Selasa, 16 April 2013

:anakku kelas duabelas, tahun duaribu tigabelas [1]


Kamu beruntung. Beruntung karena tersedia luas bagimu kesempatan mengeksplorasi diri. Tidak ada kesempatan bagi siapa pun untuk andil dalam keberhasilanmu. Keberhasilanmu adalah kemampuanmu. Bukan kemampuan orang lain. Bukan orang lain tidak perlu. Kamu perlu mereka, tapi sebagai pendukung saja. Tidak sebagai penentu.

Kenapa aku anggap kau beruntung? Tahu tidak, banyak angkatan sebelum kamu tidak punya kesempatan seperti ini. Orang-orang di luar menganggap mereka tidak mampu. Orang luar itu menganggap sangat perlu membantunya. Kalau orang itu tidak membantu mereka, tidak mungkin akan berhasil, anggap orang itu. Jadi mereka sekuat tenaga membantu. Nah, dalam situasi seperti ini, apa arti kemampuan seseorang, coba? Ketika menghadapi persoalan dianggap tidak mampu menyelesaikannya. Padahal belum dicoba. Aku kira keberadaan mereka hilang. Mereka tidak hadir dalam penyelesaian persoalan itu. Yang ada orang lain, yakni orang yang membantu itu.

Kamu betul-betul beruntung. Jika kamu berhasil hari ini, itu semata-mata karena kehebatan kamu. Dan jika belum berhasil, itu artinya kamu perlu belajar lagi. Perlu latihan lagi. Itu saja. Dan, kamu harus percaya, kalau kegagalan itu menciptakan tangganya sendiri dalam batinmu. Tangga kesabaran, ketegaran, tabah dan hikmah-hikmah yang lain yang tak terkira.

Sebaliknya, mereka yang selalu berhasil karena bantuan orang lain sebetulnya tidak menikmati keberhasilan itu. Juga belum tentu berhasil menghadapi kegagalan. Entah apa yang akan mereka perbuat jika kegagalan nanti suatu saat menghampiri hidupnya. Kita tahu, hidup punya siklusnya sendiri dalam hal berhasil dan gagal.

Aku jadi ingat bagaimana aku menasehati kamu. Karena kamu begitu cemas kelihatannya. Aku menasehatimu waktu itu. Bahwa rukun sukses adalah ketenangan dalam menghadapi masalah. Itu mutlak.

Waktu itu aku umpamakan petarung tinju. Serajin dan sekuat apapun seorang petinju, jika dia tidak tenang ketika berada dalam arena tanding, maka pertarungannya akan jauh dari sempurna. Dia akan kalah. Sebaliknya, kekuatan yang biasa-biasa saja, tetapi memiliki ketenangan yang laur biasa karena punya kemampuan mengendalikan yang sempurna. Sangat mungkin ia akan memenangkan pertandingan. Jadi singkatnya, ketika praktek, ketenanganlah yang nomor satu, baru kemudian bisa.

Aku memberimu resep waktu itu: menulislah dulu beberapa jenak sebelum mengerjakan soal. Kamu akan tenang. Aku mengatakan ini karena keyakinan yang dibentuk oleh beberapa artikel yang aku baca. Banyak artikel yang menegaskan bahwa menulis bisa menenangkan, rileks, dan juga bisa meningkatkan prestasi. Kuncinya: menulis bisa membuat tenang dan berfikir sistematis. Ketenangan inilah yang akan menjadi jalan bagi penyelesaian masalah yang sukses. Itu hasil penelitian lho! Jadi aku bukan mengada-ada. Oke, Pak nanti beberapa menit sebelum saya mengerjakan soal, saya mau menulis.

O, iya. Menulisnya harus lebih spesifik lagi. Yakni menulis hal-hal yang membuat kamu resah saat itu. Misalnya, kamu menulis: aku resah sekali saat ini, dst

Insya Allah dengan menulis keresahan justru akan menghilangkan rasa resah itu sendiri. Kamu percaya itu. Semoga kepercayaanmu akan kamu praktekan hari ini, sebagai pintu keberhasilan.
Selain nasehat-nasehat ini, aku dan lembaga juga memberimu program yang riil sebagai persiapan dan latihan. Bimbel: mimbingan belajar. Tidak sebentar. Tiga bulan man! Ah, sebuah usaha yang tidak seharusnya sebetulnya jika saja pendidikan selama tiga tahun itu maksimal. Tapi nyatanya, tidak hanya kita yang memberi program tambahan, banyak lembaga pendidikan tidak formal yang melakukan hal-hal yang sepertinya tidak percaya dengan lembaga pendidikan formal. Kalau kata Iffan Illich, justru masyarakat harus dibebaskan dari belenggu sekolah.
Ah itu urusan lain. Urusanku dan lembaga adalah memberimu bekal sematang-matangnya untuk suksesmu di arena ujian nanti –-sekarang ini maksudnya.

Waktu yang selalu kita bicarakan, atau tepatnya yang selalu kamu resahkan telah tiba. Bagaimana? Apakah kamu menulis dengan emosi sebelum mengerjakan soal? Tidak? kenapa? Kamu ragu? Kamu harus mencobanya sebelum menyesal nanti. Ah, seperti nada ancaman yach? Aku tidak bermaksud mengancam. Aku hanya menyampaikan pengetahuanku dan keyakinanku. Semoga kamu baik-baik saja, setidaknya hari ini dan tiga hari ke depan.

_cilegon, Damar26, 15 April 2013

Kamis, 21 Maret 2013

Persekongkolan, Teror dan Indoktrinasi dalam Sejarah Banten

Foto ayatulloh_marsai

Oleh Ayatulloh Marsai

“Malam Senin kinten kinten tabuh opat subuh aya karaman ti Beji ngarampog para priantun lebur papan kalayan tulis para menak di Cilegon.”

