Senin, 14 Maret 2011

Rekam Jejak Sumbangan Islam untuk Peradaban

Kamis, 20 Mei 2010, 22:13 WIB
Smaller  Reset  Larger
Penerbit Republika
Rekam Jejak Sumbangan Islam untuk Peradaban
Sampul buku Khazanah
Coba kita bayangkan bagaimana kita menuliskan hasil penjumlahan angka 9 dan 11 jika tidak pernah ditemukan angka 0 (nol). Kita tidak mungkin menuliskan 20 tanpa ada angka 0. Tanpa angka 0, revolusi digital juga mustahil terjadi. Tapi tahukah kita bahwa angka 0 yang ada hingga saat ini ditemukan oleh ilmuwan Islam.

Tak hanya itu, ilmuwan Islam dalam bidang matematika juga telah banyak memberikan sumbangan pada bidang aritmetika, geometri, kalkulus, dan trigonometri. JJ O'Conner dan EF Robertson dalam Mactutor History mengatakan, "Kami (Barat) berutang terhadap matematika Islam." Menurut mereka, begitu banyak ide-ide brilian yang berkembang dalam bidang matematika Eropa pada abad ke 16, 17, dan 18 ternyata merupakan hasil pemikiran ahli matematika Islam.

Sudah sejak dulu, ilmuwan Islam berkiprah di dunia lewat penemuan-penemuannya yang spektakuler. Mungkin saja kita yang saat ini telah terbuai oleh teknologi yang berasal dari Barat, selalu berasumsi bahwa semua teknologi berasal dari Barat. Padahal tidak demikian.

Tulisan-tulisan dalam buku ini bercerita soal kiprah ilmuwan Islam di dunia kedokteran, farmasi, astronomi, matematika, kamera obscura, komputer analog, kedirgantaraan, industri tekstil, dan yang lain. Buku ini menjelaskan kepada kita bahwa ternyata Islam pernah mencapai kejayaan dengan pencapaian-pencapaian yang luar biasa dalam dunia keilmuan maupun dunia industri.

Naskah dalam buku ini merekam sejarah perjalanan ilmuwan Islam yang berperan sangat penting dalam kehidupan manusia. Kekhalifahan Islam yang sempat berjaya di abad pertengahan telah memberi sumbangsih yang sangat tak ternilai bagi peradaban modern. Boleh jadi, tanpa kontribusi dan pemimpin, ilmuwan dan cendekiawan Muslim di era itu, dunia tak akan mengalami lompatan kemajuan seperti saat ini.

Sayangnya, kontribusi penting peradaban Islam di berbagai bidang itu seakan sengaja dilupakan. Akibatnya anak-anak muda Muslim pun lebih mengagumi ilmuwan Barat. Padahal, jauh sebelum Barat menguasai peradaban, Islam lah yang menguasai dunia. Kurikulum pendidikan di negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini seakan tak pernah mengenalkan sejarah dan kegemilangan yang pernah ditorehkan umat Islam. Guna membangkitkan kesadaran akan besarnya kontribusi ilmuwan Islam bagi peradaban manusia itulah buku ini hadir.

Judul       : Khazanah, Menelisik Warisan Peradaban Islam dari Apotek Hingga Komputer
                 Analog
Penulis     : Heri Ruslan
Tebal       : vi+287 halaman
Terbit       : Cetakan I, April 2010
Penerbit    : Penerbit Republika
Red: irf

Peneliti Harap Pemerintah Selamatkan 200 Kitab Kuno Pamekasan

Rabu, 09 Maret 2011, 17:38 WIB
Smaller  Reset  Larger
Peneliti Harap Pemerintah Selamatkan 200 Kitab Kuno Pamekasan
ilustrasi
REPUBLIKA.CO.ID, PAMEKASAN - Para peneliti naskah kuno meminta pemerintah hendaknya bisa menyelamatkan naskah kitab kuno yang ditemukan di pondok pesantren Sumber Anyar, Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Madura, Jawa Timur. "Kami akan meminta pemerintah melalui Kantor Kementerian Agama Pusat untuk memelihara naskah kitab kuno yang ada di Pamekasan ini," kata Koordinator Tim Peneliti Balai Litbang Kementerian Agama Semarang, Zainul Atfal, di Pamekasan, Rabu (9/3).

Ia menjelaskan, tempat perpustakaan naskah kitab kuno yang ada di pesantren itu kurang memadai, sehingga banyak kitab-kitab penting bersejarah yang dimakan rayap. Padahal, katanya, naskah kitab kuno yang ada di pesantren itu merupakan khazanah kekayaan intelektual yang masih tergolong asli karena semua jenis kitabnya ditulis tangan.

"Kalau tidak dipelihara dengan baik, maka semuanya bisa rusak. Buktinya saat ini saja sudah banyak yang dimakan rayap," kata Zainul Atfal.

Ada sekitar 80 eksemplar kitab kuno bertuliskan tangan yang ada di perpustakaan pondok pesantren Sumber Anyar, Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan ini. Menurut kolektor kitab di lembaga itu, Habibullah Bahwi, jenis kitab tersebut belum termasuk kitab-kitab yang dipegang oleh para keluarga pesantren yang juga bertuliskan tangan.

"Kalau secara keseluruhan tidak kurang dari 200 jenis kitab yang semuanya bertuliskan tangan. Yang berhasil kami kumpulkan di perpustakaan ini, baru sekitar 80 kitab," katanya menjelaskan.

Jenis kita kuno yang ada di perpustakaan pondok pesantren ini terdiri dari berbagai jenis keilmuan, seperti fiqih, ilmu tasawuf, tata bahasa Arab (sharaf dan nahwu), serta ilmu astronomi. Salah satu kitab yang sempat diklaim sebagai hasil karya ulama Malaysia berjudul 'Bahrul Lahut' juga ditemukan di perpustakaan ini.
Red: Djibril Muhammad
Sumber: Antara

Naskah Kitab Abad 17 'Bahrul Lahut' Ditemukan di Pamekasan

Rabu, 09 Maret 2011, 17:33 WIB
Smaller  Reset  Larger
Naskah Kitab Abad 17 'Bahrul Lahut' Ditemukan di Pamekasan
ilustrasi
REPUBLIKA.CO.ID, PAMEKASAN - Naskah kuno kitab 'Bahrul Lahut' (Samudera Ketuhanan) yang merupakan kitab filsafat tulisan tangan ulama asal Aceh telah ditemukan di Pamekasan, Madura, Jawa Timur. "Kalau dilihat dari kertasnya, kitab ini diperkirakan ditulis pada sekitar abad ke-17," kata peneliti naskah kitab kuno di pesantren itu, Umi Masfiah, Rabu (9/3).

Kitab itu ditemukan tim peneliti dari Balai Litbang Kantor Kementerian Agama Semarang di Pondok Pesantren Sumber Anyar, Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan. Kondisi kitab karya ulama asal Aceh ini sebagian sudah tidak utuh lagi dan banyak yang berlubang, karena dimakan rayap.

Ada sekitar 80 eksemplar naskah kitab kuno yang ada di pesantren itu dan semuanya ditulis dengan tangan. "Kalau jenis kitabnya sekitar 120 kitab, karena dalam satu naskah ada yang lebih dari satu kitab," kata Ketua Pengurus Perpustakaan Sejarah di pesantren itu, Kholis.

Kitab 'Bahrul Lahut' merupakan salah satu kitab yang membahas tentang filsafat ketuhanan di antara sejumlah kitab dalam naskah-naskah kuno yang ada di perpustakaan itu. Bahrul Lahut atau Samudera Ketuhanan ini sempat didaku (diklaim) sebagai karya ulama Malaysia, karena menggunakan bahasa Melayu, tetapi kitab ini sebenarnya merupakan kitab karya ulama Indonesia asal Aceh.
   
Selain kitab Bahrul Lahut, juga ditemukan naskah kitab kuno karya intelektual Muslim, Ibnu Arabi, yakni kitab 'Tuhfatul Mursalah' dan 'Kitabul Waqad' atau ilmu astronomi yang juga ditulis dengan tangan. Salah satu isi kitab astronomi yang berbahasa Arab ini menjelaskan tentang peredaran bumi, bulan, dan matahari.

Menurut koordinator tim peneliti Balai Litbang Kemenang Semarang, Zainul Atfal, penelitian naskah kuno ini dilakukan untuk meneliti khazanah keilmuan keagamaan di Indonesia. "Kami memilih pesantren ini sebagai lokasi penelitian, karena untuk sementara, naskah kuno terbanyak berada di pesantren ini," kata Zainul Atfal.
Red: Djibril Muhammad
Sumber: Antara

Minggu, 13 Maret 2011

Ayo Bersodakoh Dengan Menulis

6 February 2011
06:29

Oleh Ayatulloh Marsai

Dalam catatan facebook-nya, Hernowo menulis bahwa proses membaca harus diikuti dengan proses menulis. Dia menggunakan istilah in-put untuk membaca, dan output untuk menulis. Keduanya saling berkaitan, tidak hanya menulis itu butuh membaca, lebih dari itu membaca yang tidak disertai dengan penulisan akan mengalami kebekuan dan kejenuhan tersendiri. Karena menulis diibaratkan sirkulasi bagi informasi yang ada didalam pikiran hasil dari membaca, sengaja ataupun tidak sengaja. Maka, ketika membaca tidak disertai menulis termasuk proses membaca yang tidak sehat, input tidak disertai dengan out put.

Senada dengan Hernowo Hasyim, Komarudin Hidayat, Rektor UIN Jakarta, pernah menulis di Sindo Online, bahwa menulis itu menghindarkan dirinya dari stress. Informasi yang setiap hari masuk, baik melalui media cetak yang di baca, maupun melalui media elektronik yang dia dengar dan saksikan setiap hari tentang perkembangan bangsa ini, membuat dia jenuh dan sumpek. Dia mengaku jenuh dengan informasi yang didominiasi oleh info negative bangsa, persolan Gayus Tambunan, Ariel, Luna Maya, dan sebagainya. Kejenuhan informasi ini dia siasati dengan menuliskan refleksi terhadap persoalan-persoalan tersebut setiap hari. Dan, langkah ini yang melegakan dia, menghindarkan dirinya dari stress dan strok ke depannya.

