesia. Hitung saja dari 6 Presiden RI, 5 dari mereka adalah orang Jawa. Sebabnya, karena mereka menghargai sejarah dan para pahlawannya. Bentuk penghargaan itu paling tidak mereka tunjukan lewat perawatan secara fisik terhadap peninggalan-peninggalan sejarah dan propaganda pemikiran lewat karya-karya penelitian yang diterbitkan oleh penerbit besar atau pun kecil di daerah.

Agaknya kita harus banyak belajar dari orang Jawa, dalam hal menghargai sejarah kita. Banten punya Istana Surosowan, Kaibon, Masjid Agung Banten dan peninggalan sejarah yang melimpah. nasibnya, nyaris terlupakan dari hingar bingar pembangunan di Provinsi Banten. Baik secara fisik maupun pengembangan penelitian oleh para akademisi.

Banten punya peristiwa-peristiwa heroik. Semangat perlawanan Ki Wasyid melawan Belanda tidak kalah penting dengan perlawanan Pangeran Diponogoro; peranan Kiai Syam’un tidak kalah penting dengan Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari dalam memajukan pendidikan di Indonesia; dan yang menyambung nyawa NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) ketika Soekarno dan Hatta dipenjara oleh Belanda, adalah Syafrudin Prawiranegara (Wong Banten). Dialah yang memproklamasikan PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) untuk kemudian diserahkan kembali sesudah Seokarno-Hatta dibebaskan. Sungguh perjuangan yang luar biasa.

Untuk menghadirkan peranan Banten dalam sejarah perjuangan dan kemerdekaan Indonsia, pemerintah daerah berkewajiban menekan, mengawasi atau memberikan muatan sejarah lokal Banten di sekolah-sekolah. Dari SD-SLTA.

Sebab, salah satu tujuan pembelajaran sejarah adalah untuk menanamkan identitas diri daerah atau bangsa kepada generasi muda. Ini sangat penting. Dan tujuan ini bisa efektif dilakukan lewat pelajaran-pelajaran yang disajikan di sekolah.

Nah, kalau ternyata di buku pelajaran sejarah ada dominasi pahlawan dari daerah lain, sementara pahlawan daerah sendiri tidak mendapatkan pembahasan yang berimbang, maka saya rasa perlu ada langka khusus dari pemerintah daerah untuk memberikan ruang penuh atas sejarah lokal di sekolah. Ini hal mendesak yang harus diagendakan baik oleh Provinsi Banten maupun oleh kabupaten/kotanya.

Karena kalau tidak segera diagendakan maka generasi kita tidak akan mengenal sejarahnya, apalagi identitas bangsanya. Bangsa yang tidak mengenal identitas bangsanya maka akan mudah “ngebuntut” kepada keinginan-keinginan bangsa luar. Karena bangsa yang lupa identitas dirinya tidak lebih seperti orang yang terkena penyakit “amnesia”. Yang namanya amnesia, ditanya nama, alamat, orang tua, dan identitas yang lain pasti bingung. Lebih lanjut, orang amnesia, diberi identitas baru, nama baru, orang tua baru dan juga alamat baru, sangat mudah.

Orang amnesia adalah gambaran utuh sebuah daerah atau bangsa yang lupa atau tidak tahu sejarah bangsanya (identitas diri). Dan sekaligus bangsa yang gampang diarahkan oleh bangsa lain dalam segala bidang pembangunan.

Lihat saja, kecendrungan masyarakat kita terhadap segala sesuatu yang datang dari luar negeri. Mereka bangga. Pakaian impor, makanan-minuman merek luar hingga gaya hidup. Sementara kekayaan pakaian khas daerah hanya ada di acara seremoni, makanan daerah hanya ada di warung yang digagas pemerintah, dan gaya hidup berpedoman pada acara TV yang kapitalis.

Dalam kasus nasional, kita patut bersyukur, gara-gara klaim Malaisya atas salah satu kebudayaan Indonesia (reog dan tari pendet), negara kita terbangun dari mimpi buruk mengejar kemoderenan buta. Negara Indonesia sadar bahwa dirinya kaya, dirinya punya identitas sendiri. Dan sekarang identitas itu mau diakuisi oleh sudara serumpunnya.

Indonesia tergugah, dan segera mengambil dan merawat kekayaan budaya yang selama ini ditelantarkan. Mempromosikannya ke mancanegara sebagai kekayaan khas Indoensia yang sudah dipatenkan. Antara lain: batik, dan angklung.

Belajar dari kasus nasional, dimana yang berseteru dalam kasus ini antar negara, maka daerah juga harus rajin menggali kekayaan budaya daerahnya. Dan juga menanamkan kesadaran budaya itu kepada generasi muda. Antara lain lewat muatan lokal di sekolah. Kekayaan daerah secara otomatis menjadi kekayaan nasional. Jadi, ketika daerah banyak mengukuhkan budaya daerahnya dengan sendirinya negara juga akan kaya dengan budaya bangsanya. Dengan kata lain jika pengembangan sejarah lokal dan tradisi lokal dilakukan di daerah maka penyakit “amnesia” tidak akan pernah menjangkiti generasi kita secara lokal maupun nasional, juga Indonesia akan memiliki jati diri bangsa yang kokoh.

Di akhir tulisan ini, lagi-lagi Bung Karno, memberikan pelajaran berharga kepada kita dengan slogan “Jas Merah”, jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Wa Allahu ‘alam.

*)Tulisan ini dimuat di Banten Raya Post, Kolom Gagasan, 20 Desember 2010

Kamis, 09 Desember 2010

Tahun Baru Vs tahun baru

Oleh Ayatulloh Marsai*

Seorang penceramah di radio lokal mengelu-elukan tahun baru hijriyah yang cendrung sepi bila dibandingkan dengan tahun baru masehi. Kiai itu bilang, “pemuda-pemudi biasanya ramai pergi ke pantai untuk menyaksikan dan merayakan pergantian tahun masehi. Tetapi, di tahun baru hijriyah tidak ada yang merayakannya”.

Dari perkataannya, apakah ada keinginan dari penceramah itu tahun hijriyah dirayakan sama halnya dengan merayakan tahun masehi. Tentu saja tidak. Sebaliknya, doktrin Islam mengajarkan kehidmatan dalam melalui pergantian tahun ini. Bahkan, Nabi menganjurkan untuk melakukan puasa pada dua hari berturut-turut, yakni hari terakhir tahun dan hari awal tahun.

Yang menjadi keluhan penceramah di atas adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap titik awal dan titik akhir tahun hijriyah. Mereka menyandarkannya lebih pada perhitungan tahun masehi daripada tahun hijriyah. Tahun baru masehi lebih popular darpada tahun hijriyah.

Paling tidak ada dua faktor yang menjadikan tahun baru masehi lebih popular dibanding dengan hijriyah.

Pertama, faktor nasionalisasi tahun masehi. Negara memakai penanggalan masehi sebagai penanggalan nasional. Sementara penanggalan hijriyah hanya berlaku untuk interen umat Islam. Artinya, segala aspek kerja nasional dihitung dengan penanggalan masehi. Putaran tahun dihitung dari Januari sampai Desember. Bukan dari Muharram sampai Dzulhijjah. Putaran satu pekan dihitung dari hari Senin sampai Minggu, bukan dari Ahad sampai hari Sabtu. Konsekwensinya, hari libur dalam sepekan juga dijatuhkan pada hari Minggu, bukan hari Jum’at. Akhirnya, kita umat muslim juga kerepotan untuk “memuliakan” hari Jum’at sebagai “sayidul ayyam” bagi kita.
Memang, negara pada sisi yang lain, menjadikan hari-hari besar agama menurut penanggalannya masing-masing, sebagai hari libur nasional. Termasuk didalamnya hari-hari besar Islam yang dilandaskan pada perhitungan hijriyah.