Kutipan pangkur ini saya temukan dalam buku “Bung Karno: Wahai Putra-putra Banten… Siapa Dia?: Riwayat Hidup Kiyai H. Mas Muchammad Arsyad Thawil,” karya H.M. Yoesoef Effendi SH, penerbit Yayasan Pendidikan Al-Chasanah, Manado, 1983.

Pangkur, sebagaimana artinya, komposisi tentang kemarahan, perkelahian, dan peperangan, pun pangkur di atas mengkisahkan peristiwa Geger Cilegon 1888. Tentu kemarahan Belanda terhadap pelaku-pelaku Geger Cilegon. Maka gambaran Geger Cilegon dalam pangkur tersebut adalah perspektif kolonial Belanda. Hingga para “pejuang” dalam perspektif kita, menjadi “perampok” dalam perspektif mereka. Inilah subyektifitas sejarah: pahlawan bagi bangsa kita adalah musuh untuk bangsa lain. Pilihan kata “perjuangan”, “perlawanan,” dan “pemberontakan,” menjadi tanda bagi kita untuk melihat ke dalam, kepentingan atau situasi kepenulisan sejarah.

Misalnya, kita bisa bandingkan karya Sartono Kartodirdjo, yang notabene lulusan Belanda, menulis judul disertasi “Pemberontakan Petani Banten” atas penelitiannya terhadap peristiwa Geger Cilegon, dengan karya Adjid Tohir (asal Pontang) yang lulusan Indonesia, memilih judul untuk bukunya, “Gerakan Politik Kaum Tarekat: Telaah Historis Gerakan Politik Antikolonialisme Tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah di Pulau Jawa,” atas peristiwa sama.

Kembali ke persoalan pangkur di atas, Yoesoef Effendi, menceritakan bahwa pangkur tersebut dinyanyikan di sekolah-sekolah. Setelah dinyanyikan, guru menceritakan peristiwa yang dimaksud dalam pangkur. Dan, itu sangat subyektif. Bagus kalau tidak dijungkitbalikan. Tetapi, dalam situasi penjajahan kemungkinan indoktrinasi lebih masuk akal ketimbang membesar-besarkan bangsa yang sedang dijajah.

Penjungkirbalikan fakta sejarah itu berlangsung di sekolah dasar (sekolah rakyat) di Banten (mungkin seluruh tanah jajahan). Dimana generasi bangsa ini mendulang apa saja yang diberikan guru. Di kepala generasi lulusan sekolah Belanda itu terlukis gambar suram Banten: nenek moyangnya seorang perampok, pengacau, begal dan seterusnya. Cerita-cerita miring tentang peristiwa Geger Cilegon pun bermunculan. Setidaknya ada tiga yang berhasil dihimpun penulis buku ini. Pertama, sebab Ki Wasyid (sebagai tokoh sentral Geger Cilegon) melakukan perlawanan terhadap Belanda adalah karena dia dilarang menebang pohon Kepuh besar oleh Asisten Residen. Ki Wasyid berkeinginan menebang pohon Kepuh karena pohon itu disucikan oleh masyarakat sekitarnya.

Kedua, masih tentang sebab, Ki Wasyid melawan Belanda karena dilarang melakukan azdan keras di Masjid Beji. Takut masjidnya dibongkar, Ki Wasyid menyerang Belanda.

Ketiga, cerita yang menjelek-jelekan gerakan Geger Cilegon, menurut penulis buku ini kemungkinan berasal dari keluarga orang-orang yang berkomplot dengan kolonial Belanda. Karena tidak bisa dipungkiri, tidak semua rakyat pro perjuangan. Ada saja orang-orang atau kelompok-kelompok yang justru mengambil keuntungan dari pihak penjajah. Sikap sebagian kelompok inilah yang merusak perjuangan bangsa sepanjang sejarah Indonesia (Banten). Sultan Haji adalah bukti nyata. Dia bersekongkol dengan Belanda melawan ayahnya sendiri, Sultan Agung Tirtayasa, demi mendapatkan kekuasaan penuh atas Kesultanan Banten. Meskipun untuk fakta ini beberapa sumber yang lain menyebutkan bahwa yang melakukan persekongkolan dengan Belanda itu Sultan Haji Palsu. Ini pekerjaan rumah bagi peneliti kesusastraan Banten karena kedatangan Belanda yang keduakalinya di Banten, 23 Desember 1948, menurut catatan buku ini, melakukan perusakan dan penghilangan terhadap cagar sejarah dan seni. Tidak menutup kemungkinan perdebatan tentang Sultan Haji asli atau palsu disebabkan oleh sumber yang sudah direkayasa atau disadur oleh Belanda. Hoesein Djajadiningrat saja yang melakukan penelitian terhadap sumber Sejarah Banten tahun 1918 menemukan naskah Babad Banten yang beragam versinya (asli?).

Sejarah lisan, florklor, cerita rakyat atau sejenisnya, yang menggambarkan suramnya pandangan masyarakat terhadap peristiwa Geger Cilegon, saya sendiri pernah mendengarnya di pesantren: perjuangan Ki Wasyid itu tidak sejalan dengan ulama-ulama Banten yang ada di Mekah. Terlalu gegabah, oleh karenanya perjuangan itu gagal. Dan, masih menurut cerita rakyat (sejarah lisan), oleh ulama-ulama Banten yang ada di Mekah Ki Wasyid dijuluki Ki Fasad. Orang Banten akan sakit hati mendengar ini, karena kita tahu “fasad” artinya rusak. Maka Ki Fasad maksudnya: kiai yang rusak (merusak perjuangan Banten).