Fakta bahwa menulis dapat melegakan pikiran juga datang dari seorang peneliti Amerika Serikat, Profesor Belouck, Universitas Cicago. Penelitiannya terhadap 20 mahasiswanya yang di suruh menulis keresahan atau masalah-masalah yang dihawatirkan menjelang ujian. Dan terhadap 20 mahasiswanya yang dia suruh diam menunggu saat ujian berlangsung. Hasilnya, yang menulis sebelum ujian nilainya lebih bagus daripada yang diam menunggu ujian berlangsung.

Prof. Belock, menyimpulkan bahwa dalam keadaan stress otak kita tidak bisa bekerja secara maksimal. Maka menulis sangat berguna untuk memaksimalkan fungsi otak dan berkonsentrasi terhadap yang sedang dikerjakan. Stress tadi adalah produk otak yang negative, dan cara menghilangkannya dengan menuliskan persoalan yang membuatnya stress. Maka stressnya akan hilang.

Saya teringat konsep sodakoh dalam al-Quran yang berfungsi untuk membersihkan harta kita. Harta yang masuk sebagai pendapatan kita, tidak semuanya boleh kita pergunakan untuk kepentingan diri kita sendiri. Namun dalam ajaran Islam, harta itu harus diambil sodakohnya terlebih dahulu, supaya bersih. Jika harta kita sudah bersih, maka sirkulasi rizki yang akan masuk berlipat-ganda besarnya. Itu janji Allah.

Dari pengkiasan ini, saya berpendapat bahwa kegiatan menulis itu akan menambah pengetahuan kita, disamping orang lain juga akan terbantu dengan mengambil manfaat dari karya tulis kita. Saya membayangkan, jika ulama-ulama sekarang ini produktif menulis, membagi ilmunya, maka akan kaya khazanah keilmuan kita nanti ke depan. Disamping ulama-ulama juga semakin bertambah pengetahuan dan kebijaksanannya. Ayo sedakahkan pengetahuan kita dengan menulis.

*)Penulis adalah Pembina Bulletin Ciplukan Madrasah Aliyah Al-Khairiyah Karangtengah
Juga tergabung dalam Komunitas Penulis Muda Cilegon (KPMC)

Rabu, 09 Maret 2011

Jelang 100 Tahun 'Presiden Kedua Indonesia', Mr Prawiranegara

Rabu, 26 Januari 2011, 12:53 WIB
Smaller  Reset  Larger
Jelang 100 Tahun 'Presiden Kedua Indonesia', Mr Prawiranegara
Ketua/Presiden PDRI, Syafruddin Prawiranegara
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Tokoh Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), Syafruddin Prawiranegara, akan genap berusia 100 tahun pada 28 Februari 2011. Panitia peringatan mengadakan sejumlah acara untuk memperingati 'Presiden Indonesia ke-2' itu.

"Panitia peringatan seabad Mr Syafruddin Prawiranegara akan meluncurkan novel sejarah Presiden Prawiranegara, seminar, dan pameran foto di Yogyakarta dan Bukittinggi," kata juru bicara panitia, Lukman Hakiem, pada Republika, Rabu (26/1).

"Kami akan meminta Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk membuka pameran di Yogyakarta dan untuk pameran di Bukittinggi kami berharap Menhan Purnomo Yusgiantoro mau membuka," kata Lukman lagi.

Mr. Syafruddin Prawiranegara, atau juga ditulis Sjafruddin Prawiranegara lahir di Serang, Banten, 28 Februari 1911. Posisinya dalam sejarah Indonesia sangat penting, mengingat ia menjadi Ketua/Presiden PDRI saat Belanda melakukan Agresi Militer II 19 Desember 1948 dan menangkap Soekarno-Hatta di Yogyakarta. Pada saat menjabat sebagai Menteri Kemakmuran inilah terjadi Agresi Militer II dan menyebabkan terbentuknya PDRI.

Namun, sejarah Syafruddin seperti dilupakan. Padahal PDRI dijuluki "penyelamat Republik", yang membuat pemerintahan Republik Indonesia masih tetap eksis.

Atas usaha Pemerintah Darurat, Belanda terpaksa berunding dengan Indonesia. Perjanjian Roem-Royen mengakhiri upaya Belanda, dan akhirnya Soekarno dan kawan-kawan dibebaskan dan kembali ke Yogyakarta.

Pada 13 Juli 1949, diadakan sidang antara PDRI dengan Presiden Sukarno, Wakil Presiden Hatta serta sejumlah menteri kedua kabinet. Serah terima pengembalian mandat dari PDRI secara resmi terjadi pada tanggal 14 Juli 1949 di Jakarta.

Syafrudin Prawiranegara pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, Menteri Keuangan, dan Menteri Kemakmuran. Ia menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan pada tahun 1946, Menteri Keuangan yang pertama kali pada tahun 1946 dan Menteri Kemakmuran pada tahun 1947.

Saya "Anti" Demokrasi

oleh : Emha Ainun Nadjib.

Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, dan Danramil harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya diktator mayoritas. Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang mayoritas bukan yang selain Islam – harus mengalah dan wajib kalah. Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namaya.

Kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina banyak teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein nranyak, yang salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, yang salah bukan Kristen. Kalau amerika Serikat jumawa dan adigang adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen. Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di seantero Bagdad, Amerika Serikat lah pemegang sertifikat kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam.

“Agama” yang paling benar adalah demokrasi. Anti demokrasi sama dengan setan dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaiman yang pro dan yang kontra demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. Golongan Islam mendapat jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites terus menerus oleh subyektivisme kaum non-Islam.

Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi agar diakui oleh peradaban dunia. Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang membaca kelakuan kecurangan informasi jaringan media massa Barat atas kesunyatan Islam.

Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan previlese dari Tuhan untuk mempelajari Islam tidak dengan membaca Al-Quran dan menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, melainkan dengan menilai dari sudut pandang mereka. Maka kalau penghuni peradaban global dunia bersikap anti-Islam tanpa melalui apresiasi terhadap Qur’an, saya juga akan siap menyatakan diri sebagai anti-demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap kelakuan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. Dan dari sudut itulah demokrasi saya nilai, sebagaimana dari sudut yang semacam juga menilai Islam.

Di Yogya teman-teman musik Kiai Kanjeng membuat nomer-nomer musik, yang karena bersentuhan dengan syair-syair saya, maka merekapun memasuki wilayah musikal Ummi Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. Musik Kiai Kanjeng mengandung unsur Arab, campur Jawa, jazz Negro dan entah apa lagi. Seorang teman menyapa: “Banyak nuansa Arabnya ya ? Mbok lain kali bikin yang etnis ‘gitu…”

Lho kok Arab bukan etnis?

Bukan. Nada-nada arab bukan etnis, melainkan nada Islam. Nada Arab tak diakui sebagai warga etno-musik, karena ia indikatif Islam. Sama-sama kolak, sama-sama sambal, sama-sama lalap, tapi kalau ia Islam-menjadi bukan kolak, bukan sambal, dan bukan lalap.

Kalau Sam Bimbo menyanyikan lagu puji-puji atas Rasul dengan mengambil nada Espanyola, itu primordial namanya. Kalau Gipsy King mentransfer kasidah “Yarim Wadi-sakib…”, itu universal namanya. Bahasa jelasnya begini: apa saja, kalau menonjol Islamnya, pasti primordial, tidak universal, bodoh, ketinggalan jaman, tidak memenuhi kualitas estetik dan tidak bisa masuk jamaah peradaban dunia.

Itulah matahari baru yang kini masih semburat. Tetapi kegelapan yang ditimpakan oleh peradapan yang fasiq dan penuh dhonn kepada Islam, telah terakumulasi sedemikian parahnya. Perlakuan-perlakuan curang atas Islam telah mengendap menjadi gumpalan rasa perih di kalbu jutaan ummat Islam. Kecurangn atas Islam dan Kaum Muslimin itu bahkan diselenggarakan sendiri oleh kaum Muslimin yang mau tidak mau terjerat menjadi bagian dan pelaku dari mekanisme sistem peradaban yang dominan dan tak ada kompetitornya. “Al-Islamu mahjubun bil-muslimin”.

Cahaya Islam ditutupi dan digelapkan oleh orang Islam sendiri. Endapan-endapan dalam kalbu kollektif ummat Islam itu, kalau pada suatu momentum menemukan titik bocor – maka akan meledak. Pemerintah Indonesia kayaknya harus segera mervisi metoda dan strategi penanganan antar ummat beragama. Kita perlu menyelenggarakan ‘sidang pleno’ yang transparan, berhati jernih dan berfikiran adil. Sebab kalau tidak, berarti kita sepakat untuk menabuh pisau dan mesiu untuk peperangan di masa depan.


Twitter: @mukhlisyusuf
Looking for more credible news? click the Indonesian News Portal,  antaranews.com

Ideologi dalam Tulisan


Apakah setiap tulisan ideologis? Iya, jika tulisan itu berangkat dari sebuah kesadaran untuk sebuah motif tertentu. Ideologi jangan dibayangkan melulu sebagai keyakinan transendental atau pilihan politis. Ideologi, kata Stuart Halll, merujuk pada gambaran, konsep, dan premis-premis yang menyediakan framework yang kita pakai untuk merepresentasikan, menginterpretasi, memahami beberapa aspek dari eksistensi sosial.

Jadi ideologi, dalam konteks ini, adalah framework atau perspektif. Setiap tulisan, apapun, pasti punya perspektif. Proses ini berjalan, tanpa orang menyadari (unconsciously), bahwa ketika mereka memformulasikan dan membantuk pandangannya sejatinya dipengaruhi oleh premis-premis ideologis.