Tetapi, sadarkah kita, penanggalan mana yang seharusnya “dinasionalisasi” jika kita melihat fakta 90 persen penduduk Indonesia adalah muslim? Dan, penanggalan mana yang seharusnya menjadi “tuan rumah”, jika kita melihat sejarah panjang penjajahan atas bumi Nusantara ini. Siapa yang menjajah? Dan, siapa yang berjuang melawannya? Citra kebudayaan Islam tertindas dalam kemayoritasannya, menjadi tamu di negara yang diperjuangkan oleh para kiai dan santri!

Kedua, media massa. Media massa, terutama televisi, sangat besar pengaruhnya dalam mempopulerkan segala hal, termasuk Tahun Baru Masehi yang biasa diucapkan satu paket dengan Hari Natal, “Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2011”, misalnya. Iklan layanan sosial, sponsorsip industri besar, yang mengucapkan hari natal dan tahun baru masehi ini biasanya sudah mulai marak ketika memasuki pertengahan bulan Desember. Sehingga, perayaan tahun baru masehi menjadi “perilaku massif” di semua kalangan, tidak hanya pemuda-pemudi (yang disebukan penceramah di atas), anak-anak dan orang tua juga merayakannya.

Sebaliknya, coba perhatikan televisi di rumah Anda, apakah hal yang sama terjadi di Tahun Baru Hijriyah? Tentu, tidak. Kalau pun ada ucapan selamat itu dari ormas Islam atau pemerintah, pada hari H-nya saja. Hari H lewat, selesai. Sebab, budaya Islam kalah popular dibanding budaya masehi. Juga sudah menjadi “budaya pesakitan” di kalangan umat muslim sendiri. Tidak hanya berkaitan dengan budaya penanggalan saja tetapi juga pada aspek-aspek kehidupan yang lain. Seperti, berpakaian, gaya hidup, pandangan hidup, akhlak keseharian, dll. Kalau asepk-aspek wajib saja tidak terpenuhi, apalagi mau repot-repot merayakan Tahun Baru Hijriyah yang hanya refleksi budaya semata.

Sebetulnya, media massa tidak lepas fungsinya sebagai media. Media siapa saja untuk masuk ke dalamnya sebagai subyek yang berkepentingan tampil di depan massa (masyarakat jangkaun teve tersebut). Kepentingan televisi sebagai perusahaan adalah profit. Artinya, siapapun yang tampil harus mendatangkan profit sebesar mungkin kepada perusahaan, terlepas datangnya dari subyek yang berkepentingan tampil atau dari sponsor. Sponsor berkepentingan terhadap “rating”. Tayangan mana yang menyedot perhatian masyarakat, tayangan itulah yang mendapat sponsor paling banyak. Dan, seperti disebutkan di atas, televisi mengejar profit, maka televisi memilih tampilan yang banyak sponsornya. Sponsor memilih tayangan yang banyak penontonnya.
Salah satu doktrin Islam yang berhasil merubah wajah televisi di Indonesia adalah Puasa pada Bulan Ramadhan. Aroma Ramadhan sudah tercium harum jauh-jauh hari sebelum Bulan Ramadhan tiba. Ucapan, “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa”, bisa kita temukan setiap saat di sembarang stasiun televisi. Hampir semua produk merubah tayangan iklannya menjadi “beraroma” Ramadhan dan Lebaran. Tidak terlewatkan, produk-produk itu membidik waktu Sahur dan Berbuka Puasa: “Selamat Menikmati Makan Sahur Anda” dan “Selamat Berbuka Puasa”. Tidak berhenti sampai disitu, sinetron-sinetron mendadak bernuansa religious (islami).

Dapat disimpulkan, bahwa ketaatan umat Islam Indonesia terhadap Ibadah Ramadhan cukup kuat. Atau, Ibadah Ramadhan dan Lebaran sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Hingga mampu “menyulap” wajah tayangan televisi Indonesia pada sekitar bulan Ramadhan.

Kalau benar demikian, menjadikan Tahun Baru Hijriyah sebagai kesadaran umat Islam yang massif harus menjadi agenda serius bagi kita. Terutama bagi ormas-ormas Islam, partai-partai Islam atau juga politisi muslim yang ada di partai nasional, cendikiawan muslim, lembaga pendidikan Islam dan organisasi-organisasi pelajar/mahasiswa Islam. Supaya, Tahun Baru Hijriyah layaknya Ramadhan, menjadi tradisi yang meng-indonesia. Lebih lanjut, menjadi Tahun Baru-nya Indonesia. Selamat Tahun Baru 1432 [*]

*)Penulis adalah Pengajar Sejarah Kebudayaan Islam di Perguruan Islam Al-Khairiyah Karangtengah. Tinggal di Link. Dukumalang, RT/RW 08/04 Tegal Bunder-Purwakarta Kota Cilegon.

Rabu, 01 Desember 2010

Produksi Kata

Oleh Ayatulloh Marsai

Saya seolah keranjingan, seolah gila, karena kemana-mana saya selalu menenteng note book saya. Beda, dibanding sebelumnya. Beda dengan kebanyakan orang lainnya. Aneh. Gila.

Dibenakku berseliweran kata. Setiap masalah ingin sekali saya terjemahkan dalam bentuk kata-kata. Sehingga kata yang berseliweran di benak bukan hanya kata-kata yang akan hilang tanpa bekas dan kenangan.

Ingin rasanya aku pindahkan dunia kedalam kata-kata. Agar dunia bisa manfaat karena orang semua paham bahasa dunia dengan kata. Hingga ketika dunia mengingatkan, manusia mendengar. Tidak hanya mendengar, tapi juga merubah dirinya menghampiri kemaslahatan.[!]

Rabu, 24 November 2010

Orang-orang Kalah

Selasa, 23 Nopember 2010

Oleh Ayatullah Marsai

Bisik-bisik di lorong gelap. Gelap sekali, hingga suara itu sudah pelan tak terdengar gaungnya. Orang-orang kampung sekarang hanya boleh berbisik, tidak boleh bersuara. Apapun yang mereka lihat, rasakan dan dengar. Dengar dengan telinga atau dengan hati suara yang datang dari situ-situ juga.

Sejak saat pemuda pemberani berani bersuara lantang itu. Suara lantangnya berakibat fatal, dia diseret ke lingkaran setan, tak bisa keluar lagi. Sampai mati. Setelah mati bergentayangan, dimanapun dia kehendaki. Di kantor, di gudang, di dapur, di mana-mana, hingga di secretariat-sekretariat organisasi kepemudaan. Kasihan, dia mati dilingkar kenistaan, lingkaran setan.

Sejak saat itu tidak ada lagi orang yang berani bersuara agak lantang sekalipun, apalagi lantang beneran. Berbisik, berbisik, terus berbisik. Walau tak merubah keadaan. Berbisik dimana-mana. Di pinggir comberan, kubangan jalan, bekas gusuran, tanah yang ditelantarkan, disisi bongkahan kayu yang berjamur, berserakan. Petani berbisik, pupuk langka, impor beras, bantuan traktor tak merata, penyulunya seperti pilot, pemberdayaan yang mempedaya. Harga pupuk selangit, hasil bumi tetap di bumi terkula-I lumpur.

Pedagang kaki lima tetap tak bisa terbang. Mesti 5, itu tetap kaki. Sampai kapanpun gak bisa jadi sayap yang bisa membawanya terbang. Ironisnya, kaki lima juga gak bisa loncat, karena lima bilangan ganjil. Gak bisa meloncat pindahkan nasib menjadi lebih baik.