Geger Cilegon dalam Misteri
Yoesoef Effendi mengisahkan penelusuran sumber-sumber lisan untuk menyusun buku ini. Dia merasakan kesulitan yang amat sangat. Sebab, hanya segelintir orang yang (berani dan) mau menceritakan pengalamannya, kesaksiannya, atau setidaknya cerita-cerita yang pernah didengarnya mengenai Geger Cilegon. Peristiwa Geger Cilegon terkubur rapih dalam benak para pelaku, saksi, anak cucunya dan segenap rakyat pada zamannya.

Para saksi kunci memilih diam. Ada beberapa alasan: karena sumpah, sakralisasi terhadap bukti sejarah. Yang dominan menjadi masalah bagi Yoesoef Effendi adalah sumpah. Kebanyakan informan sudah bersumpah kepada orang tuanya, nenek moyangnya untuk tidak menceritakan apa-apa yang berkaitan dengan peristiwa Geger Cilegon. Karena sumpah inilah, peristiwa heroik itu tidak sampai kepada generasi berikutnya. Punah.

Sakral. Benda-benda sejarah, baik tulisan maupun pusaka atau dalam bentuk gambar sedapat mungkin ditutupi atau dimusnahkan. Tidak boleh disentuh, lebih-lebih dibaca oleh orang sembarangan. Sikap ini, menurut saya, erat kaitannya dengan sikap Belanda yang merusak dan memburu sumber-sumber atau benda-benda sejarah Banten pada kedatangannya yang terakhir. Hingga masyarakat Banten, secara umum bersikap tertutup dan memilih diam tentang patriotismenya di masa lalu.

Bahkan, di pesantren tempat saya pernah belajar di kampung, berkembang cerita kalau pendiri pesantren ini, yang tidak lain teman dan murid Ki Yasin, Beji (putera Ki Wasyid), beliau tidak bisa difoto. Tidak ada satu pun gambar tentang dia. Dalam perspektif tarekat hal ini bukan sesuatu yang aneh. Bisa saja memang demikian. Alasan yang menjadi legitimasi biasanya adalah ketawadu’an seorang kiai yang berjuang di jalan Allah. Jasa-jasanya tidak mau diketahui oleh sesama manusia. Cukup Allah yang tahu. 

Tetapi sikap tertutup itu agak menemukan jalan maklum ketika kita membaca buku ini. Usaha pengejaran terhadap pelaku-pelaku Geger Cilegon sangat keji dilakukan oleh pihak Belanda. Pengejaran, penggantungan yang disertai mutilasi, pembunuhan masal terhadap pelaku mungkin mejadikan semua “kunci peristiwa” tertutup rapat. Baik dengan alasan rasional, demi keselamatan anak cucu, sampai alasan kesakralan dan sumpah setia kerahasiaan. Kemungkinan besar, sebetulnya mereka terteror oleh sikap Belanda. Bagaimana tidak, tahun 1889, Belanda menangkap 204 orang yang dianggap terlibat. Diantaranya 11 diagantung, 94 dibuang ke luar Banten dan 89 dihukum kerja paksa.

Di sisi lain, Belanda melakukan indoktrinasi di sekolah-sekolah kepada generasi berikutnya dari bangsa ini. Bukankah ini sebuah usaha untuk memotong generasi bangsa?

Usaha Belanda untuk menghapus jejak patriotisme rakyat Banten itu akan gagal, jika kita mau menekuni kembali sumber-sumber sejarah maupun kesusastraan versi kita sendiri, semisal karya Yoesoef Effendi ini. Niatan penulisan buku tidak muluk-muluk: hanya ingin mencatat bagian penting sejarah Banten; membangkitkan semangat putera-putera Banten untuk melakukan perubahan, sebagaimana pendahulu-pendahulunya telah mencontohkan itu; dan melalui catatan ini berharap ada orang, putera Banten khususnya, yang melanjutkan penulisan sejarah Banten lebih serius lagi.

Di Manado, tokoh Geger Cilegon yang dibuang ke sana telah terbukti berpengaruh besar dalam membangun peradaban Islam di sana. Tokoh yang dimaksud buku ini adalah Kiyai H. Mas Muchammad Arsyad Thawil. Itulah mungkin sisi positif kebijakan Belanda membuang kiai-kiai Banten ke pelosok Hindia (Indonesia). Mendapati ini, saya teringat Kuntowijoyo yang kurang lebih berpendapat: sekuat apapun politik meminggirkan umat Islam, selalu saja umat akan menemukan jalannya sendiri untuk eksis, bahkan tampil lebih matang.


[Terbit di halaman Sastra & Budaya, Banten Raya, 16 Maret 2013]

Penulis adalah Guru Sejarah/Kebudayaan Islam di Madrasah Al-Khairiyah Karangtengah – Cilegon. Pendiri Rumah Baca Damar26.

Minggu, 27 Januari 2013

MEMBACA “BUMI MANUSIA,” MENEMU GURU SASTRA DI SEKOLAH


Oleh Ayatulloh Marsai*

Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.”

Dalam buku “Bumi Manusia,” kalimat sakti ini, Pramoedya Ananta Toer sematkan menjadi kata-kata yang meluncur dari seorang guru sastra di sekolah H.B.S, ketika memberikan pengantar  pada mata pelajaran Sastra Belanda. Semua siswa tersipu malu, karena selama ini tidak menganggap sastra sebagai sesuatu yang penting. Tapi, beberapa hari ke depan, berkat guru sastra yang satu ini (namanya: Magda Peters), semua siswa tersihir menjadi gandrung terhadap sastra, khususnya sastra Belanda.

Pengaruh dialog ini, atau tepatnya pengaruh kata-kata yang mengalir dari seorang guru yang baru saja datang dari Nederland ini, membuat saya tersindir dan teringat pada sebuah fakta Oktober tahun 2012 lalu: di Banten, dari total 30. 800 guru, hanya sekitar 7000 yang lulus uji kompetensi. Hudaya Latuconsina, selaku Kepala Dinas Pendidikan Banten, memberi keterangan di Radar Banten, 16 Oktober 2012: para guru itu kurang menguasai pedagogik.