Untuk menjelaskan bagaimana ideologi beroperasi, kita bisa meminjam hipotesis antropologi linguistik Sapir-Whorf, bahwa ’tiap budaya memiliki jalan yang berbeda dalam mengklasifikasi dunia’. Skema klasifikasinya akan nampak pada struktur semantik dan linguistik pada masyarakat yang beragam. Misalnya, orang-orang eskimo memiliki banyak kosakata untuk salju, juga orang arab yang punya beragam istilah untuk onta.

Dari ideologi inilah makna dibangun. Dalam pendekatan strukturalis, pokok persoalannya adalah signifikansi. Segala sesuatu dan peristiwa dalam dunia nyata tak berisi makna yang integral, tunggal, dan intrinsik. Makna semata ditransmisikan melalui bahasa. Dunia harus ’dibuat’ untuk ’dimengerti’. Bahasa dan simbolisasi adalah piranti untuk memproduksi makna. Dari satu peristiwa, bisa muncul beragam makna.(eds)

(Sumber dari: sekolahmenuliskearifan.com)

Selasa, 08 Maret 2011

CATATAN SENJA...


14-Feb-11
17:59
Sebentar lagi, malam datang menutup siang
Suara-suara membesarkan Yang Maha Besar berkumandang
Juga suara itu, memuliakanmu, Muhammad
Sebagai jejak bagi musafir, bahwa langkah dakwahmu sampai ke kampung kami. Ketidakdatanganmu langsung ke kampong kami, bukan halangan bagi kami untuk mencintaimu. Karena suaramu dari jauh sudah jelas terdengar oleh telinga hati kami. Semata-mata karena suaramu adalah suara hati kami juga.

20:34
Mulai umatmu ‘bernyanyi’ menyanjungmu
Berdendang merayu
Berbisik meyakinkanmu, bahwa umatmu mencintaimu sampai mati.

Kamu adalah mata air yang mencukupi haus kami akan tauladan kehidupan
Tauladan utuh yang tak merubah rumusan al-quran, tidak seperti para plagiat itu…

KS-Posco, Pelabuhan Pemda dan Kesejahteraan Rakyat

Oleh Ayatullah Marsai

Foto: Suhendra/Detik Finance
Saya tidak mau masuk ke dalam citra yang dikembangan sekarang. Bahwa Krakatau Steel (KS) dan Pemerintah Kota (Pemkot) Kota Cilegon itu lawan yang saling menjatuhkan antara satu sama lain. Dengan kata lain, jika satu muncul, maka yang satu tenggelam. Perseteruan itu hanya permukaan saja, sambil dibubuhi dengan politisasi kapitalisme atau sebaliknya, kapitalisasi politik. Seolah-olah KS berkepentingan menjadi orang nomor satu di Pemkot Cilegon, seolah Pemkot juga adalah “perusahaan” yang patut bersaing dengan KS mengejar keuntungan. Padahal tidak demikian adanya.
Pemkot Cilegon dan KS mempunyai posisi masing-masing berbeda. Pemkot Cilegon sebagai pemerintah yang berkewajiban mengelola potensi-potensi daerah untuk kepentingan kesejahteraan rakyat secara khusus, sedangkan KS sebagai perusahaan yang berkepentingan untuk menggali keuntungan yang sebesar-besarnya untuk kepentingan perusahaan. Kalaupun ada sebagian kecil keuntungan yang diserahkan kepada kepentingan social, itu karena undang-undang negara mengharuskannya. Kalau tidak, mungkin tidak.
Dalam kapasitasnya masing-masing, baik Pemkot maupun KS, “berseteru” dengan alasan yang sama persis, yakni untuk menyejahterakan masyarakat Cilegon. Alasan ini dipegang erat oleh kedua belah pihak. Paradoksnya, tujuan yang sama kok bisa berseteru dalam jangka waktu yang sangat panjang, saling membenarkan pendiriannya masing-masing.
Menjadi meragukan memang, apakah benar, baik KS maupun Pemda berseteru untuk kepentingan masyarakat atau rakyat? Orang awam hanya mampu melihat permukaan ini, mungkin benar, mungkin juga hanya tameng saja. Artinya, argumen-argumen yang selama ini mereka perjuangkan atas nama rakyat itu sejati, atau hanya kebohongan belaka.
Penandatanganan MoU beberapa minggu kemarin, bukan puncak (klimaks), sama sekali bukan. Penandatanganan MoU tersebut merupakan awal bagi kepentingan bersama yang sejati. Karena, dari titik inilah rakyat yang selama ini diatasnamakan, bisa melihat keterhubungan dengan titik tujuan bersama. Tentu saja hal ini bisa dilihat dari langka masing-masing pihak ke depan pasca-MoU ini. Apakah betul yang mereka perjuangkan selama ini, banyak mengakomodir slogan-slogan mereka selama “masa perjuangan”, atau justru slogan-slogan atas nama rakyat itu ke depan dilipat rapat-rapat dan disemprotkan pewangi ‘dana csr’ untuk menutupi “kebusukan” di dalamnya. Sementara, tenaga kerja yang diserap, keuntungan hasil usaha, hanya dirasakan oleh segelintir orang dan golongan tertentu saja. Dan, efek kerusakan lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam tidak dicarikan solusi antisipasinya.
Untuk menjawab persolan-persolan yang bakal muncul tersebut, Pemkot Cilegon dan KS harus terus berkomitmen duduk bersama secara kontinuitas, berdiskusi tentang penyerapan tenaga kerja, mengantisipasi kesenjangan sosial sebagai konsekwensi logis masyarakat urban, polusi udara, kerusakan lingkungan, bahkan bersiap siaga menghadapi kemungkinan letusan Gunung Anak Krakatau.
Saya ragu dengan penyerapan tenaga kerja, baik oleh Pemda maupun KS-Poso, bisa mengakomodir masyarakat Cilegon, tanpa terlebih dahulu membangun kompetensi masyarakat terlebih dahulu lewat pendidikan. Pendidikan yang berorientasi industri dan kepelabuhanan ‘wajib’ ada di Kota Cilegon, tidak boleh tidak. Sebab, hanya dengan kompetensi di bidang industri dan kepelabuhananlah, masyarakat Cilegon bisa mengisi peluang yang di butuhkan oleh KS-Posco dan Pelabuhan Pemkot ini. Tanpa kompetensi itu, siap-siap saja mengalami kebangkrutan, baik karena tidak berkompetennya tenaga kerja ataupun karena kolusi yang mungkin akan banyak terjadi.
Singkatnya, KS-Posco dan Pemkot harus memulai pekerjaan dari penyediaan SDM professional dari masyarakat Cilegon, dengan cara memberi pendidikan dan pelatihan, merintis sekolah dan perguruan tinggi yang berorientasi industri dan kepelabuhanan. Tanpa langkah ini, saya kira slogan-slogan atas nama kesejahteraan rakyat dari kedua bela pihak tidak lebih dari tameng belaka untuk menutupi kepentingan yang disembunyikan. [wallahu ‘alam bissawab].

Penulis adalah Kabid Karya Komunitas Penulis Muda Cilegon

Senin, 07 Maret 2011

Menata Banten Lama dari Sekolah

3/4/2011
[5:54 PM]
Oleh Ayatulloh Marsai
Menarik sekali tajuk yang diangkat oleh Banten Raya Post, 2 Maret 2011, “Menata Banten Lama”. Menarik, karena fenomena menata Banten Lama bukan hal baru. Tapi sudah di kumandangkan sejak Banten resmi menjadi provinsi tersendiri dari Jawa Barat. Namun, dari dulu sampai sekarang masalahnya masih kurang lebih sama, kecilnya anggaran, masalah internal dan rendahnya kesadaran masyarakat sekitar menjadi faktor penghambat berlangsungnya penataan tersebut.
Sementara, seluruh masyarakat Banten, bahkan seluruh masyarakat Indonesia, merasa memiliki peninggalan Kesultanan Islam Banten ini. Tertatanya Banten Lama menjadi komplek peninggalan sejarah sekaligus komplek wisata yang rapih, bersih dan nyaman tentu menjadi harapan semua pihak. Kesan yang selama ini tidak dirasakan oleh para pengunjung, baik domestik maupun mancanegara.
Saya pribadi sering berkunjung ke Banten Lama. Sejak kecil, masa sekolah, lebih-lebih masa kuliah (berkaitan jurusan saya Sejarah dan Peradaban Islam), hingga sekarang saya sering membawa  siswa saya untuk wisata sejarah ke komplek Banten Lama. Tidak ada kesan indah selama berkaitan dengan pelayanan dan perawatan tempat-tempat bersejarah di Banten Lama ini. Sebaliknya, kesan semerawut dan tidak nyaman oleh keberadaan pedagang dan pengemis-pengemis yang di luar kewajaran. Itu di sekitar Masjid Agung.
Di tempat-tempat bersejarah lainnya, seperti Istana Kaibon, Istana Surosowan, Meuseum Kepurbakalaan Banten Lama, Benteng Speelwizk, selama belasan tahun terakhir tidak beranjak dari keadaannya semula. Tidak ada perubahan seiring dengan perubahan status Banten menjadi provinsi. Ketika saya tanya sana-sini, sebabnya lagi-lagi warga masyarakat yang tidak mengindahkan himbauan dari petugas. Pemandangan istana menjadi lapangan bola, tempat menggembala kambing, hingga tempat mojok-nya pasangan remaja menjadi pemandangan sehari-hari. Belum lagi, sungai-sungai yang mengelilingi Banten Lama menjadi tempat sampah raksasa paling diminati oleh warga. Ada yang menjadikannya tempat usaha dan ada juga yang terlantar begitu saja dengan semak belukar menyelimutinya. Padahal, sungai sepanjang Banten Lama dulu menjadi kanal-kanal indah yang menjadi jalur transportasi perahu-perahu yang membawa barang dari kapal besar di Karangantu ke istana dan sebaliknya.
Sungguh akan menjadi pemandangan yang indah dan menjadi daya tarik tersendiri bila fungsi sungai itu sekarang direkonstruksi sebagaimana fungsinya semula.
Mimpi ini sekarang terpaut pada rencana Pemkot Serang untuk menata pendapatan asli daerah dari retribusi pengunjung Banten Lama. Pemkot Serang, menyadari betul bahwa Banten Lama adalah potensi pendapatan asli daerah (PAD) yang cukup besar. Itu dapat dilihat dari perkiraan pengunjung yang datang ke Banten Lama tidak kurang dari 16 juta per tahunnya. Oleh karena itu, Pemkot Serang berencana memungut retribusi dari pengunjung Banten Lama sebesar Rp 1.000. Dengan demikian, penataan kembali Banten Lama tidak hanya tergantung pada anggaran APBN, Pemprov Banten namun sekarang mendapat suntikan tambahan dari Pemda Serang sendiri sebagai pemerintahan yang langsung mengelola wilayah tersebut. Atau lebih sempurna lagi kalau Banten Lama mampu membiayai dirinya sendiri untuk biaya oprasional dan peningkatan pelayanan terhadap para pengunjung, baik peziarah maupun wisatawan sejarah. Tentu saja biaya itu didapat dari retribusi yang selama ini diberlakukan atau yang sedang digodong oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Serang saat ini.