Bila pol-PP datang, tak bisa merayap sampai keburu ditendang. Bukan hanya orangnya, dagangannya sasaran utama. Seolah barang dagangan yang harus diperbaiki, padahal nasib pedagangnya yang harus diangkat. Beda dengan yang jelas-jelas dagangannya “haram”, aman-aman saja, karena mereka ada di bar, hotel, tempat hiburan, dibawah gemerlap bintang buatan manusia. Aman, asal tempatnya nyaman.

Jangan sekali-kali dagang al-quran di pinggir jalan, kalau tidak ingin al-quran ditendang. Jual-lah miras, narkoba, dan jangan ketinggalan pelacur dengan seperangkat alat kontrasepsi, di gedung yang mewah, dijamin aman.[ayatbanten]

Isi Piring dan Bumi

Oleh Ayatullah Marsai

Ketika saya makan [dari pagi sampai malam], sajian di piring saya nasi, lauk dan mungkin sayur. Saya jadi ingat bumi kita yang terdiri dari daratan, dan lautan. Nasi di piring tadi kita dapatkan dari padi. Lauk, bisa dari daratan juga lautan, begitu juga sayuran.

Pola makan kita masih sangat tergantung sama daratan. Sesuai dengan porsi nasi lebih banyak dari lauk dan sayurnya. Artinya, hidup kita juga masih sangat tergantung pada daratan. Mentalnya, juga tidak ketinggalan sangat tergantung pada daratan.

Bertolak belakang dengan kondisi obyektif bahwa daratan itu jauh lebih sempit ketimbang lautan. Dari kondisi obyektif ini, seharusnya mulai berfikir kreatif, belajar melepas ketergantungan kita dari daratan. Dan, mulai melirik laut sebagai potensi besar untuk masa depan umat manusia.[ayatbanten]

Selasa, 23 November 2010

Tangisan dan Senyuman Alam Bawah Sadar

Awalnya banyak siswa menganggap ini sebagai permainan yang patut ditertawakan. Karena bagi mereka ini mungkin sangat sepele. Diawali dengan membaca bismillah dalam hati, sambil disuruh merasakan aliran udara sekitar, energy bismillah yang datang. Kemudian, siswa disuruh menyedot nafas lewat hidung dan dikeluarkan melalui mulut secara berlahan-lahan. Sangat sederhana.

Siapa nyana proses yang sederhana ini kemudian bisa membuat semua siswa tertidur pulas. Tidak hanya itu, dalam tidur mereka dibuat menangis tersedu-sedu lantaran dibawa oleh “intruksi” yang mengandaikan keadaan kedua orang tua mereka dalam keadaan sakit parah. Saking parahnya sampai harus dibawa ke rumah sakit. Sementara disisi lain mereka harus sekolah, dengan sungguh-sungguh untuk tidak menjadikan sia-sia orang tuanya. Sampai disini, mereka semakin keras menangisi kondisi ini.

Sampai akhirnya, berkat perawatan yang intensif, orang tua mereka sembuh dan bisa pulang ke rumah. Untuk merayakan kesembuhan itu, mereka sekeluarga pergi ke pantai. Di pantai mereka bergembira, bercanda, bergurau, main air dan saling berbagi cerita kegembiraan.

Akhirnya, dengan heppy ending ini mereka dibangunkan dari keadaan alam bawah sadar ke alam nyata. Sekian.

Senin, 22 November 2010

Potret Semu Penerimaan CPNS

19/11/2010 23:09
Oleh Ayatulloh Marsai
[Tulisan ini dimuat di Kolom Gagasan Banten Raya Post, Jum'at 26 November 2010]

Kebenaran dalam ilmu pengetahuan biasanya baru bisa dicapai setelah melalui pembuktian secara objektif. Objektifitas ini hanya dimiliki oleh ilmu penegtahuan rumpun eksak saja, yang objeknya berupa benda atau alam. Sementara bagaimana dengan ilmu social, yang objeknya adalah manusia itu sendiri?

Sartono Kartodirjo, mempunyai rumusan bahwa kebenaran dalam ilmu sosial bisa dilandaskan kepada pembuktian intersubyektif. Pembuktian intersubyektif adalah kebenaran yang dakui, disepakati, oleh subyek –subyek hingga menjadi kebenaran yang diakui secara kolektif. Subyek-subyek itu (manusia atau masyarakat umum) kemudian oleh Sartono disebut sebagai pembuktian intersubyektif. Setara dengan obyektif dalam ilmu eksak. Maka kebenaran dalam ruang lingkup ilmu sosial bisa dicapai dengan cara pembuktian intersubyektif ini.

Penulis ingin menggunakan lensa kebenaran intersubyektif ini untuk memotret fenomena penerimaan CPNS di negeri ini, yang sedang dan akan berlangsung bulan ini. Sering kita mendengar istilah dari masyarakat, “rahasia umum”, “tradisi”, “budaya”, atau bahkan “bukan rahasia lagi”, bahwa penerimaan CPNS yang berlangsung hanya formalitas belaka. Sebab, orang-orang yang akan mengisi formasi yang dibutuhkan sudah ada. Mereka masuk melalui jalur yang sama dengan calon peserta tes lainnya, namun dengan “modal berbeda” dari kebanyakan calon peserta lainnya. “Modal berbeda” itu, dalam istilah yang sudah terlanjur berkembang di masyarakat umum, disebut “jatah”, “titipan”, “jual-beli” dan sebagainya.

“Jatah”, “titipan” dan “jual-beli” dalam penerimaan CPNS, awalnya mungkin dari satu-dua subyek, kemudian terjadi persamaan pengalaman antar subyek satu dengan yang lain. Maka, pengalaman yang sama antar subyek ini menjadi pengalaman intersubyektif. Dan, dalam komunikasi sehari-hari, pengalaman intersubyektif itu muncul dengan istilah “sudah rahasia umum, tradisi, dan sudah budaya, dalam penerimaan CPNS ada jatah si A, ada titipan si B dan sudah di beli si C”.

Sudah jelas, kalau kita sepakat dengan konsep intersubyektif untuk mengukur sebuah kebenaran, maka kecurangan dalam penerimaan CPNS jelas telah menjadi fenomena. Hanya saja untuk membuktikan secara administrasi dan hukum, tentu saja sangat sulit.

Fenomena kecurangan penerimaan CPNS belum mendapat perhatian penuh dari pemerintah. Buktinya, ngara kita baru punya satu KPK. Seharusnya, pemerintah membuat dua komisi lagi untuk menuntaskan agenda reformasi ’98, yakni KPK yang K-nya singkatan dari kolusi dan KPN, N-nya singkatan dari nepotisme. Dengan dua komisi baru ini mungkin fenomena kecurangan penerimaan CPNS akan tertangani secara khusus dan sistematis.

Setelah ujian CPNS selesai, hasilnya diumumkan lewat media, maka pengalaman yang memperkuat fenomena kecurangan itu “bergentayangan”. Misalnya, si A, lulus. Dia anaknya Pak Anu (wong gede); si D, tidak lulus, ananya Mang fulan (wong biase, cilik). Padahal secara keilmuan dan kompetensi, misalnya si A jauh dibawah si D pada bidang yang sama.

Kepuasan batin peserta ujian CPNS tidak terpenuhi
Dalam sebuah kompetisi ada yang menang dan ada yang kalah. Begitu juga dalam penerimaan CPNS, ada yang diterima dan yang tidak diterima (baca: lulus dan ada yang tidak lulus). Yang lulus harus bersyukur dengan cara bertanggungjawab penuh melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Yang tidak lulus harus menerima dengan legowo.