Ketersindiran itu berpijak pada: Magna Peters berhasil membuat siswanya suka kepada pelajaran yang dia ampu. Berkebalikan dengan selera sebelumnya: sastra tidak menarik. Sementara saya (mungkin banyak lagi guru lainnya), masih menjadi hantu di kelas. Siswa riang saat jam istirahat, namun menjadi tegang, mengantuk atau lebih baik melukis wajah gurunya, kalau tidak mengobrol, saat guru mengajar di kelas. Mata pelajaran (apapun) menjadi tidak menarik, ketika disampaikan dengan cara yang tidak tepat. Terutama, ‘tepat’ dalam pengertian ‘cara mengomunikasikan’ materi kepada siswa.

Cara mengomukasikan itu bernama metode, dan metode itu baru akan hidup bila berhasil dipraktikan oleh guru dengan tepat mengenai sasaran. Komisi Pendidikan Menengah India, menulis: “Bahkan kurikulum terbaik dan silabus yang paling sempurna pun tetap mati, kecuali dipraktikkan ke dalam kehidupan melalui metode pembelajaran yang tepat dan guru yang tepat.” (S.K Kochhar, “The Teaching of History”)

Dalam “Bumi Manusia,” tokoh Magna Peters, menjunjung tinggi karya-karya yang bertebaran di koran-koran kala itu; menyediakan satu forum diskusi satu pekan sekali, mengajak siswanya untuk mendiskusikan karya terbaru: mengkritisi dan mengapresiasinya. Ketika dia tahu yang menulis adalah siswanya, Minke, namanya, dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraan dan pembelaannya, meskipun karya itu jelas-jelas menyindir pemerintahan Hindia Belanda. Magna Peters tetap membela karya itu dengan hati sastranya. Walau pun dia tidak bisa berbuat banyak di bawah kekuasaan sistem kolonial Belanda.

Magna Peters sudah membela karya sastra, sudah berbeda dengan guru kebanyakan, sudah melawan sistem kolonial semampunya. Kemudian dia mengundurkan diri, dan pulang ke Nederland, kampung halamannya. Bukankah ini tindakan sastra yang sempurna, selaras dengan alam pikiran dan hatinya: yang dia ajarkan kepada siswa-siswanya sekaligus dia bela ajaran itu dalam kehidupannya. Guru yang tepat!

Mungkin Magna Peters adalah sastra itu sendiri. Seperti yang dikatakannya: “Lukisan adalah sastra dalam warna-warni. Sastra adalah lukisan dalam bahasa.” Sementara dia sendiri mungkin, sastra dalam tindakan.
Karya Pram ini dicipta di Indonesia dengan latar Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Sekarang, bumi Hindia Belanda itu bernama Republik Indonesia. Jika relasi karya ini masih terdapat kesesuaian dengan Indonesia abad ke-21 ini, tentu bukan salah Pram menulis. Dan, tentu bukan salah pelajaran Bahasa dan Sastra Indoensia juga, hingga harus disembunyikan dibalik tubuh pelajaran lain: kurikulum 2013, kabarnya demikian!

*Penulis adalah guru madrasah swasta, tinggal di Cilegon.

Ketika (Pemilik) Rahim Disakiti*


Oleh Ayatulloh Marsai*

Tidak habis-habisnya kasus pernikahan Aceng Fikri dengan Fany Oktora dibicarakan. Semua media membicarakan hal ini. Satu sebab utamanya, karena Aceng Fikri adalah pejabat publik. Pejabat publik diharapkan ideal (sempurna), sebagai teladan orang-orang yang dipimpinnya. Agaknya berlaku logika: bagaimana bisa memimpin dengan baik-baik kalau dirinya saja tidak baik; bagaimana bisa menciptakan pemerintahan yang benar, kalau sendirinya saja tidak benar.

Ketidakbecusan Aceng Fikri, setidaknya yang marak diberitakan di media massa, adalah pelecehan kaum wanita. Letak pelecehan itu ketika Aceng Fikri menikahi dalam tempo waktu super singkat (dibanding ukuran umum), hanya empat hari pernikahan; untuk kemudian menceraikannya melalui SMS pula; ditambah dengan komentar-komentar Aceng yang menyakitkan kaum perempuan: “sudah tidak perawan,” “bukan speknya,” dan proses penceraian itu sendiri.

Tidak hanya istri pertamanya (mungkin) dan Fany, semua perempuan Garut sakit hatinya mendengar dan melihat tingkah-pola Aceng Fikri ini. Maka aksi tuntutan mundur muncul di mana-mana. Gaungnya semakin “mantap” menggema karena menemukan momen “Hari Ibu” bulan Desember ini. Pihak-pihak berwenang bertali-sambung mersepon, mulai DPRD Garut, Mendagri, hingga tokoh-tokoh masyarakat.

Sekarang, nasib jabatan Aceng Fikir tinggal menunggu putusan Mahkamah Agung (MA). Apakah MA sependapat dengan DPRD Garut, bahawa Aceng Fikri melanggar UU Perkawinan dan UU Nomor 32 tentang Pemerintahan Daerah? Ada waktu 30 hari untuk MA memutuskan. Jika MA memutuskan bersalah, tamatlah jabatan Aceng Fikri sebagai Bupati Garut!

Wanita Sebagai Kekuatan Sejarah
Ini bukan kali pertama, masalah etika, khususnya masalah wanita, menyebabkan pesona seorang pemimpin memudar. Hilang dari garis edar kepemimpinan nasional maupun daerah. Jelas, di sini wanita sebagai penentu sejarah: jaya-runtuhnya seorang penguasa tergantung bagaimana dia memperlakukan para wanita, terutama ibu dan istrinya.