Menanam Kesadaran Sejarah di Bangku Sekolah
Semua kendala yang tampak dipermukaan sejak urusan internal, pedagang, hingga warga sekitar Banten Lama, saya kira bermuara pada satu sebab, yaitu rendahnya “kesadaran sejarah”. Jika “diagnose” ini disepakati, maka perlu kiranya menanamkan kesadaran sejarah itu kepada masyarakat sekitar khususnya, seluruh masyarakat Banten pada umumnya. Dan, secara sederhana wilayah penyadaran sejarah terbagi dua, yaitu sekolah dan masyarakat umum.

Dalam tulisan ini saya hanya akan berdiskusi hal yang pertama, penanaman kesadaran sejarah di sekolah. Saya kira sekolah cukup efektif untuk menanamkan kesadaran sejarah, identitas bangsa, semangat patriotism. Disamping karena kontinuitasnya temu muka antara guru dengan siswa, juga karena usia sekolah adalah usia dimana proses pembentukan identitas diri berlangsung. Salah satu yang bisa menumbuhkan itu semua adalah dengan mengetahui sejarah daerahnya, sejarah bangsanya dan posisi dirinya dalam keterkaitannya dengan sejarah perjalanan bangsa.
Masalahnya, apakah porsi sejarah Banten di sekolah sudah cukup untuk tujuan khusus di sini? Saya kira porsi penyajian sejarah Banten di sekolah tidak cukup untuk penyadaran sejarah lokal dalam istilah Taufik Abdullah (1996).
Para ahli sejarah menawarkan tiga alternatif untuk memasukan sejarah lokal di sekolah. Pertama, menjadikan sejarah lokal menjadi mata pelajaran tersendiri  disamping pelajaran sejarah nasional. Kedua, tetap membiarkan sejarah lokal masuk ke dalam mata pelajaran sejarah nasional. Ketiga, penekanan pada metode pengajaran atau materi tambahan di sekolah.
Dari alternatif itu, Pemprov Banten perlu mengambil langkah khusus untuk memulai menjadikan Sejarah Lokal sebagai pelajaran tersendiri, disamping Sejarah Nasional. Karena dua pilihan terakhir sebenarnya sudah berjalan. Terbukti tidak efektif untuk kepentingan sejarah lokal. Oleh karena itu menjadikan pelajaran sejarah lokal sebagai pelajaran tersendiri menjadi prioritas utama untuk “mendobrak” kesadaran sejarah di Banten. Pada gilirannya akan melahirkan beberapa efek positif, misalnya munculnya penulis-penulis sejarah lokal, penerbitan-penerbitan lokal, dan meningkatnya kajian-kajian kebantenan.
Salah satu langkah yang tidak boleh diditnggalkan pada tingkat pelaku pendidikan, khususnya guru, sangat menarik saya kira mengajak langsung siswanya ke lokasi Banten Lama ini. Biarkan mereka melihat, merasakan kemegahan mahakarya pendahulunya. Sekaligus siswa juga bisa melihat jejak kekejaman penjajah yang telah membumihanguskan Kesultanan Banten yang sekarang hanya tersisa puing-puingnya saja. Metode ini “wajib” dilakukan oleh guru sejarah lokal nantinya.
Kesadaran sejarah yang terbangun di sekolah pada gilirannya akan menjadi kesadaran sejarah yang massif ke depan. Memang tidak bisa dipungkiri sangat lambat, namun sangat efektif. Karena masyarakat Banten masa depan tidak lain adalah generasi yang berada di sekolah saat ini. Mereka menentukan Banten masa depan. Jika dari sekarang, mereka sudah kita bekali dengan pengetahuan dan kesadaran sejarah Banten, maka kesadaran itu mengendalikan gerak langkahnya ke depan. Sehingga Banten Lama akan tertata dengan baik, Istana Surosowan, Kaibon, benteng Speelwizk, tidak lagi menjadi lapangan sepak bola.
Tidak kalah pentingnya seluruh anggaran yang dialokasikan untuk menata kembali Banten Lama nantinya, tidak akan menghilangkan nilai kesejarahannya, jika kesadaran sejarah sudah menjadi kesadaran kolektif seluruh masyarakat Banten. Semoga.  

[Dimuat Banten Raya Post, 12 Maret 2011]


Jumat, 04 Maret 2011

Cilegon, Kota Santri Terampil Industri

Oleh Ayatulloh Marsai*
“Peta Pendidikan Kota Cilegon”. Inilah tema yang terpampang pada spanduk Seminar Pendidikan yang diadakan oleh Keluarga Mahasiswa Cilegon (KMC) Jakarta di Gedung DPRD Cilegon.
Hadir sebagai pembicara, Prof. Amin Suma, Prof. Yoyo Mulyana, Mukhtar Ghozali (Kepala Dinas Pendidikan Kota Cilegon), dan Isomudin (Kepala Mapenda Kemenag Kota  Cilegon). Masing-masing pembicara memetakan pendidikan Kota Cilegon, menurut sudut pandangnya masing-masing. Tetapi, pada gilirannya sudut pandangan tersebut membentuk gambaran utuh peta pendidikan di kota ini.
Mukhtar Gozali dan Isomudin, sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Mapenda Kota Cilegon, lebih membicarakan program-program pendidikan, baik berkaitan dengan fasiltas pendidikan maupun tunjangan yang diterima guru. Diantara fasilitas yang menjadi kebanggaan pemda saat ini adalah SPP gratis dan buku UN gratis yang berikan kepada SD, SMP dan SMU. Begitu juga tunjangan yang diterima oleh guru sekolah tersebut.
Dengan kehadiran Mapenda Kemenag Kota Cilegon, panitia agaknya ingin meng-caver semua jenis pendidikan di Kota Cilegon, termasuk madrasah. Jumlah madrasah menurut Isomudin, masih sangat terbatas, terutama negeri. Jumlah yang terbatas ini, juga diikuti dengan fasilitas yang terbatas, terutama madrasah swasta. Misal, buku UN.
Saat ini yang sudah menerima program buku UN gratis ini hanya sekolah-sekolah umum saja. Maka, satu kewajaran bila madrasah merasa “dianaktirikan” oleh Pemda. Memang betul, madrasah sudah menerima SPP gratis. Namun, itu hanya MAN negeri saja. Dan jumlahnya hanya dua madrasah, MAN Pulomerak dan MAN Cilegon. Tidak sebanding dengan sekolah-sekolah umum, tak pandang negeri atau swasta, yang telah menerima buku UN gratis ini.
Sehingga kita patut bertanya, apa arti program-program Pemda ini, jika hanya akan melahirkan diskriminasi sosial? Akan menciptakan kesenjangan antara pendidikan umum dengan pendidikan Agama? Padahal, pemerintah memberikan standar yang sama untuk kelulusan ujian nasional. Jawaban yang muncul dari sambutan Kepala Dinas Pendidikan, untuk menganggap ini bukan masalah adalah ‘tidak ada kewenangan’ Pemda untuk masuk ke dalam “dapur”-nya Mapenda Kemenag. Atau alasan yang lainnya, “nanti akan kebagian semua, tapi bertahap. Sekarang sekolah umum dulu”. Apakah pengertian bertahap ini bergantian. Artinya, setelah sekarang sekolah umum, nanti madrasah. Pada saat madrasah kebagian buku UN gratis itu, sekolah umum tidak kebagian. Inilah “bertahap” dalam pengertian bergantian.
Atau, apakah bertahap dalam pengertian jenjang tahapan pemberian. Sekarang sekolah umum dulu, baru nanti sekolah umum dan madrasah. Kalau pengertiannya demikian, tetap madrasah menjadi “anak tiri yang kesepian” (istilah Iwan Fals untuk pendidikan). Inilah menurut saya peta pendidikan Kota Cilegon, “peta kesenjangan, sekolah umum dan madrasah”.
SUDAHKAH PENDIDIKAN DI CILEGON BERKARAKTER?
Prof. Yoyo Mulyana, menelisik makna dari semua yang nampak di permukaan. Bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mencari, memberi makna pada segala sesuatu. Maka, menurutnya, kita patut bertanya kepada Pemda, “apa makna dari semua ini”, apa hasil yang didapat dari semua program pendidikan Pemda Cilegon untuk tujuan pendidikan itu sendiri. Apakah dengan memberikan tunjangan yang lebih kepada guru, memberi SPP gratis, memberi buku UN gratis, linear dengan prestasi guru dan kualitas pendidikan di Cilegon?.