Menerima dengan legowo terhadap hasil tes ini hanya terjadi ketika ulangan harian di sekolah. Yang nailainya besar puas, dan yang nilainya kecil menerima dengan ikhlas. Rahasianya adalah lembar jawaban masing-masing siswa dikembalikan dan kunci jawaban di simak secara bersama-sama. Dengan begitu semua siswa bisa melihat sendiri dimana letak kesalahan jawaban yang mereka berikan pada saat tes/ujian.

Seandainya saja proses penerimaan CPNS seperti ulangan di sekolah, tentu tidak akan muncul gunjingan bahkan kesaksian kecurangan setelah hasil tes diumumkan. Apalagi gunjingan dan kesaksian yang berifat kolektif dan intersubyektif seperti disebutkan di atas. Pengandaian ujian ala anak sekolah ini secara teknis mungkin terlalu naïf, dan akan segera dijawab tidak mungkin bisa dilakukan!

Di era teknologi informatika, transparansi di segala bidang bisa dilakukan, termasuk ihwal penerimaan CPNS. Penggunaan teknologi sejak sosialisasi formasi yang tersedia, pendaftaran, tes, hingga pengumuman hasil tes, sangat mungkin dilakukan. Andai saja ada kemauan serius dari seluruh pemangku kebijakan di negeri ini. Atau, para menagku kebijakan diuntungkan oleh sistem yang ada hingga tidak mau berfikir bajik!

Sekedar ide sederhana, kita bisa mengunakan jasa Pos untuk memberi balasan (--pasca tes) yang berisi nilai dan kunci jawaban. Atau kunci jawaban dan nilai disertakan dalam pengumuman di media. Lebih canggih, dengan komputerisasi atau internetisasi data hasil ujian yang disertai kunci jawaban, diurutkan berdasar ranking. Dengan demikian publik bisa mengaksesnya dan legowo bukan?

Akhirnya semua kembali kepada para penentu kebijakan, apakah ada hasrat untuk memuaskan “batin publik”, dengan transparansi penerimaan CPNS ini dari “A” sampai “Z”.

*)Penulis adalah Guru Honorer, Pengajar Sejarah Kebudayaan Islam, di MTs/MA Al-Khairiyah Karangtengah.

Jumat, 19 November 2010

FIPOB Ke-5 & Kesadaran Bahari Kita

Oleh Ayatulloh Marsai

Di tengah gegap gempita Festival Internasional Pemuda Olahraga Bahari (FIPOB) ke-5 di Banten, yang berlangsung dari 2-11 November 2010, saya sangat sulit menemukan luas laut Banten di situs-situs milik pemerintah. Satu sisi saya bangga menjadi tuan rumah festival yang menghadirkan 55 negara ini. Sisi yang lain, “kecewa” dengan keterbatasan informasi primer yang bisa diakses berkaitan dengan luas laut Banten.

Di Website Pemprov Banten, saya hanya mendapatkan informasi luas Banten, 8.651,20 Km2, dilengkapi dengan topografi (wilayah dataran rendah dan daratan tinggi diatas permukaan laut), informasi hidrologi (air tanah) dan klimatologi serta geologi. Sementara informasi luas laut wilayah Banten tidak ditemukan.

Dalam sambutan pembukaan FIPOB V, sebagaimana dilansir Baraya Post, 3/11/ 2010, Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah, hanya menyebutkan panjang pantai Provinsi Banten, 517 km dan jumlah tempat wisata di Banten, 204 tempat. Selebihnya sibuk membicarakan Gunung Anak Krakatau yang sedang aktif, sebagai tambahan pemandangan gratis bagi para tamu dari mancanegara.

Sementara luas laut Banten yang “menyelimuti” dari tiga arah angin tidak disebutkan oleh Gubernur Banten. Di utara ada Laut Jawa, di barat ada Selat Sunda dan di selatan ada Samudera Indonesia.

Keterbatasan informasi ini menimbulkan kesan bahwa Pemprov Banten belum maksimal memetakan wilayahnya secara keseluruhan sampai ke perbatasan terluar, yakni lautan. Bagaimana bisa pemerintah bisa mengembangkan potensi-potensi yang terkandung di sepanjang pantai, di permukaan, serta di dasar lautan, kalau pemetaan sektor kelautannya saja belum digarap secara maksimal.

Ketersediaan informasi yang cukup akan sangat bermanfaat untuk pengembangan seluruh sektor yang ada di laut. Baik pengembangan itu oleh pemerintah, pengusaha domestik dan juga investor asing.

Banten adalah bagian dari bangsa bahari, sebagaimana didengung-dengungkan oleh Kemenpora, Andi A Mallarangeng, dalam sambutan pembukaan FIPOB ke-5 ini.
Lautan Lebih Luas Daripada Daratan

Lautan adalah bagian tak terpisahkan dari daratan. Bagi Indonesia, lautan bukan pemisah melainkan penghubung antar nusa (baca: pulau). Tidak ada perdebatan bahwa lautan lebih luas dibandingkan dengan daratan. Konsep ini berlaku baik untuk Indonesia khusus, maupun secara global.

Luas laut Indonesia 5,8 juta kilometer persegi, tiga kali lebih luas dari daratan yang hanya 1,9 juta kilometer persegi (Portal Nasional Republik Indonesia). Perbandingan daratan dan lautan di Bumi secara keseluruhan: 28,88 persen untuk daratan dan 71,11 persennya berupa lautan. Sebuah angka persentase yang memang sudah seharusnya menggiring kita pada kesimpulan bahwa masa depan sebuah bangsa ada di lautan. Siapa yang pandai dan berhasil memaksimalkan potensi-potensi yang terkandung di lautan maka dia adalah bangsa yang kaya.

Dalam buku, “Al-Qur’an dan Lautan”, karya Agus S Djamil, bahwa keberadaan wilayah laut menjadi salah satu penentu tingkat ekonomi sebuah negara. Sebagai inspirasi bagi kita, buku ini juga mengungkap bahwa jumlah kata “laut” berjumlah 32 kata, sedangkan kata “darat” sebanyak 13 ayat. Bila dijumlahkan menjadi 45 kata. Angka 45 sebagai pengejawantahan terhadap “bumi”. Sekarang, kita ambil 13 sebagai kata “darat” yang tidak lain 28, 22 persen dari 45. Dan sisanya 32, atau 71, 11 persen, persis sama dengan persentase lauatan di dunia ini.

Tidak ada keraguan lagi bagi kita, baik secara fisik, secara ilmiah, bahkan Agama, bahwa penguasaan terhadap lautan sangat menentukan masa depan kita sebagai bangsa bahari. Dengan pandangan positif terhadap laut maka kita akan mulai mengolah, mendayagunakan laut sebagai kekayaan yang menyejahterakan rakyat. Kita akan mulai menghargai tapal batas laut terluar sebagai wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sehingga tidak diserobot oleh tetangga yang lebih sadar akan kekayaan laut. Kekayaan laut Indonesia banyak dinikmati oleh nelayan-nelayan asing.

Bangkitkan Sektor Kelautan

Sampai disini, Festival Internasional Pemuda Olahraga Bahari ke-5, yang bertemakan 4P (people, profit, promosi, dan prospek) ini, mudah-mudahan tidak selesai sampai acara seremonial belaka. Tapi, menjadi titik awal “ketergugahan” Provinsi Banten untuk lebih serius menatap lautan yang terhampar di tiga penjuru arah angin Banten, sebagai potensi yang bisa menyejahterakan dan mengangkat derajat rakyat Banten kususnya, umumnya Indonesia.