Dalam pentas politik, perempuan, bisa menyatukan juga bisa mencerai-beraikan. Terutama dalam sejarah perpolitikan Nusantara. Mataram Kuno dengan Sriwijaya misalnya, adalah dua kerajaan yang berdamai dengan dijadikannya putri Raja Sriwijaya sebagai istri oleh Raja Mataram; Sunan Gunung Djati bisa dengan mudah menyebarkan Islam di wilayah kekuasaan Raja Siliwangi dengan sebab menikahi putri raja, satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh Majapahit sebelumnya.

Tapi, tidak sedikit, dengan sebab perempuan, perang antar kelompok bahkan melibatkan banyak kerajaan pun terjadi.

Penyatuan dan perpecahan oleh sebab perempuan di atas, agaknya masih menjadi hukum sejarah umat manusia: terutama politik. Tentu dengan konteks kekinian. Perempuan bisa membangun juga bisa meruntuhkan sebuah kekuasaan.

Kasus Aceng Fikri, Bupati Garut, adalah satu misal paling aktual saat ini. Sebelum tersandung kasus pernikahan empat hari, Aceng adalah pemimpin yang berwibawa. Kiranya, kemenangan dia dalam Pemilukada Garut 2008 dari jalur indepeneden, bisa dijadikan alasan untuk menyimpulkan bahwa sosok Aceng diakui sebagai orang baik oleh rakyat Garut. Kemenangannya telak: 57 persen. Tetapi, anggapan itu menjadi jungkirbalik setelah dia menikahi secara siri seorang gadis 18 tahun, dan menceraikannya empat hari setelah pernikahan. Melalui SMS pula.

Selain Aceng, banyak pejabat yang kariernya segera ‘kelam’ sebab tersandung masalah perempuan. Bedanya: kalau Aceng melangsungkan pernikahan, meskipun secara siri, banyak pejabat-pejabat malah tidak menikah: main perempuan di tempat hiburan. Di sini kelebihan Aceng kiranya, secara hukum agama dia tidak melanggar. Hanya melanggar secara etika.

Ibarat pelaksanaan shalat, dia tidak melanggar apapun dari syarat dan rukun shalat, namun pakainnya sehelai sarung sekadar di atas pusar sampai kaki. Shalat ini sah secara hukum, namun sungguh tidak etis. Dan, sebagai pejabat publik, etika itu penting.

Menyakiti (Pemilik) Rahim
Menyimak keruntuhan dan kekelaman pejabat publik garagara perempuan saya teringat satu pertemuan kuliah dengan Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, penulis buku Api Sejarah, Salamadani, dia mengatakan: “siapa pun pemimpin yang menyakiti perempuan dia akan tumbang dari kekuasaannya. Karena Allah menitipkan satu anggota tubuh pada perempuan dari namanya: Ar-Rahim.”

Kemudian professor meyebutkan beberapa tokoh nasional yang mengalami nasib tragis, tersungkur dari kekuasaannya, setelah menyakiti istrinya karena punya hubungan dengan perempuan lain.

Penjelasan professor tersebut memang sulit dimengerti, jika kita mengandalkan rasio. Namun kita akan segera mengerti, ketika kita mau melibatkan intuisi (hati) dalam melihat suatu kebenaran.

Perbedaan fitrah wanita dengan laki-laki terletak di rahimnya. Dari rahim inilah lahir konsekwensi-konsekwensi: mengandung, melahirkan dan menyusui. Maka tiga hal inilah yang menyebabkan derajat wanita tiga kali lebih tinggi dari laki-laki. Kalau saja wanita tidak “menuruni” sifat rahim Allah, mana mungkin bisa menjalani tiga tugas berat itu. Dan, ketika wanita, orang yang sudah susah-payah menanggung konsekwensi kepemilikan rahim ini, disakiti, maka sangat mungkin Sang Pemilik rahim sesunggunya juga merasakan sakit itu. Kalau sudah Sang Pemilik Rahim, Allah, yang sakit, hal paling buruk pun bisa terjadi pada seseorang.
Akhirnya, para pejabat publik, public figure, dan kita semua mulai menghitung, berapa pejabat, berapa public figure dan berapa orang biasa yang kariernya kelam, gelap-gulita, setelah menyakiti pemilik “rahim” ini: ibu dan istrinya. Lalu, kita belajar untuk tidak menyakiti hati ibu dan istri kita. Selamat hari ibu!

*Penulis adalah Guru Sejarah Kebudayaan Islam di MA/MTs Al-Khairiyah Karangtengah, Cilegon. Alumni UIN Sunan Gunung Djati Bandung. 

*dimuat Radar Banten, 29 Desember 2012

Sabtu, 29 Desember 2012

MEMBACA “BUMI MANUSIA” #1: ‘Perjumpaan Dengan Pramoedya Ananta Toer


Oleh Ayatulloh Marsai

Perjumaanku dengan Pramoedya Ananta Toer adalah lewat kutipan-kutipan yang aku temukan di tulisan-tulisan orang. Aku sendiri lupa siapa dan dimana tulisan itu aku temukan. Bahkan kutipan-kutipan khusus kata-kata bijak yang ada di blog. Ya, aku ingat, ada juga orang yang mengkhususkan menuliskan kutipan Pram, dari novel-novel yang dia baca.

Meski hanya membaca kutipan-kutipan, rupanya, itu cukup membuatku tertarik untuk mengutip kembali, ketika aku menulis. Kutiapan itu, “Orang boleh pintar setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” Ya, kata menarik ini aku kutip ketika menulis sebuah esai, “Menulis, Bekerja Untuk Keabadian.” Sempat tulisan ini aku kirim ke media massa, namun tidak dimuat. Aku iseng mengirimnya ke harian blog online, sunannungdjati.blogspot.com, ternyata dimuat.

Sampai sekarang, aku belum menemukan aslinya, di buku yang mana Pram menulis katakata itu. Nanti, pasti aku menemukannya. Aku sedang membacai karyakaryanya.