Kita banyak menemukan manusia-manusia mesin hasil dari pendidikan kita. Dalam konteks nasional, korupsi menggurita, tawuran, demonstrasi yang anarkis, fanatisme radikal, merajalela. Semua itu adalah produk pendidikan yang gagal, melahirkan manusia yang pintar, tapi tidak berkarakter, tidak bermoral. Bagaimana dengan potret produk pendidikan di Cilegon?
Seorang guru bercerita kepada forum seminar, bahwa dia kewalahan menghadapi anak didiknya. Ketika guru memberi nasehat, anak itu malah mendoakan yang tidak-tidak kepada gurunya: “jejake tue, menawe ore payu, ore ole rabi sampe mati!” ; Beberapa waktu yang lalu ada kasus pembunuhan di sekitar wilayah Panggung Rawi (kasus yang jarang terjadi di Cilegon sebelumnya). Sebabnya, rebutan pacar. Mereka berusia belia, baru lulus SMA/SMK, berstatus sebagai karyawan perusahaan di Cilegon; kita juga bisa melihat efek negatif yang ada di Jalan Lingkar Selatan dan bendungan Ciwaduk, bagaimana aksi mereka yang tidak pantas dilakukan pasangan yang tidak sah, apalagi diumbar di ruang terbuka. Masih ditempat yang sama, juga banyak aksi balapan liar. Dan, lebih marak lagi pemandangan-pemandangan  asusila bila kita tengok tempat-tempat khusus berkedok hiburan. Inilah peta produk pendidikan kita, kontradiktif antara biaya besar yang dikeluarkan dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Pendidikan tidak bisa menciptakan manusia yang berbudi pekerti luhur, berakhlak dan berkarakter, seperti yang dicita-citakan oleh Ki Hajar Dewantara.
Masukan Prof.  Yoyo Mulyana dalam hal ini kepada Dinas Pendidikan Kota Cilegon segera menerapkan pendidikan berkarakter, tanpa merubah kurikulum yang ada. Melainkan, dengan cara memasukan segi akhlak dan budi pekerti pada setiap mata pelajaran. Ini harus segera dilakukan karena sudah  merupakan keputusan Presiden RI, Susilo Bangbang Yudoyono.
Prof. Amin Suma, menambahkan, urusan akhlak bukan hanya urusan sekolah. Tapi keluarga dan masyarakat turut bertanggungjawab. Dia berharap Cilegon menjadi kota industri yang santri, dan kota santri yang mahir industri. Sehingga kehidupan masyarakat yang santri menjadi teladan bagi pelajar di tengah aktivitas kota industri.
Dalam hal ini penulis berharap besar kepada Walikota Cilegon bisa komitmen terhadap status Kota Santri ini. Apalagi secara pribadi, nilai-nilai kesantrian, seharusnya melekat erat dalam pribadi Walikota karena dia seorang santri tulen. Sehingga dalam mendesain tata kehidupan kota tidak terlepas dari visi kesantrian. Efeknya akan sangat baik terhadap pendidikan, jika anak didik tidak lagi menemukan aktifitas sosial kemasyarakatan yang bertentangan dengan nilai-nilai moral yang ditanamkan di sekolah.

PELAJARAN SEJARAH LOKAL
Ada tawaran menarik dari peserta untuk menciptakan pendidikan berkarakter di Kota Cilegon, yaitu dengan memberikan pelajaran Sejarah Pahlawan-pahlawan Cilegon. Tawaran ini di sepakati oleh Prof. Amin Suma, sekaligus mendorong agar penyusunan buku sejarah pahlwan-pahlawan Cilegon ini segera dilakukan oleh sejarawan Cilegon, secara individu atau kerja tim. “mumpung saya masih mengenal beberapa tokoh Cilegon yang masih hidup”, ujar Profesor.

Salah satu fungsi sejarah adalah memberi pelajaran (education). Buku sejarah kepahlawanan tokoh-tokoh Cilegon akan memberikan pelajaran moral, patriotisme, rasa memiliki kepada kota tercinta, dan sekaligus memberikan identitas kota Cilegon sebagai kota pahlawan yang santri. Dan, pada akhirnya mudah-mudahan bisa menghasilkan lulusan yang berkarakter, budi pekerti tinggi, sekaligus terampil industri. Wallahu’alam.
*Penulis adalah Peserta Seminar, utusan Madrasah Karangtengah, aktif di Komunitas Penulis Muda Cilegon (KPMC).

Kamis, 03 Maret 2011

Menulis, Bekerja Untuk Keabadian

Oleh Ayatulloh Marsai

“Orang boleh pintar setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer)

Begitulah seorang Pram menulis. Dia seolah berkata: “menulislah, maka engkau akan abadi!” karena memang dengan menulis kita akan mampu mengabadikan diri sepanjang zaman, meski jasad kita sudah menjadi tanah. Buktinya, kita masih bisa berguru pada ‘orang-orang hebat’ yang sudah lama meninggal seperti, Plato, Aristoteles, Ibnu Ishak, Ibnu Kasir, al-Khawarizm, Umar Khayam. Dari Imam Nawawi al-Bantany, Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, dan banyak lagi. Karya-karya mereka masih setia membimbing umat manusia hingga sekarang.

Maka benar pepatah, “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan nama”. Nama mereka sampai kapanpun akan selalu disebut dalam kancah keilmuan mereka. Pendapat mereka akan terus dikutip dan terus dikutip dalam setiap kesempatan yang sesuai. Nama dan karya mereka tetap bertebaran memberikan manfaat pada kehidupan ini meskipun secara fisik mereka sudah menjadi tanah.

Tidak mustahil, bahkan biasa terjadi, tulisan memberikan kekuatan perlawanan terhadap sebuah keadaan. Kekuatannya lebih dari senjata M-16 maupun AK-47. Seperti Hitler bisa menguasai Jerman dan menggerakan Otto Bismarch untuk menguasai Eropa, dengan ide-ide yang dituliskan dalam “Mein Keimph”.

Dalam sejarah panjang perjuangan Indonesia melawan penjajah Belanda, juga tidak sepi dari para pejuang pena. Diantaranya adalah Ki Hajar Dewantara, dia menulis, “Seandainya Aku Orang Belanda”, pada saat Belanda melaksanakan pesta ulang tahun ke-100 di Indoneisa. Tulisannya mendapat sambutan hangat dari kaum humanis Belanda dan menjadi kegelisahan tersendiri bagi kerajaan Belanda. Dan, tidak lama setelah tulisan itu beredar, kerajaan Belanda mengeluarkan kebijakan politik balas budi (politik etis). Isinya adalah transmigrasi, irigasi dan edukasi. Dengan ketiga program ini, kerajaan Belanda bermaksud memberikan atau mengembalikan sedikit keuntungan mereka untuk penduduk “boemi poetra” melalui program yang berorientasi pribumi. Perubahan orientasi politik kerajaan Belanda ini, sekali lagi akibat sebuah karya tulis seorang Ki Hajar Dewantara, yang patut dipegang sampai sekarang.

Semua Orang Bisa Menulis
Apakah setiap orang bisa menulis? Tentu saja bisa, asalkan mau berlatih setiap hari. Menulis bukan pengetahuan melainkan keterampilan, siapa pun yang rutin berlatih maka dia akan terbiasa dan bisa. Setelah terbiasa dan bisa, seseorang akan sampai pada tahapan memperbaiki kualitas tulisan tersebut.

Menulislah, diary atau catatan harian sekalipun. Banyak contoh karya besar yang merupakan diary atau catatan harian seseorang. Misalnya, “Catatan Harian Ahmad Wahib”, diterbitkan LP3ES, Jakarta, merupakan catatan-catatan singkat Ahmad Wahib. Juga surat-surat Kartini yang kemudian dibukuan oleh Armin Pane dengan judul, “Dari Gelap Terbitlah Terang”. Dua karya ini pada zaman yang melampaui penulisnya sendiri, telah merubah pandangan dunia tentang Islam dan perempuan. Karya Ahmad Wahib berpengaruh besar menggeser tradisi berfikir Islam Indonesia, dari cara berfikir dogmatis menjadi berfikir merdeka. Lebih besar lagi pengaruhnya terhadap organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Hidup Ahmad Wahib yang singkat tidak mengakhiri pengaruhnya terhadap perkembangan pemikiran Islam Indonesia, ternyata tulisannya abadi menjadi inspirasi generasi muda muslim, baik Indonesia maupun dunia.

Sementara, karya Kartini, telah merubah nasib perempuan Indonesia pada masa jauh setelah Kartini meninggal. Tulisan-tulisan Kartini telah mengentaskan perempuan Indonesia dari diskriminasi gender, menuju kesetaraan gender di Indonesia. Inilah kekuatan tulisan, menembus ruang dan waktu.

Bagaimana seseorang bisa menulis?
Bagaimana seseorang bisa menulis? Dia harus membaca. Kegiatan menulis tidak bisa dipisahkan dengan membaca. Ada yang mengatakan menulis adalah saudara kembar membaca. Seseorang bisa menulis kalau dia sudah sukses membaca. Tentu membaca dalam pengertian yang sangat luas. Membaca dalam pengertian yang seluas-luasnya, tidak hanya terbatas membaca teks tulisan, namun juga termasuk merenungkan alam dan segala isinya, sesuatu yang ada dan mungkin ada, dari yang konkret hingga yang abstrak.

Membaca, menurut Quraish Shihab, “menghimpun” makna dari tercerai berai kemudian dihimpun menjadi suatu pembacaan dan pemahaman. Tidak jauh dengan pendapat Hernowo, bahwa membaca adalah ‘megikat makna’ dari paparan teks yang dibaca. Bagaimana seseorang bisa mengambil “nyawa” dari lembar per lembar bacaan yang dibacanya, itulah mengikat makna.
Sedangkan kegiatan menulis adalah bentuk akumulasi dari kemampuan membaca, kemudian dituangkan hasil pembacaannya itu lewat tulisan. Di sini, seorang penulis sukses pasti seorang pembaca yang sukses. Misalnya, seorang Hernowo, pekerjaan rutinnya selama belasan tahun adalah membaca karya-karya yang akan diterbitkan Penerbit Mizan, kemudian dia buatkan sinopsisnya untuk kepentingan promosi buku tersebut. Siapa sangka setelah pekerjaan itu dia tekuni selama belasan tahun, dia malah menjadi penulis sukses. Dia berhasil menulis buku bagaimana cara membaca (Mengikat Makna), bagaimana cara menulis (Quantum Writing), dan bagaimana cara membuat buku (dalam bab khusus Quantum Writing).