Tentu saja kesejahteraan itu bisa diraih dengan cara pengembangan pengelolaan menyeluruh pada sektor kelautan. Misalnya, Wisata Bahari. Sektor ini sangat melimpah di Banten, tidak hanya pantai yang indah, pemandangan Gunung Anak Krakatau, tetapi juga wisata dasar laut yang menakjubkan. Bahkan dalam seminar tentang peninggalan arkeologi bawah laut, di Serang, 27 Juli 2010, seperti yang diberitakan Erabaru.Net, terungkap banyak kapal-kapal luar negeri yang tenggelam di lautan Banten. Jadi ketika kita bicara wisata bahari Banten, maka tentu meliputi permukaan dan bawah lautan Banten ini.

Sektor yang lain misalnya, pertambangan laut, perikanan, dan kepelabuanan. Di Banten, sudahkah ketiga sektor penting itu mendapat perhatian serius dari pemerintah?

Kemudian, tidak kalah pentingnya kita juga harus mulai serius mengamankan laut Banten ini. Agar tidak terjadi lagi kejadian-kejadian yang merugikan bangsa kita, baik secara ekonomi atau pun kedaulatan bangsa. Dua tahun terakhir, di Pelabuhan Merak misalnya, kita kedatangan imigran illegal dari luar, dan mereka berhasil masuk ke laut Banten, tanpa kita ketahui sebelumnya di perbatasan.

Belum lagi pencurian ikan, dan yang paling parah adalah pencurian kekayaan laut dalam, seperti terumbu-terumbu karang dan juga peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di dalam laut. Kesemuanya menandakan dengan jelas kelemahan sistem keamanan laut kita.

Seyogyanya FIPOB V ini bisa menggugah Banten. Menjadikannya sebagai tonggak sejarah untuk kebangkitan Banten sebagai bagian bangsa bahari. Kebangkitan yang dimulai dari dukungan para pemangku kebijakan yang komprehensif. Mulai dari payung hukum, kebijakan ekonomi, pariwisata, revitalisasi pelabuhan bertaraf internasional, trevel, dan yang tidak kalah pentingnya adalah keamanan lautan baik dari ancaman dalam maupun luar, baik yang datang dari manusia maupun alam.

Seluruh keinginan dan kebijakan pemerintahan mengenai kebangkitan bangsa bahari di Banten perlu keberpihakan anggaran yang tidak sedikit. Oleh karena itu gerakan kebangkitan ini harus dipahami dan didukung oleh seluruh elemen masyarakat.
Kebangkitan bangsa bahari meng-andaikan kemampuan memanfaatkan potensi sektor kelautan secara optimal. Dengan begitu kita akan mendapati sebagian “rahasia” Allah swt. menciptakan lautan lebih luas daripada daratan. “Dan Dialah, Allah, yang menundukan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur”. (An-Nahl, ayat 14). Wassalam.

Terobosan Baru

21:14

Satu satunya cara yang dapat menjamin bahwa hari esok akan lebih menyenangkan dari hari kemarin adalah merencanakan sesuatu, mengerjakannya dan mencapai cita-cita yang telah direncanakan tersebut. Tanpa cita-cita baru berarti kita mendaur ulang cita-cita lama. Jika anda sulit bangun di pagi hari dan anda enggan menyongsong hari baru, tak perlu diragukan lagi bahwa yang terbentang di depan anda adalah jalan lama, bukan jalan baru.

Menurut mantan eksekutif Disney, Mike Vance, mengulang hari kemarin menyebabkan psychosclerosis atau “pembekuan pikiran”. Mengulang hari kemarin juga dapat digambarkan sebagai berdiri kaku kedinginan di atas anak tangga kehidupan. Ini tidak berarti bahwa anda belum pernah menaiki tangga. Anda pernah melangkah, lalu anda berjalan di tempat.

Ketika prestasi di masa lalu, dan bukannya visi untuk maju di masa depan, yang lebih mendominasi banyak mimpi, besar kenungkinan bahwa anda memulai kembali dengan cara lama. Tak seorang pun dalam sejarah yang pernah dikenang dan dihormati karena kepiawaiannya mengulang hari kemarin. Lazimnya, penghormatan hanya diberikan kepada mereka yang berhasil melakukan trobosan baru.

“kehidupan adalah sebuah proses untuk menjadi seseorang/sesuatu. Jika minat anda belum bertambah selama tahun yang lalu; jika anda masih memikirkan hal-hal yang sama, mempunyai pengalaman pribadi yang sama, memiliki reaksi yang dapat diprediksi seperti semula –kepribadian yang mati telah terbentuk”. ------(Jendral Douglas MacArthur).

Sumber: “Menangkap Hari; 7 langkah untuk mencapai hal-hal yang luar biasa di dalam dunia yang biasa-biasa”, Danny Cox & John Hoover.

Minggu, 14 November 2010

Kasih saja makan tanah Pak!

November 13, 2010
18:35

Di akhir pembelajaran seorang guru memberikan motivasi kepada siswanya, “umur kalian sekarang sekitar 13 tahun. Bayangkan 10 tahun ke depan, ketika umur kalian 23-25, ingin jadi seperti apa kalian!!!? Untuk mewujudkan cita-cita yang kalian inginkan itu, maka kalian harus belajar dan terus belajar secara sungguh-sungguh. Sebab, ilmu akan memberi kita segalanya, kemudahan hidup, termasuk kesejahteraan hidup. Kalau kalian tidak belajar dengan sungguh-sungguh, mau makan apa kalian, dan anak istri kalian?”.

Dengan iseng seorang siswa menjawab, “dikasih makan tanah saja Pak!”. Guru kemudian memanggil muridnya itu, “Ardi, keluar, ambil tanah yang kamu bilang tadi.” Dengan raut muka penuh penyesalan Ardi keluar ruang kelas.
Tidak lama, Ardi kembali dengan segenggam tanah di tangannya. Dan Sang Guru langsung menyambutnya dengan perintah beruntun, “ke depan, angkat tanah itu tinggi-tinggi, dan coba jelaskan apa yang kamu maksud dengan mengasih makan anak istri dengan tanah.”

Tentu saja Ardi gelagapan, karena kata-katanya tadi 100 persen bercanda, tidak ada serius-seriusnya. Sang Guru tahu itu, tetapi dia melihat ada kebenaran pada jawaban muridnya itu.

Kemudian Sang Guru angkat bicara, “kalian tahu Batubata, kalian tahu Genteng, bahkan kalian tahu Rumah, atau Padi. Dan kalian tahu besi, emas, perak dan tembaga-tembaga lainnya, semuanya berasal dari tanah. Tanah. Jadi jawaban kamu benar”, sambil menepuk pundak Ardi.

“Tapi Ardi, dan kalian semua harus tahu dan sadar bahwa kesemua jenis barang yang saya sebutkan tadi adalah tanah yang sudah diolah dengan ilmu, diproses dengan pengetahuan dan kemampuan yang cakap. Hasilnya bisa bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan manusia dan bisa menjadi bisnis besar. Mungkin maksud jawaban Ardi begitu, sehingga tanah bisa dipergunakan untuk memberi makan anak istrinya nanti”, Sang Guru menjelaskan panjang.

Semua siswa mengangguk-angguk, Ardi dipersilahkan kembali ke tempat duduknya. Waktunya pulang, semua siswa keluar menggenggam pengetahuan menghadapi tantangan zaman.