Lalu, entah di mana saya menemukannya, katakata Pram begitu kuat memegangi kepalaku ini: “seorang terpelajar harus berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.” Meski tidak paham betul bagaimana maksud katakata ini, aku merasakan kekuatannya. Sebab, adil sejak dalam pikiran, terasa tidak biasa dikatakan orang, juga tidak aku sadari selama ini. Ternyata: pikiran memang mengendalikan apa saja, termasuk keadilan pun harus dimulai sejak dalam pikiran.

Ternyata, kutipan terakhir, menjadi ikon penting di caver belakang buku Pram, Bumi Manusia. Buku ini sendiri aku temukan di pojok Toko Buku Gramedia, Bekasi, ketika aku sedang mendapat tugas “Workshop Pelajaran Keterampilan” di hotel Horison. Aku sempatkan jalanjalan di toko ini di selasela waktu istirahat. Sudah aku niatkan sejak aku melihat tidak jauh dari tempat kegiatan ada toko gramedia. Sayang sekali uang sakuku hanya cukup untuk mengambil satu buku saja. Aku ambil kemudian buku pertama: BUMI MANUSIA.

Konteks bagaimana katakata itu muncul, adalah dialog antara Minke (tokoh utama) dengan seorang bekas tentara kolonial asal Prancis. Bekas tentara ini menasehati Minke yang tidak lain siswa H. B. S. waktu itu, “sebagai terpelajar kamu harus adil sejak dalam pikiran.” Kenapa nasehat ini bisa muncul. Minke sedang terjebak pada pola pikiran orang kebanyakan: bahwa seorang perempuan gundik Belanda, Nyai Ontosoroh, tidak bermoral, tidak beradab. Jadi, siapa-siapa yang hidup serumah dengannya, sama tidak beradabnya. Sebab, tinggal serumah, sampai mempunyai keturunan, tidak diikat dengan tali pernikahan; tidak duduk di bangku sekolah, sama dengan bodoh; tidak duduk di bangku sekolah tidak bisa berbuat apaapa, apalagi melakukan kebaikankebaikan.

Seorang Prancis itu tidak mau, Minke berfikir sama dengan orang pada umumnya. Minke harus adil sejak dalam pikiran, dengan menyelidik kebenaran pikiran orang-orang itu terhadap Nyai Ontosoroh; Minke akhirnya sadar, bahwa Nyai Ontosoroh yang tidak pernah duduk di bangku sekolah seumur hidupnya adalah perempuan Jawa yang penampilan fisik dan pengetahuannya, tidak kalah dengan siswa H. B. S. Nyai ternyata sang otodidak ulung; Dan, Minke juga mengakui kehebatan Darsam, seorang Madura yang mengabdi setia kepada majikannya (Nyai Ontosoroh), yang berani melawan ketidakadilan dengan kemampuan fisiknya.

Akhirnya, perlawanan terhadap ketidakadilan adalah semangat yang harus ada pada setiap orang. Terlepas apa pun yang kita miliki. Orang tidak akan rendah atau tinggi dengan apa yang dia miliki, tetapi oleh apa yang dia lakukan terhadapnya.

Cilegon, 19 Desember 2012

Kisah Nabi di Bukit Shafa & Dongeng Harimau


Oleh Ayatulloh Marsai

“Jika aku katakan akan keluar seekor kuda dari dalam bukit ini, apakah kalian percaya?”
“Kami percaya!” serentak orang-orang yang hadir menjawab.

Sepenggal dialog itu terjadi antara Nabi Muhammad SAW dengan masyarakat Quraisy Mekah. Nabi mendapat perintah untuk menyampaikan agama tauhid secara terbuka, setelah lama menyampaikannya secara tertutup. Nabi mengumpulkan orang Mekah di bukit Shafa. Lalu Nabi berkata: “Jika saya katakan dari bukit ini akan keluar seekor kuda, apakah kalian percaya?” Semuanya menjawab percaya.

Bisa segampang itu mereka percaya kepada Nabi. Padahal, apa yang dikatakan Nabi tersebut hal yang diluar nalar logis: dari dalam bukit keluar kuda.

Bukit di sana tidak lebih dari gundukan batu yang besar. Tidak ada pohon apalagi hutan. Semuanya batu. Hingga kalau dikatakan akan keluar seekor kuda darinya, itu ajaib. Dan, orang-orang yang hadir percaya itu, karena yang mengatakannya Nabi. Bukan karena mereka beriman kepada Nabi, melainkan dalam jejak rekam mereka Nabi, dari kecil hingga ada di hadapan mereka sekarang ini belum pernah kedapatan berbohong. Nyatanya ketika Nabi menyampaikan maksudnya untuk mengajak mereka untuk menyembang Allah, tidak menyekutukan-Nya, mereka banyak yang berpaling.

Kita bandingkan dengan sebuah kisah, mungkin anda sering mendengarnya, tentang seorang yang berteriak minta tolong. “Tolooong, harimau. Ada harimau!”

Orang-orang kampung tergopoh mendatangi asal suara minta tolong itu. Apa yang mereka lihat? Orang yang berteriak minta tolong itu sedang bersantai sambil nyengir, dan berkata, “Bohongan, cuma bercanda!”
Besoknya, orang-orang kampung mendengar teriakan minta tolong yang sama dengan kemarin. Mereka tidak peduli. Anggapan mereka, pasti si fulan sedang bercanda lagi, ingin mengelabui orang-orang kampung. Ternyata, kali ini benar. Seseorang mendapati si fulan mati dicincang harimau.

Di sebuah dusun, di belakang rumah, adanya harimau turun gunung mungkin saja terjadi. Tetapi, orang-orang kampung tidak percaya kalau fulan melihat harimau. Sebabnya fulan pernah berbohong. Orang-orang tidak mau dibohongi oleh fulan lebih dari satu kali. Hingga mereka tidak mempedulikannya lagi.