Sesuatu yang tidak diajarkan oleh orang-orang yang bukunya dia baca. Namun karena Hernowo mampu membaca pola ‘kepenulisan’ dari karya mereka, maka dia bisa menulis bagaimana caranya menulis. Bahkan lebih bisa dari guru Bahasa Indonesia yang lebih berkewajiban mengajarkan bagaimana caranya menulis kepada siswanya. Kenapa Hernowo bisa? Karena Hernowo sudah banyak membaca. Setiap buku yang akan diterbitkan mau tidak mau harus dia baca, dia simpulkan, dan dia tulisakan sinopsisnya. Jadi, dari rutinitas membaca inilah dia bisa menulis.

Dengan demikian semua orang bisa menulis? Betul! Semua kalangan bisa menulis, apakah ia pelajar, mahasiswa, karyawan, birokrat, pejabat, hingga ibu rumah tangga. Caranya dengan menulis apa saja dan memenuhi kebutuhan membaca setiap hari. Maka keabadian yang dimaksud oleh Pramudia Ananta Tour di atas bisa kita raih. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa mati sebuah keharusan, namun fitrah manusia menginginkan keabadadian. Maka salah satu cara untuk mengabadikan diri adalah dengan menuliskan ide dan gagasan kita saat ini. Mengabarkan kehidupan kepada masa depan melalui tulisan. Wallahu ‘alam bissawab.

*Penulis adalah Pengajar di Madrasah Aliyah Al-Khairiyah Karangtengah, Pengurus Komunitas Penulis Muda Cilegon (KPMC)

Kamis, 27 Januari 2011

Aspirasi dan Media Massa

[Banten Raya Post, 27 Januari 2011

(Tanggapan Atas Tulisan Mohammad Sofiyan, “Aspirasi Sebatang Pohon Pisang”)

Oleh Ayatulloh Marsai

Mohammad Sofiyan, dalam tulisannya “Aspirasi Sebatang Pohon Pisang” (dimuat di Baraya Post dan Radar Banten, 15 Januari 2011), mengemukakan pergeseran nilai yang signifikan dalam hal rakyat menyampaikan aspirasinya. Menurutnya, ada perubahan pola menyampaikan aspirasi pada zaman orde lama, orde baru dan orde reformasi ini. Pada masa orde lama dan orde baru, aspirasi disampaikan dengan turun ke jalan dengan pengerahan massa. Banyaknya massa menggambarkan banyaknya (besarnya) aspirasi tersebut. Sementara, pada orde reformasi  aspirasi disampaikan dengan kreatif, baik secara verbal, tertulis hingga pelambangan atau simbol-simbol. Secara verbal biasanya aspirasi disampaikan dengan orasi oleh juru bicara massa demonstrasi. Secara tertulis, biasa dilakukan melalui pamphlet-pamplet yang dibagikan kepada pengguna jalan dan tulisan di media massa. Sementara pelambangan ---ini yang sedang trend, dilakukan dengan menggunakan media simbolisasi sesuai dengan aspirasi yang diusung. Misal, untuk mengatakan bahwa pemerintahan SBY lamban, demonstran mengajak seekor kerbau yang ditulis, “SBY”. Atau, seperti pada tulisan ‘Aspirasi Sebatang Pohon Pisang’ ini: untuk meminta perbaikan/pembangunan jalan digunakanlah pohon pisang, untuk menggambarkan bahwa kondisi jalan sudah tidak layak untuk kendaraan bahkan jalan kaki, lebih tepat dipergunakan kebon pisang.

Pergeseran nilai tersebut, lebih lanjut memperlihatkan penyampaian aspirasi tidak membutuhkan massa yang besar (banyak). Cukup dengan memasang tulisan-tulisan di karton, pamphlet-pamplet, hingga simbol-simbol di tempat umum, maka aspirasi dipastikan akan sampai pada sasaran demonstrasi. Hal ini pernah disampaikan oleh Asep Saeful Muhtadi, dalam kuliah jurnalistik tahun 1998, dimana aksi demonstrasi  saat itu telah menumbangkan rezim orde baru. Dia berkomentar terhadap aksi demonstrasi yang sedang marak di hampir seluruh tanah air, “unjuk rasa sebetulnya tidak usah repot-repot turun ke jalan dengan massa yang banyak, cukup beberapa orang saja dengan konsep yang jelas. Tulis konsep-konsep itu di karton atau semacamnya. Lalu undang media untuk meliput unjuk rasa itu, selesai. Maka tuntutan akan sampai kepada sasaran.” 

Tulisan ini mencoba mengisi ruang yang kosong dalam “Aspirasi Sebatang Pohon Pisang”, yang tidak menempatkan media pada posisi signifikan. Padahal di era informasi ini, media massa menjadi kekuatan bagi siapa saja yang mampu menguasainya. Ketika media massa dikuasi oleh pemerintah, maka pemerintah akan kuat. Media massa dikuasi oleh parlemen, parlemen akan kuat. Begitu juga sebaliknya, kalau media berpihak pada rakyat dengan segudang aspirasinya, maka rakyat akan kuat.

Jadi, aspirasi sebantang pohon pisang, akan sampai ke telinga sasaran aspirasi tergantung pada media. Media yang berpihak pada kepentingan rakyat akan menguatkan aspirasi itu, tentu dengan tetap berpegang pada etika jurnalisme. Dengan begitu, “aspirasi sebatang pohon pisang”, tidak hanya akan didengar, lebih jauh akan terngiang untuk kemudian direspon oleh yang bersangkutan. Karena pemerintah merasa terus dikontrol oleh ‘media’ yang mengatasnamakan ‘massa’  ini.

Kenyataan serupa banyak terjadi di masyarakat, bervariasi bentuk aspirasi disampaikan, mulai dari membuang sampah di jalan, hingga menulis: “jalan ini akan diperbaiki dua hari lagi”, “tolong jalan ini segera di perbaiki pak!”,  di jalan yang rusak itu. Tetapi, unjuk rasa itu luput dari pandangan media massa. Akibatnya, unjuk rasa itu tidak sampai pada sasarannya. Bayangkan, berapa aspirasi rakyat yang tidak sampai sasaran ketika media massa tidak meliputnya, entah karena tidak tahu, tidak konfermasi, atau karena kepentingan pada profit, kepentingan orang besar, dan isu-isu besar saja? Misalnya, protesnya petani terhadap kelangkaan pupuk, protesnya pedagang kecil terhadap menjamurnya waralaba, protesnya karyawan kecil, guru honor, protesnya tukang becak, tukang ojeg dan seterusnya.  

Padahal media massa menjadi satu-satunya saluran aspirasi rakyat ketika aspirasi itu jauh, atau “tersumbat” pada jalur seharusnya. Termasuk kepada parlemen. Aspirasi rakyat banyak tidak digubris ketimbang keinginan partai politik .  

Maka keberpihakan media massa kepada ‘massa’ (masyarakat) menjadi pilar untuk tegaknya demokrasi. Media yang berpihak kepada ‘massa’ akan mendampingi aspirasi rakyat, mengontrol jalannya pemerintahan pada satu sisi. Dan juga, tidak “menghasut” rakyat serta menjatuhkan pemerintah pada sisi yang lain dengan pemberitaan yang tidak terbukti kebenarannya.

Era informatika memfasilitasi rakyat untuk menyampaikan aspirasinya lewat dunia maya. Menurut Ono Purbo (Filosofi Naif Kehidupan Dunia Cyber, Penerbit Republika, 2003), di dunia maya, dimana informasi dan pengetahuan bergerak dengan sangat cepat tidak mustahil kita akan kembali ke masa lalu, hukum tidak tertulis dan keimanan yang akan mempengaruhi kehidupan sosial dan budaya umat manusia. Situs jejaring sosial yang paling popular sekarang ini adalah facebook. Pengguna jejaring ini bisa menuliskan apa saja pada status-nya, dari urusan pribadi (narsis), sosial, budaya, agama, pendidikan, politik, hingga urusan promosi produk usahanya. Termasuk di dalamnya aspirasi kepada pemerintah yang “dilempar” kepada masyarakat facebooker.

Dukungan publik di dunia maya pernah berhasil mengeluarkan Bibit Candra dari jerat hukum kejaksaan dan polri.  Dukungan publik dunia maya juga telah terbukti berhasil membebaskan Pryta Mulyasari dari tuntutan sebuah rumah sakit internasional yang merasa tercoreng nama baiknya.

Sampai di sini, aspirasi sebatang pohon pisang bisa sampai kepada sasaran karena keberadaan media massa. Begitupun aspirasi unjuk rasa lainnya, baik kecil maupun besar, sangat tergantung kepada media massa. Karena media massa, satu pilar utama dalam demokrasi. Keberadaan media massa, corak, isi, hingga pilihan headline, menggambarkan kualitas demokrasi sebuah negara.

Penulis adalah Pengajar Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Al-Khairiyah Karangtengah.

Rabu, 19 Januari 2011

YA RASULULLAH, APAKAH KAMU SENANG DENGAN CARA UMATMU MENCINTAIMU


by. ayatulloh marsai

S
aya baru saja pulang dari masjid, memberi materi bulanan kepada anggota RISMA Nurul Ikhlas Dukumalang. Pada kesempatan ini saya mengambil tema tentang muludan yang sedang ramai dilaksanakan oleh masyarakat Cilegon khususnya, dunia pada umumnya. Saya katakan bahwa kita jangan terjebak pada “cinta gincu” kepada rasul. Cinta kita harus berasa seperti garam pada sayur, tidak terlihat tapi sangat menyedapkan masakan yang kita makan. Inilah gambaran untuk kita yang menjadikan muludan ini tidak hanya sebagai acara seremonial belaka. Sehingga zikir mulud yang berisi puji salawat kepada Kanjeng Nabi bukan sebagi rayuan gombal kita kepada beliau, tetapi cinta kita terbukti dengan menjalankan perintahnya, anjurannya dan tauladannya dalam kehidupan kita sehari hari.