Rabu, 10 November 2010

Haji, Kaum Terpelajar & Sumpah Pemuda

Oleh: Ayatulloh Marsai*

Dalam buku, Diplomasi: Ujung Tombak Perjuangan RI (Penerbit Gramedia Jakarta, 1989), Mohammad Roum, menceritakan bahwa keberadaan kaum terpelajar yang belajar di Nederland, setelah pulang membawa perubahan besar dalam arah perjuangan Indonesia. Selanjutnya, yang juga terbukti kuat melakukan usaha sistematis terhadap kebangkitan dan kemerdekaan Indonesia adalah para Haji.

Apakah hubungannya dengan Sumpah Pemuda? Tentu saja erat sekali, sebab, peristiwa Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 berasal dari mata rantai dari semangat juang para pelajar dan Haji jauh-jauh hari sebelumnya. Pangkalnya adalah tahun 1905, Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam; tahun 1913 Tiga Serangkai (Setiabudi, Soewardi Soerjaningrat, dan Tjiptomangunkusumo) mendirikan National Indische Partij; tahun 1925 berdiri Nederland Indonesische Vereniging dan Jong Islamieten Bond; tahun 1927 berdiri Partai Nasional Indonesia, Perhimpunan Pelajar Indonesia dan Jong Indonesia. Kesemuanya, menurut Pak Roem, mempunyai kesadaran: Bangsa satu, Tanah Air satu dan Bahasa satu.

Dari sekian banyak pribumi, petani dan pedagang, maka kaum terpelajar dan Hajilah yang terusik kesadarannya untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan, sekaligus mampu mengambil langkah sistematis dalam rangka pemerdekaan Indonesia. Namun demikian dari sekian banyak kaum terpelajar dan Haji tidak serta merta semuanya punya kesadaran untuk bergerak, berupaya menuju Indonesia merdeka. Indonesia yang memerintah dan mengatur bangsanya sendiri. Tidak sedikit dari mereka yang terpelajar, menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk bekerja kepada Belanda. Sementara yang terjadi dikalangan sejumlah Haji yang berangkat ke Tanah Suci, hanya untuk memenuhi panggilan kewajiban agamanya, tidak lebih.

Pandangan yang jauh ke depan, visi Indonesia bersatu hanya mampu dilihat oleh segelintir kaum terpelajar,dan sedikit para Haji saja. Sementara yang lain bersikap masa bodoh dan tidak peduli terhadap nasib bangsanya di genggaman tangan penjajah.
Sebetulnya kesadaran nasional berbangsa, bertanah air dan berbahasa satu, Indonesia, tidak cukup lahir dari pemuda yang berstatus terpelajar semata dan Haji semata. Tetapi itu lahir dari siapa saja yang tercerahkan dan dilengkapi dengan instrument yang dibutuhkan.

Orang yang tercerahkan, menurut Ali Syariati, adalah individu yang sadar dan bertanggungjawab untuk membangkitkan kesadaran diri dan rakyat jelata. Dalam hal ini, pemuda yang punya daya ubah, daya dorong, daya kendali untuk berperan aktif dalam menentukan arah perubahan. Itulah pemudah yang tercerahkan. Seperti yang dilakukan oleh para pelajar Stovia dan juga para Haji, yang tidak hanya melaksanakan tugasnya sebagai pelajar dan jama’ah haji, lebih dari itu berperan aktif dalam menentukan arah perjuangan, membebaskan rakyat Indonesia dari penjajahan.

Semangat perubahan itu semakin bertenaga ketika mereka mengetahui bahwa Belanda adalah negara kecil, namun cukup lama menjadi tuan rumah di Indonesia. Ini sangat mengganggu pikiran dan perasaan para pelajar. Negara yang kecil bisa menguasai negara besar, Indonesia dalam waktu yang cukup lama. Faktor ini, tidak bisa dipungkiri, turut menyemangati bangsa Indonesia yang beragam suku, bahasa dan kepulauan, untuk menjadikan negara masa depan mereka menjadi negara kesatuan.

Kaum Terpelajar Indonesia Kini

Yang pasti, secara kuantitas pelajar sekarang jauh lebih banyak dari jaman penjajahan. Sekolah-sekolah sudah tersebar ke seluruh pelosok negeri, perguruan-perguruan tinggi merata ada di setiap kota, membuka kesempatan lebar kepada seluruh generasi muda Indonesia untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Bahkan, beberap pemuda yang punya kocek lebih, bisa menikmati pendidikannya di negera-negara maju. Yang terakhir ini, bisa menikmati fasilitas-fasilitas pendidikan yang lebih modern dibanding dengan fasilitas yang ada di perguruan tinggi yang pertama disebutkan.

Melihat kenyataan ini, tentunya kita patut bergembira bahwa pemuda sekarang mayoritas adalah kaum terpelajar. Timbul pertanyaan kemudian, apakah keberadaan mereka merupakan jaminan untuk terwujudnya Indonesia lebih baik, lebih maju, lebih sejahtera, dan berkeadilan. Apakah para terpelajar itu bisa mewujudkan kehidupan bernegara yang dicita-citakan oleh Pancasila dan UUD ’45.

Jawabannya tentu saja tidak jaminan keberadaan mereka bisa membawa bangsa ini lemih maju. Hanya sedikit dari mereka (kaum terpelajar) yang akan menjadi aktor penggerak kemajuan. Sebagaimana sejarah mengajarkan kepada kita, hanya sedikit orang yang mampu melihat permasalahan dengan kesadaran, dengan tanggungjawab sosialnya untuk mencerahkan rakyat jelata. Mengahrumkan nama bangsa di pentas internasional. Seperti, 5 pemuda Indonesia yang akan berangkat ke London untuk bergabung dengan 1500 pemuda dunia dari 192 negara. Kegiatan yang punya nama “One Young Word” ini akan membahas persoalan-persoalan dunai, dari politik, ekonomi social dan masalah-masalah penting lain di dunia internasional.

Dengan tidak bermaksud` mengecilkan arti penting keberadaan mereka yang berprestasi, namun sebagian terbesar dari kaum terpelajar kita bersikap masa bodoh dengan perkembangan bangsa, malah banyak yang terjerumus pada “dunia-dunia muda” yang cendrung negatif. Lihat saja, “label” yang melekat pada kaum pelajar Indonesia sekarang nampak jelas terlihat di media-media, baik cetak maupun elektronik. Tawuran pelajar sering sekali terjadi, dari jalanan sampai ke lapangan Sepak Bola. Bahkan tawuran ini bisa dilihat sekarang sudah “kuliah” di perguruan-perguruan tinggi. Tidak sedikit perguruan tinggi luntur wibawanya sebagai lembaga pendidikan tinggi oleh “budaya” kekerasan ini; ketika kita melihat pelaku seks bebas tertangkap polisi, dia adalah pemuda dan kaum terpelajar; minum-minuman keras, judi, ngebut di jalanan raya, penyalahgunaan narkoba, sampai pembajak VCD, pelakunya adalah pemuda dan kaum terpelajar.

Belum lama ini, kita juga malu dengan pola protes pemuda dan kaum terpelajar Indonesia terhadap pemerintahan Malaysia, dengan menggunakan kotoran manusia sebagai media protesnya. Terlepas dengan siapa kita berhadapan, tetapi pola yang digunakan tidak menggambarkan perjuangan kaum terpelajar. Kecendrungan perjuangan kaum terpelajar adalah menggugat, menyalurkan rasa nasionalismenya dengan cara-cara rasional dan sistematis.