Begitu pun masyarakat kita sekarang. Kenapa sulit percaya kepada orang lain, sebab mereka pernah dibohongi, oleh satu dua orang. Entah itu orang terdekat, atau teman jauh bahkan orang lain yang tidak tahu asal-usulnya. Apalagi hanya melihat dari televise, spanduk di pinggir jalan, halaman iklan di koran dan majalah atau buku biografi (yang muncul menjelang pemilu).

Meski yang dikatakan sangat mungkin dilakukan, bahkan mudah, namun tidak mudah mendapat kepercayaan dari masyarakat. Persoalannya sekarang bukan isu, topik atau ideologi tapi siapa yang mengatakannya. Siapa yang berjanji? Bagaimana jejak rekamnya?

Pertanyaan ini muncul dari orang-orang yang mau memilih orang baik, pemimpin amanah yang akan membawa perubahan bangsa. Bukan dari orang-orang yang ikut arus “kesesatan” zaman ini: memilih orang yang sudah berkontribusi material kepada dirinya, kepada kelaurga dan golongannya.

Pemilu, momen penting untuk merubah kondisi bangsa ini. Pemilih mestilah pandai membaca calon, bukan hanya program. Mana calon yang cerdas, kuat dan berani melawan “kekuatan luar” dan “godaan dalam,” demi menegakkan amanat kepemimpinnya. Menepati janji kampanyenya.

Sebab, dalam perjalanannya nanti, dia akan banyak menghadapi tantangan. Tantangan itu bisa berupa kekerasan dan ancaman, dan juga sering berupa rayuan dan bujukan manis. Bahkan boikot.[]

Senin, 26 November 2012

Ada "Pesta Anak Yatim" di Banten Lama


Al-hamdulillah, Wisata Sejarah tahap pertama sudah terlaksana dengan selamat. Kemarin, 23/11/'12. Wisata Sejarah saya agendakan setiap tahun pada mata pelajaran Sejarah Kebudayan Islam kelas 9 MTs Al-Khairiyah karangtengah. Tempat tujuan Banten Lama, meliputi: Museum Kepurbakalaan Banten, Istana dan Benteng Surosowan, ziarah di makam Sultan Maulana Hasanudin, bermain dan belanja di arena alun-alun Banten, Istana Kaibon, Benteng Speelwizk, dan wihara. 

Seperti biasa setiap perjalanan punya kesan tersendiri, baik dari tempat-tempat yang kami kunjungi atau dari apa-apa yang terjadi di sana. Untuk tempat, hanya beberapa saja yang berubah dalam dua bulan terakhir ini. Misalnya, tempat tolilet dan tempat belanja. 

Sudah ada toilet yang benar-benar disediakan untuk pengunjung. Benar-benar, karena toilet-toilet yang ada sebelumnya itu adalah usaha masyarakat sekitar dengan tarif tertentu. Sementara yang sekarang ini, dibangun oleh salah satu perusahaan di Banten melalui dana CSR-nya. Jadi, toilet itu benar-benar umum sebagai fasilitas ziarah, bisa digunakan gratis oleh pengunjung.

Seandainya banyak perusahaan membangun fasilitas umum di sini, setahap-demi-setahap, fasilitas akan lengkap. 

Tempat belanja. Tempat belanja, semakin semerawut saja. Kita akan dibuat capek berjalan menuju tempat berziarah atau Masjid Agung. Bagaimana tidak, jalan yang tersedia bagi kita diputarputar serupa spiral, yang kalau diluruskan, perjalanannya sebetulnya singkat. Tapi justru dibuat berputarputar, melelahkan! 

Entahlah, kekuatan apa yang menghalangi penataan... hingga alun-alun Banten ini tak kunjung apik. Atau, hah... kelemahan apa yang membuat pihak berwenang seolah tak mampu berbuat apa-apa. Bagi saya, perdagangan penting di lokasi sekitar wisata dimana pun. Tetapi, sebagai lokasi wisata, keindahan, kenyamanan, pelayanan ada jauh di nomor urut depan. Tanpa keapikan dan keprigelan dalam menata tempat wisata, sama saja menghianati makna wisata itu sendiri. 

Upacara Peduli Yatim

Ketika rombongan saya beranjak meninggalkan Masjid Agung, menuju Istana Kaibon, saya bertemu dengan rombongan motor, berkonvoi menuju Majid Agung. Ada juga mobil: mobil pribadi, angkot dan juga bus. Di depan masing-masing kendaraan itu tertempel kertas bertulis: "PEDULI YATIM." Saya tanya pemandu, "apa ini Pak?" "Ini pesta yatim, masyarakat sekitar Banten punya kebiasaan ini setiap tahun setiap bulan Muharram." "Kegiatannya apa saja, Pak?" sambung saya. "Banyak, Pak. Berziarah, mengarak anak yatim, ada sunatan massal, dan juga santunan. Banyak donatur yang ikut serta menyantuni yatim yang mereka bawa." 

Luar Biasa. Ini tradisi unik. Memang semua umat Islam tahu, Muharram adalah bulannya anak yatim. Tapi, setiap wilayah punya cara unik mengekspresikannya. Nah, pemandangan di atas adalah cara masyarakat sekitar Banten Lama mengekspresikan bulan anak yatim ini.

Lama saya merenungi pemandangan bertajuk "PEDULI YATIM" itu. Saya pikir, ini dia, objek potensial wisata budaya di sekitar Banten Lama. Budaya 10 Muharram. Ini juga corak keberagamaan masyarakat Banten.

Catatan perjalanan kemarin itu, ternyata di Banten Lama, tidak hanya kaya dengan benda-benda cagar budaya dan sejarah namun juga ada cagar tradisi/ upacara yang masih rutin berlangsung di sana. Wassalam!