Dalam “upacara muludan” ini, sering kita dengar ada masalah dalam mempersiapkannya. Terutama ibu-ibu yang mempersiapkan berkat. Sampai tidak tidur, bahkan mungkin ada yang tidak sholat, ada yang marah-marah bermasalah dengan anggota keluarga karena tidak menjaga emosi, marah-marah dan seterusnya. Kalau ini terbukti masih saja terjadi pada masyarakat kita berarti, muludan kita belum berhasil.

Saya berani menjamin “ahli zikir mulud” tidak semuanya mengerti apa yang mereka teriakan, apa yang mereka kumandangkan. Yang pasti mereka tahu, kekompakan, suara sekeras-kerasnya, mengalahkan lawan zikir dan pulang dapat berkat.

Peringatan kelahiran nabi sudah menjadi budaya, tradisi atau upacara adat. Suatu kampong mengadakan muludan. Mereka mengunang tetangga kampung terdekat untuk zikir mulud. Sementara masyarakat yang mengadakan mulud menyediakan berkat untuk oleh-oleh pezikir pulang. Di dalam pelaksanaannya, peserta zikir yang berkelompok berdasarkan asal kampungnya masing-masing, dinilai oleh juri/tim pengawas. Yang menang dapat oleh-oleh lebih atau hadiah untuk kampungnya. Macamnya bervariasi dan tidak terikat. Yang sudah biasa: karbau, uang, lemari alat musik dst. Ada berupa pakaian yang tadinya tergantung di panjang-panjang. Semuanya diserahkan kepada kelompok, bukan perorangan. Di kampunya atau masyarakatnya nanti setelah beberapa hari oleh-oleh tadi di lelang kepada masyarakat setempat dengan harga relative murah. Uangnya diserahkan kepada kas masjid sebagian, sebagian lagi untuk kas kelompok zikir.

Masalah berkat. Masyarakat yang hajat mempersiapkannya. Bentuknya ada yang dinamakan panjang, ada yang biasa (nasi di bakul sama lauknya). Khas lauk yang mesti adalah telur ditusuk sama bambu yang sudah dibikin sedemikian rupa. Telur itu dihias dengan kertas hias. Yang berupa panjang, lebih berfariasi karena bisa saja didalamnya terdapat pakaian dan uang rupiah yang dipajang di panjang itu. Pakian macam-macam: sarung, kaos, pakaian anak-anak, dst.

Ada yang tidak kalah pentingnya adalah bentuk panjang. Bentuk panjang menggambarkan berbagai bentuk. Yang sudah biasa adalah bentuk masjid, perahu, kapal. Atau kalau saya inget tahun kemaren ada yang gambar ayam dan alat tebang kayu. Itu menggambarkan hidup, atau mata pencaharian yang mencari penghidupannya dari menjual ayam dan tukang tebang pohon. Sesudah sampai di masjid karya seni panjang itu seakan sia-sia, langsung dirusak diambil isinya untuk segera di bagikan kepada tamu undangan zikir.

Di Rumah, sebelum panjang sampai ke mesjid, ibu rumah tangga mengantarkan nasi kepada handai taulan kepada saudara terdekat yang beda Kampung. Disini jelas positif karena memberi tetangga. Sayangnya kebaikan ini, nantinya terkesan negative karena yang diberi berkat tadi merasa punya hutang atau keutangan. Artinya, kalau nanti kampungnya mengadakan muludan dia harus memberi balik kepada orang-orang yang pernah member. Memang tidak ada akad hutang-menghutangkan, tetapi merasa harus membalas kebaikan orang lain.

Dari uraian tradisi ini bisa dibayangkan capeknya bukan main mempersiapkan acara ini bagi yang mengadakan. Terutama di dapur. Ibu-ibu dan para gadis. Tidak jarang mereka sampai meninggalkan kewajiban salatnya. Bertengkar keluarga karena terlalu capek dan tidak bisa mengendalikan nafsu.

Ya Rasulullah apakah kamu senang dengan cara umatmu mencintaimu?

Dukumalang, 24 Februari 2010

Senin, 17 Januari 2011

“Sekarang Saya Sudah Jadi Guru, Guru Besar. Karena Kekaguman Saya Kepada Guru”

Oleh: Ayatulloh, S. Hum

“Waktu kecil, saya punya dua cita-cita. Pertama, saya pengen jadi kondektur. Saya lihat enak sekali jadi kondektur. Setiap pagi, ketika saya pergi sekolah naik bus, saya lihat kondektur memintai uang setiap penumpang, sehingga setiap saku baju dan celanya penuh dengan uang. Kalau besar nanti, saya mau jadi kondektur, supaya punya uang banyak.

Cita-cita saya yang kedua, pengen jadi guru. Waktu saya sekolah SD, setiap pagi menunggui guru datang untuk mengambil tas dan sepedahnya. Tasnya ditaruh di meja guru, sementara sepedahnya, ditaruh di tempat parkir. Dan itu saya lakukan dengan berebut antar sesama teman. Saya pengen jadi guru. Karena saya lihat betapa guru dijunjung tinggi oleh murid-muridnya.

Sekarang, sepedanya sudah tidak ada. Tapi, nilai-nilainya harus tetap bertahan. Guru dihormati, karena guru sayang kepada muridnya. Waktu saya lagi malas sekolah. Siangnya, Bu Guru saya langsung ke rumah. Dan bertanya, “kamu sakit ya?, istirahat yang cukup yah, mudah-mudahan besok sudah bisa sekolah”. Padahal saya tidak sakit, dan Bu Guru pasti tahu itu. Tapi, tidak mau menampakkan keadaan yang sebenarnya. Sehingga besoknya, saya mulai sekolah. Guruku sayang kepadaku”.

Kalimat panjang tersebut meluncur dari mulut Cendikiawan Muslim yang juga Rektor UIN Jakarta, Komarudin Hidayat, ketika memberikan sambutan pada acara Pengukuhan Guru PAI Profesional Propinsi Banten, di Kampus UIN Jakarta, tanggal 6 Januari 2010.

Saya terhanyut dengan pembicaraan beliau. Gaya bicaranya, kekuatan karakter dari setiap katanya. Beliau, selalu berangkat dari pengalaman pribadinya. Pengalaman pribadi yang disikapi dengan kepandaian mengambil hikmah terdalam, yang tidak hanya bisa diambil oleh dirinya sendiri, tetapi juga ampuh untuk orang lain.

Satu contoh lagi, sebagai bukti bahwa beliau sangat bijaksana mengambil perspektif dalam memandang suatu masalah; pada sambutan sebelumnya yang disampaikan oleh Direktur LPTK. Beliau bercerita tentang kesimpulan sebuah penelitaian di sebuah sekolah. Kesimpulan penelitian itu menyebutkan bahwa minat siswa terhadap pelajaran Agama Islam sagat rendah. Pertanyaan yang melahirkan kesimpulan itu adalah “ketika jam pelajaran apa anda merasa bosan dan malas”. Jawabannya, pelajaran Agama Islam.

Bagaimana Komarudin Hidayat memandang masalah itu? Belau bertanya kepada peserta pengukuhan, “Anda-anda sekalian inikan, dulunya murid juga. Nah, apakah anda ketika jadi murid dulu punya kesan bagus tentang belajar agama”. Peserta pengukuhan tidak menjawab ya atau tidak, malah gerr, semuanya tertawa. Sebagai tanda pengakuan hadirin, bahwa tidak ada kenangan indah dan menyenangkan ketika belajar agama dulu. “Ini artinya apa”, sambung Pak Rektor, “bahwa ini bukan masalah baru. Dari dulu memang pelajaran agama sudah tidak menyenangkan. Ini masalah yang harus diselesaikan oleh Guru Profesional bidang PAI yang sekarang. Jadi, kalau Guru Profesional itu harus bisa merubah wajah pelajaran agama menjadi manis dan banyak diminati oleh siswa”, pungkas beliau.

Sekarang, Pak Komar menyandang status Guru Besar di Universitas Islam Jakarta. Sebuah status yang patut dibanggakan oleh gurunya. Sebuah status yang dilejitkan oleh rasa kagum pada sosok guru.

Sampai disini, saya memandang pas pribahasa, Guru kencil berdiri, murid kencing berlari, untuk kita arahkan kepada arah positif. Sehingga menjadi, Guru mimpi berdiri, murid mimpi berlari. Bagaimana, kalau guru mimpi berlari? Muridnya akan mimpi terbang. Dan meraih cita-citanya di langit.***

Minggu, 16 Januari 2011

PEMBICARA HEBAT SAMA DENGAN PENDENGAR HEBAT

Judul Buku
25 kiat dahsyat menjadi pembicara hebat

Tebal
120 hal

Penulis
Rob Abernathy dan markReardom

Penerbit
Penerbit kaifa PT Mizan Pustaka

Cetekan VI, 2004


Salah satu BUKU KOLEKSI PERPUSTAKAAN BAITUL HIKMAH ini, praktis, lezat dibaca kapanpun dan di manapun. Karena model penyajian materinya sangat singkat. Halaman demi halaman terdapat “tali pengikat makna”, baik kata-kata mutiara ataupun ungkapan-ungkapan tokoh-tokoh besar. Sehingga pemahaman akan semakin kuat terbangun di benak siapa saja yang membaca buku ini.

Seperti anjuran dari penulis buku ini, Rob Abernathy dan Mark Reardon, bahwa anggap kiat-kiat yang ada di dalamnya sebuah alat. Ambil yang anda suka, gunakan sebagai modal untuk tampil di podium dengan sempurna. Salah satu alat (kiat) itu adalah Memuji, kiat nomor 16.