Pantaskah pemuda-pemuda dengan “label” di atas nantinya memegang kendali bangsa ini. Jawabanya tentu sudah jelas, tidak. Negara kesatuan bangsa, tanah air dan kesatuan bahasa ini akan menjadi petaka jika pewarisnya berprilaku menyimpang seperti itu. Sementara, PR (pekerjaan Rumah) bangsa ini makin bertumpuk. Pengangguran, kemiskinan, kebodohan, kekerasan, putus sekolah, moralitas, masalah lingkungan, pembalakan liar dan trauma akibat bencana. Kesemuanya merupakan pekerjaan besar yang menunggu kebangkitan nasional jilid II yang dipelopori oleh pemuda dan kaum terpelajar yang tercerahkan.

Kesadaran Yang Harus Dibangun

Usia Sumpah Pemuda itu sekarang sudah 82 tahun. Dengan semangat kesatuan bangsa, tanah air dan bahasa, marilah kita berkarya, menciptakan sesuatu yang baru (kreatif). Kita bikin bangga orang-orang yang 82 tahun lalu, dengan susah menyatukan suku yang berbeda, wilayah kepualauan dengan berbagai bahasa. Kita punya potensi, alam yang kaya, subur, budaya timur yang ramah, etis, terbuka, toleran, damai, adalah identitas yang sudah lama kita miliki.

Ada dua kesadaran yang harus dibangun untuk mengembalikan semangat Sumpah Pemuda. Pertama, kesadaran eksternal, membangun kesadaran bahwa bangsa ini sedang berada dalam ancaman-ancaman bangsa asing. Atau dalam bahasa yang lebih halus, sedang berkompetisi dengan bangsa lain. Kesadaran ini kedengarannya klasik. Namun terbukti ampuh untuk membangun nasionalisme pada tingkatan awal. Seperti, beberapa kasus kita dengan Malaysia, mulai dari masalah-masalah adat kebudayaan sampai batas wilayah, terbukti telah membangkitkan kecintaan kita terhadap Indonesia yang lama terlupakan. Jadi, kesadaran atas ancaman faktor asing ini penting, bukan ancaman perpecahan bangsa, tanah air atau bahasa, melainkan membuyarkan tujuan pembangunan nasional menjadi pembangunan golongan dan pribadi. Paling tidak, ancaman itu kita pahami secara positif dengan semangat kompetisi dalam segala bidang dengan bangsa lain. Sambil belajar dari mereka yang sudah maju.

Kedua,kesadaran internal. Pemuda tercerahkan harus punya kesadaran, bangsa ini merdeka untuk ditumbuhkembangkan menjadi bangsa yang sejahtera, berkeadilan sosial. Bangsa yang lahir atas nama rakyat, harus mengarah pada kesejahteraan rakyat banyak, bukan untuk segelintir orang atau golongan. Oleh karenanya, kesatuan bangsa, kesatuan tanah air dan kesatuan bahasa dalam Sumpah Pemuda 1928 harus disertai, dalam bahasa Es Ito (Novel Negara Kelima), kesatuan jiwa.

*) Penulis adalah Guru Sertifikasi SKI
Perguruan Islam Al-Khairiyah Karangtengah
Tinggal di Dukumalang, Kel. Tegal Bunder, Purwakarta – Kota Cilegon

Sabtu, 06 November 2010

Celoteh ter-pinggir-kan Lingkar-an

Jalan berlubang, penuh air, kotor dan menganggu. “sprooot”, air itu menyembur kearahku. “sial, dasar bajingan, gak punya mata”, umpatku. Ah, tapi gimana lagi jalan di kota ini memang seperti adanya. Sudah bertahun-tahun, tak terjamah oleh APBN, tidak juga oleh APBD, entah mereka ngelayab ke mana?!, gak jelas. Gak setiap tahun juga gak apa-apa, yang penting kuat, kuat, sekali lagi yang penting kuat. Kuat itu, bisa bertahan sampai satu preode kerja Pak Presiden atau Pak Walikota!!
Disisi jalan, semak hijau tinggi, hampir bersentuh dengan kabel listrik, menjulang. Bukan indah, tapi tak terawat. Yang punya sawah menganggap ini kewjiban pemerintah desa. Dasar orang kampong, selalu mengandalkan pemerintah, emang gak bisa bersih-bersih taman sendiri pake uang sendiri. Bisa khan?! Bukan begitu, tapi khan pemerintah punya anggaran, kalau gak dipakai mau dipake buat apa? Beli mobil? Beli motor? Ah, jalannya juga jelek. Jalan kaki aja sih.
Jalan sepanjang kurang lebih 4 km ini juga tidak sepi dari “kuburan polisi”. Ah, polisi, mentang-mentang tugas di jalan, sampai dukubur juga di jalan. Luar biasa pengabdiannya. Sayang, kesetiaanmu kepada jalan, justru menganggu pengguna jalan. Kau malang melintang, menunda-nunda perjalanan. Kendaraan munclak-munclak, gak beres. Kanvas remku cepat habis, sudah kotor akibat jalan berlubang. Lama-lama aku bisa miskin gara-gara aku punya motor. Motor sialan. “Bukan saya yang sialan”, mungkin motorku jawab begitu. Ya, ya, jalan yang sialan. “lha kok saya yang sialan”, mungkin kata jalan begitu. “siapa yang mau jadi jelek, kalian gak tahu sih, aku begini karena aku dianaktrikan, semenjak aku punya “adik” lingkar itu, aku dilupakan, aku gak pernah dikasih perhatian, gak dipoles, gak ditengok, tengok. Jadi yang salah siapa? Ya, ya…………… Bapaklah….. yang salah, kenapa saya tidak diperhatiakan supaya saya layak jadi teman motor kalian untuk menjalani perjalan hidup ini. Kalau gak mampu, lha ya bok jangan punya anak lagi! Nanti, anak yang lain gak ternafkahi….. Ah, tulisan kacau!!! Ya iyalah, inilah “anak kandung” keadaan yang kacau!
Karangtengah sawah, 31 Oktober 2010
Ayatbanten.

Selasa, 02 November 2010

"Pedekate"

Senin, 01 Nopember 2010
03:58

Ibarat orang pacaran, ketika ada saingan maka kita akan sekuat kemampuan untuk bisa mendapatkan perhatian dari pacar kita. Ibarat "pedekate" maka kita memberikan yang terbaik kepada perempuan yang kita harapkan menjadi pacar kita itu. Itulah hikmah yang bisa saya ambil dari polemic antara Pemkot vs KS-Posco berkaitan dengan kepentingan Pemkot untuk membuat Pelabuhan Kubangsari pada satu sisi, dan pembangunan Pabrik Baja oleh KS-Posco di sisi lain.

Lihat saja dalam beberapa bulan terakhir, di media cetak local misalnya, kita pasti dengan mudah bisa menemukan berita kegiatan amal yang dilakukan oleh PT KS. Misalnya, “KS Group Pedulai Kesehatan: Pengobataan Gratis Bagi Warga Kecamatan Anyar”, “PT KS Bantu Korban Anyer” dan banyak lagi. Tentu kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Apalagi, secara kwalitas pelayanan kesehatan Rumah Sakit KS sudah dimaklumi oleh masyarakat, ketimbang rumah sakit pemerintah misalnya, karena tergolong mahal.

Yang paling menggembirakan dari sekian berita tentang KS di media massa adalah pengangkatan 99 karyawan outsourcing menjadi organic. Belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga ini menjadi hikmah tersendiri untuk masyarakat Kota Cilegon.
Kilas Balik KS Untuk Masyarakat Lokal

Menjadi pengandaian tersendiri untuk penulis, seandainya perhatian KS sebesar ini selama berpuluh tahun di berdiri kokoh di Cilegon, mungkin tingkat penganggur di kota ini tidak senumpuk sekarang ini. Seandainya perhatian KS terhadap warga sekitarnya berlangsung dari dulu, mungkin generasi diatas saya tidak perlu ke RSUD Serang ketika butuh perawatan.