Di antara yang jarang nampak dari seorang pembicara kita adalah sikap mau mendengar dan memuji pembicaraan orang lain. Dan itu “haram” di lakukan oleh seorang pembicara hebat. Kenapa? Karena sikap pembicara itu akan segera kehilangan pendengar setianya. Lalu, buat apa terus bicara kalau ternyata tidak ada lagi orang yang mau mendengarkan.

Jadi, memuji lawan bicara, mendengar, harus di lakukan. Pada tahap ini penulis menyebutnya dengan “teknologi hati”. Bagaimana seorang pembicara masuk keranah perasaan merubah energi energi negatif menjadi energi positif: minder menjadi percaya diri, perasaan kecil menjadi besar dan seterusnya. Akhirnya, ikut membantu peningkatan keberanian mengambil resiko. Berani mengambil resiko adalah bagian dari ciri belajar sepanjang hayat.

Memuji, dapat menyemangati, memberikan kegembiraan dan mendorong keinginan belajar sepanjang hayat. Bertepuk tanganlah sambil berdiri, bersoraklah, acungkan ibu jari untuk mengakui prestasi seseorang atau kelompok.

Kapan kita memuji sama pentingnya dengan bahwa kita memuji. Pujilah peserta, siswa atau teman kita yang maju ke depan kelas (apabila dia tidak tahu pasti apa yang harus di lakukan di depan), ketika memberi wawasan mengagumkan. Pujilah hasil presentasi seseorang atau kelompok. Bahkan pujilah, karena seseorang telah mengikuti pembelajaran/ pelatihan.

Buku ini cocok untuk di baca siapapun. Terutama anda yang bergelut dengan bagaimana menyampaikan informasi atau pengetahuan kepada orang lain. Ataupun yang sedang belajar meraihnya. Terlebih, jika anda adalah presenter, guru, fasilitator, penceramah dan pembicara.

Selamat membaca!

Ayatulloh, S.Hum
Karangtengahsawah, 27 januari 2010

Sabtu, 15 Januari 2011

Saya Beruntung Menemukan "Menulis Mengurangi Stress"

by. ayatulloh marsai

23:26

Hari ini saya beruntung. Menemukan tulisan seorang yang saya kagumi kelihainnya menulis dan juga menyampaikan kuliah. Dia, Bapak Prof. Prof. Komarudian Hidayat, menulis di sindo on line, “Menulis Mengurangi Stress”. Dia menyampaikan bahwa masukan informasi kepada kita yang lumayan bikin pusing dan stress, akan mengganggu pikiran dan bisa mengakibatkan struk. Maka, seperti kita buang air besar, kita harus menumpahkan segala yang membuat kita sakit itu. Kotoran. Kita harus menuliskan segala kotoran yang menumpuk dalam pikiran kita. Agar kita sehat. Buang pada tempat yang sudah dipersiapkan, maka juga akan bermanfaat bagi yang lain. Memfungsikan lagi unsur alam yang hampir punah, agar kehidupan berlangsung wajar, tidak ada satu mendominasi yang lain.

Kotoran harus dibuang. Masukan informasi harus dikomunikasikan. Harta harus diambil sodakohnya. Baru bisa berjalan dengan wajar dan normal. Saya teringat pengalaman para penulis, banyak manfaat yang bisa dirasakan oleh orang yang rutin menulis setiap hari. Fatimah Mernisi misalnya, merasa kulitnya semakin kencang dan awet muda. Komarudin Hidayat, berasumsi menulis bisa menangkal stress. Dan hasil penelitian Profesor Sian Beilock, dari University of Chicagho, menyebutkan bahwa menuliskan masalah-masalah yang dicemaskan, justru bisa mengurangi rasa cemas itu.

Saya Lagi Susah Nulis!

Jumat, 14 Januari 2011
23:08

by. ayatulloh marsai

Sekarang saya susah nulis. Beberapa hari ini saya tidak melahirkan apa-apa, sipa-siapa. Resah, tidak tenang. Padahal lagak saya seperti orang paling hebat dalam hal menulis. Sok memberikan motivasi kepada siapapun, terlebih kepada siswa-siswaku. Aku sendiri, ah payah!

Sebabnya mungkin terlalu terobsesi untuk menjadi terkenal, cepat punya buku. Sementara proses kreatif dilewatkan, tahapan-tahapan tidak dilakukan. Percuma. Padahal, menurut Afifah Afra, dalam …and the star is me, bahwa keinginan, atau mungkin visi adalah kata sifat, dan misinya merupakan kata kerja. Jadi visi atau keinginan tidak akan menjadi apapun selagi tidak diikuti dengan menempuh proses menuju visi tersebut. Dia mencontohkan, ibarat kita ingin ke Singapura, sementara kita tiduran di rumah, tidak membeli tiket, tidak ke bandara. Maka sudah bisa dipastikan bahwa kita tidak akan sampai ke Singapura. Inilah contoh kongkret untuk sebuah visi yang tidak diikuti oleh misi yang jelas.

Begitu pun hal menulis, ingin menjadi penulis (apapun), tidak akan menjadi kenyataan jika tidak ada langkah nyata. Harus ada langkah pertama. Kemudian diikuti dengan langkah kedua dan seterusnya. Langkah nyata itu adalah mulai menulis, kemudian menulis, dan terus menulis.

Kamis, 06 Januari 2011

Input-Output = Membaca-Menulis & Mencerahkan Umat

Oleh Ayatulloh Marsai

Sabtu, 01 Januari 2011
14:59

Teori input-output dalam membaca-menulis saya kenal lag-lagi dari guru saya Hernowo Hasyim. Dari catatan dia di facebook, judulnya “Belajar dari Tulisan Sendiri, karya Juli-Desember 2010”. Dia mengatakan: “semakin banyak pemasukan maka semakin banyak pengeluaran”. Dalam kegiatan berkarya, khususnya menulis, kalimat itu berarti: “semakin banyak membaca [tentu dalam pengertian yang luas], semakin mungkin untuk bisa banyak menulis”. Dengan kata lain, semakin menguatkan pendapat, bahwa kegiatan menulis tidak bisa dipisahkan dari membaca.

Hentakkan dalam diri saya juga kembali terjadi, ketika dia mengutip ayat dari surat al-alaq: iqra’ warabbukal aqram. Tentu ayat ini sudah berkali-kali saya baca, terutama ketika melaksanakan shalat subuh, tetapi yang menyadarkan saya tentang maknanya adalah rangkaian kata “sang pengikat makna”, Bapak Hernowo, bahwa dengan membaca sungguh-sungguh kita akan diberi kemuliaan oleh Allah.

Membaca, menurut Bapak Quraisy Shihab adalah proses menghimpun makna dari segala sesuatu yang ada di alam ini. Nah lo, sekarang, apa bedanya antara “input” dalam istilah Hernowo dengan “menghimpun makna” dalam istilah Pak Quraisy untuk menafsirkan “iqra” dalam surat al-alaq ini? Sama saja! Sama-sama mengambil pemahaman dari luar, baik tertulis maupun tidak tertulis, kemudian diambil manfaat dan maslahatnya untuk “rahmatan lil alamin”.

Nah, dalam tindakan lebih lanjut, setelah diamalkan, manfaat lebih luas bisa didapatkan lewat hasil pembacaan yang dituliskan, dibukukan dan dipublikasikan. Maka public (umat) bisa mengakses “produk pemahaman” atau “hasil pembacaan” kita. Maka dari proses tersebut sebetulnya sudah terjadi proses pencerahan terhadap umat. Atau dalam bahasa yang umum, sudah terjadi proses dakwah, atau mengajak kepada agama. Jadi, menuliskan hasil pembacaan, atau dalam bahasa Mas Hernowo, output, termasuk “dakwah” dalam bahasa agama. [ayatbanten].

Ki Qomar Mencerahkan Masyarakat Lewat Tiga Jalur Dakwah

Oleh Ayatulloh Marsai

Teori termashur tentang saluran dakwah Islam di Indonesia menggambarkan 5 saluran utama penyebaran Islam di Indonesia, yaitu perdagangan, perkawinan, seni budaya, pengajaran dan tasawuf. Dari 5 saluran utama ini, actornya bisa satu atau dua orang, tapi jarang sekali satu saluran satu orang. Ini menggambarkan penyebar-penyebar Islam mempunyai banyak talenta, kompetensi dan jiwa social yang tinggi.

Sebut saja namanya Ki Qomar, panggilan Kiai Qomarudin bin Rakta, seorang tokoh penyebar agama Islam di Cilegon Utara. Dia tokoh paling penting. Ini bisa dibuktikan lewat jaringan ilmu pengetahuan (istilahnya Azyumardi Azra) yang terbentuk sebagai hasil dari usahanya mengajarkan agama Islam, baik kepada santri, jawara, kiai sebaya, bahkan masyarakat umum. Melihat objek dakwah yang bervariasi, maka Ki Qomarpun menggunakan metode sesuai dengan objek dakwahnya. Kepada para santri dia menggunakan metode bandungan kitab kuning dan sorogan. Kepada jawara, ia sampaikan ajaran agama sambil berlatih ilmu kanuragan. Kepada masyarakat, cukup dengan “ngaji kuping”. Dalam metode ini, masyarakat hanya mendengarkan wasiat-wasiat dari Kiai. Metode ini, kalau kita lihat sekarang masih berlaku di banyaj masjlis-majlis ta’lim, tabligh akbar dan ceramah-ceramah agama. Terakhir, objek pengajaran agama Ki Qomar juga para kiai muda, sebaya bahkan lebih tua. Kepada mereka digunakan metode diskusi, tukar informasi masalah-masalah agama, sosial kemasyarakatan dan ilmu pengetahuan.

Khusus untuk para jawara dan kiai pengajian diadakan pada hari Sabtu sampai malam minggu. Malam minggu dengan materi khusus ilmu kanuragan, mencakup ilmu batin bagi beberapa orang yang dianggap layak.

Jadi, Ki Qomar dalam menyampaikan ajaran agama tidak hanya lewat pengajaran di majlis-majlis, namun juga melalui seni beladiri atau kanuragan bahkan ilmu batin atau tasawuf. [ayatbanten publishing]