Tetapi, akan menjadi sangat naïf kalau kita sibuk terus berandai-andai terhadap sesuatu yang sudah berlalu. Akan lebih real rasanya berharap kepada pihak KS untuk tidak menghentikan “kebaikannya” kepada masyarakat local. Disamping karena kewajibannya memang seperti itu, juga supaya tidak timbul anggapan kalau PT KS hanya “baik” ketika ada maunya, yakni mendapatkan simpati masyarakat local sebagai modal awal mendapat dukungan public.

Dan, tidak kalah pentingnya, Pemkot sudah semestinya belajar dari ujung polemic ini. Entah dari berbagai segi, diantaranya pelayanan public. Apakah selama ini Pemkot sudah bisa memaksimalkan pelayanan public terhadap masyarakat kota cilegon. Terutama kesehatan?, terutama penerimaan CPNS? Tidakkah sudah menjadi rahasia umum kalau pelayanan kesehatan gakin sangat “itung-itungan” dan “berbeda”. Tidakkah penerimaan CPNS juga sudah menjadi rahasia umum, yang berhasil masuk adalah orang-orang yang “tersambung” dengan kekuasaan, baik langsung maupun tidak langsung? Hitung saja umpanya, keluarga pejabat-pejabat yang jadi PNS! Dan yang langsung misalnya ketua organisasi sayap partai, atau organisasi underbrow kekuasaan? Atau berapa persen PNS yang berlatar belakang keluarga miskin? Tentu semua pertanyaan ini tidak perlu dijawab, sebab semuanya sudah menjadi rahasia umum. Apakah rahasia umum tidak cukup kuat untuk dijadikan sebagai ukuran kebenaran? Sangat kuat, karena walaupun rahasia, tapi masyarakat umum sudah tahu.

Agaknya, ibarat orang pacaran, KS lebih bisa mendekati masyarakat “bil hikmah” untuk bisa mendapatkan simpatik masyarakat lokal, ketimbang Pemkot. Akhirnya, jelas bagi masyarakat mana yang harus dipilih untuk menjadi “pacar” yang penuh perhatian. Semoga KS tetap setia dan tetap pada kesetiaannya, sebab jelas keberlangsungannya tidak lepas dari dukungan dan doa masyarakat local. (Ayatbanten, Dukumalang, 01 November 2010).

Senin, 01 November 2010

Juru Hikmah Semua Musibah

Jumat, 29 Oktober 2010

Bencana alam datang silih berganti di negeri ini, belum juga beres kita mencari sebab-akibat serta solusi bagi bencana banjir bandang di Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat; sekarang Gunung Merapi meletus menggemparkan tanah Yogyakarta; Tsunami menghantam daratan Sikakap, kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Sudah selayaknya musibah beruntun itu berhikmah bagi bangsa kita. Hikmah yang bisa membawa bangsa kita lebih baik, tanggap terhadap bencana. Bergegas tidak hanya ketika sudah terjadi, namun juga siap siaga sebelum musibah datang.

Sebagai bangsa beragama, kita juga harus “menyelami” keinginan Tuhan dengan bencana alam yang datang. Sebab, pasti ada korelasi yang erat antara bencana alam dengan perbuatan manusia secara pribadi maupun kolektif. Termasuk, pasti ada kaitan antara bencana alam yang datang dengan kebijakan dan peraturan pemerintah yang lahir dan dilakukan oleh bangsa kita.

Menyelami keinginan Tuhan tidak se-repot menuruti keinginan manusia. Tuhan sudah jauh-jauh hari menjelaskan keinginan-keinginannya dalam Kitab-Nya. Keinginan Tuhan tidak keluar dari nalar manusia, sebab kelebihan manusia atas makhluk yang lain hanya sebatas di nalar itu. Maka selayaknya kita sekarang, dengan musibah bencana alam yang datang beruntun ini, mencari hikmah atau solusinya dengan nalar yang kita miliki.

Manusia berkewajiban mencari hikmah atas semua musibah itu. Sayangnya, ada sedikit masalah dengan pemahaman sebagian orang tentang hikmah ini. Sebagian orang memahami hikmah secara dangkal. Hikmah bagi mereka adalah keburukan berganti “kebaikan” pada diri yang terkena musibah. Sebagai contoh, banyak orang yang berpendapat “hikmah tsunami di Aceh adalah bersatunya kembali rakyat Aceh dan mau mengaku sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Sementara, tsunami-tsunami di daerah lain masih berdatangan tanpa bisa di temukan jalan keluarnya. Bagaimana supaya tsunami tidak memakan korban?, itu tidak bisa ditemukan solusinya. Apakah bangsa yang “terjatuh pada lubang yang sama” ini, bangsa yang mau mengambil hikmah dari semua kejadian? Tentu, jawabannya, tidak. Bangsa kita belum menemukan hikmah dari semua musibah bencana alam yang datang.

Hikmah itu Solusi
Pertanyaan selanjutnya, apakah bangsa ini tidak ada kemauan untuk merubah nasib, dari bangsa yang penuh musibah menuju bangsa yang penuh berkah. Kalau mau, paling tidak ada dua hal yang bisa lakukan. Pertama, menghentikan eksploitasi alam, dengan dalih apapun, sambil memperbaiki yang rusak secara sistemik oleh pemerintah. Dalih yang paling sering merusak alam Indonesia adalah investasi, menciptakan lapangan kerja, mengurangi pengangguran, dan menambah pendapatan negara. Sungguh bangsa yang tidak cerdas, bergantung pada modal asing, hutang yang melimpah, semua yang berujung pada kemajuan semu. Sedangkan, rakyat yang menjadi sandaran investasi tadi, tidak hanya tetap nganggur tapi juga terkena “amukan” alam yang dieksploitasi.

Keuntungannya? hanya untuk sebagian orang saja. Tidak rumit untuk me-logika-kan kondisi terakhir ini, cukup dengan membandingkan rumah pejabat dengan rumah rakyatnya. Silahkan Anda teliti di daerah masing-masing. Mungkin, hasilnya jauh dari contoh pemimpin-pemimpin yang adil misal, Muhammad Rasulullah, Umar bin Khatab dan Umar bin Abdul Aziz.

Hal kedua yang bisa kita lakukan untuk merubah nasib bangsa kita adalah memaksimalkan peran para ahli yang berkaitan dengan alam. Karena hanya mereka yang bisa melihat gejala-gejala alam secara ilmiah sekaligus memberi solusi secara ilmiah juga. Ini solusi yang saya pahami dari ayat al-qur’an (2:269), “Allah menganugrahi al-hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang dianugrahi al-hikmah, maka ia benar-benar telah diberi anugerah yang banyak dan hanya ulul albab-lah yang dapat mengambil pelajaran.”

Dalam ayat ini jelas, ulul albab atau ilmuan yang menjadi kunci hikmah atau solusi dari semua masalah, termasuk musibah-musibah yang menimpa bangsa kita. Pemerintah harus memberi kesempatan yang fair dan fasilitas yang memadai untuk ulul albab, meneliti, menyelidik gejala dan seterusnya, kemudian memberi solusi. Mungkin pemerintah akan berkilah, “sudah, sudah kami lakukan!”, dengan menyediakan alat peringatan tsunami, gempa, bahkan gunung api, nyatanya belum bisa mengurangi korban yang jatuh.

Masalahnya, mungkin pemerintah belum memberikan tempat yang layak untuk para ahli itu di negara ini. Selama ini, lebih baikkah posisinya ketimbang investor?! (Dukumalang, 29 Jum’at 2010: Ayatbanten)