Cilegon, 24 November 2012

AYATULLOH MARSAI
Guru Sejarah Kebudayaan Islam, MTs Al-Khairiyah Karangtengah - Cilegon.

Selasa, 13 November 2012

Karena Bangga Dengan Banten Lama, Kita Bangga Menjadi Orang Banten


Selasa, 13 Nopember 2012
K
omplek Banten Lama selalu punya daya tarik besar untuk dikunjungi. Setidaknya, itu yang saya saksikan langsung dari dua kunjungan terakhir dalam bulan ini. Satu hari setelah lebaran Idul Adha, istri dan ibu mertua mengajak saya ke sana. Bersama anak-anak. Anak saya yang kedua sudah berusia tujuh bulan, belum pernah ke Banten Lama. Itu kata istri. Dalam pemahaman istri, anak-anaknya harus pernah berziarah ke makam Sultan Maulana Hasanudin dan Maulana Yusuf. Meski tanpa argument, saya tidak bisa menolaknya.

Gerimis yang berlahan menjadi hujan deras, hanya membuat rombongan saya berteduh sementara. Setelah hujan reda, kami melanjutkan perjalanan. Hujan lagi, berteduh lagi, dan seterusnya. Hingga perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu sekitar satu jam, akibat hujan yang tidak henti-henti perjalanan ke Banten Lama, dari Cilegon, sampai tiga jam-an. Hujan itu sama sekali tidak membuat kami surut semangat untuk mengunjungi Banten Lama.

Keluarga saya hanya satu dari sekian gambaran antusias masyarakat lokal Banten terhadap keberadaan Banten Lama. Para pengendara motor yang lain, di depan dan belakang kami, juga tidak sedikit. Dan mereka semua seperti tidak mempedulikan hujan yang mengguyur. Itu dari arah Cilegon, belum lagi kalau kita membayangkan dari arah yang lain. Sama ramainya.

Benar saja, sampai di Banten Lama, kepadatan pengunjung seperti air kali yang mengalir menuju satu pusaran: pintu makam Maulana Hasanudin. Dalam sela-sela ritual ziarah, azan duhur berkumandang. Suara  pemandu ziarah dipelankan dengan meletakkan pengeras suara. Ziarah terus berlanjut.

Karena sudah duhur, sehabis ziarah kami langsung menuju ke Masjid Agung Banten untuk menunaikan shalat. Kondisi yang dingin karena kehujanan di jalan tadi, saya, dan agaknya juga orang-orang lain gampang sekali kebelet buang air kecil. Orang-orang ini sibuk sekali mencari kamar kecil. Susah. Disekitar Masjid Agung tidak ditemui tempat ini. Hanya tulisan “WC UMUM” bertebaran di mana-mana dengan disertai tanda panah.

Saya terpaksa mengikuti arah anak panah itu, meskipun jauh dari Masjid Agung. Setelah berjalan sekitar 50 meter berjalan di gang-gang, baru saya menemukan tempat yang saya cari, “WC UMUM.” Di depan WC ada kotak amal, bertulis: Rp. 2000,-. Ah, tidak peduli sudah kebelet. Meskipun aneh, ditempat wisata seramai ini fasilitas umum yang benar-benar umum tanpa biaya tidak tersedia. Jadi WC yang ada ini punya warga. Atau tepatnya usahanya warga sekitar mencari penghasilan.

Selesai buang air kecil saya kembali ke Masjid Agung untuk menunaikan shalat zuhur. Di tempat wudu saya ditanya sama ibu-ibu, “Pak, ari WC dimana yah?” Saya langsung menunjuk arah tadi saya buang air kecil, sambil saya bertanya: “Ibu dariman?” “Bogor. Nuhun nya.” Ibu itu pergi terburu-buru ke arah yang saya tunjukan.

Dalam hati saya merasa malu sebagai orang Banten. Entahlah, sejak saya rutin setiap tahun ke sini (Banten Lama), bahkan lebih dari sekali, saya merasa bukan sebagai tamu lagi di tempat ini. saya kok sekarang merasa sebagai tuan rumah. Merasa berkewajiban melayani para tamu, lebih-lebih tamu dari luar kota seperti ibu tadi. Sebagai tuan rumah, saya malu menjadi orang Banten dengan keadaan ini. Saya yakin ibu tadi tidak sendiri. Dia pasti datang bersama rombongan. Dan, tidak hanya rombongan ibu tadi yang dari luar kota. Pasti banyak rombongan-rombongan yang lain yang punya masalah yang sama dengan si ibu tadi: kesulitan mencari toilet.

Saya lupa cerita, kalau toilet yang saya gunakan tadi bau-nya luar biasa. Mungkin karena saking banyak orang yang menggunakan dan belum sempat dibersihkan, juga karena habis hujan, kondisinya sangat becek. Saking baunya, sampai ada orang muntah-muntah di dalam. Hah, malu jadi orang Banten!

Itu sebulan yang lalu. Sabtu kemarin, 10 November 2012, giliran ibu saya mengajak saya ke Banten Lama. Tujuannya sama dengan istri dan ibu mertua saya sebulan yang lalu, yakni berziarah di makam Sultan Maulana Hasanudin dan Maulana Yusuf. Bedanya, ibu berziarah karena karena nazarnya. Ibu bernazar kalau dua anaknya, adik-adik saya, diterima kerja di tempat semula mereka berkerja, ibu akan berziarah.

Berbagai macam maksud dan tujuan orang berziarah ke Banten Lama. Kalau tadi istri saya bertujuan menziarhkan anak kami yang kedua, ibu karena nazar, maka kali ini, sambil menunggu giliran masuk ke ruang ziarah, saya berbincang dengan dua orang ibu-ibu, dalam rangka apa mereka berziarah ke Banten Lama ini.

“Sudah program rutin Pak Lurah Suheni,” jawabnya.
“Berapa mobil?”
“dua belas.”
“Ibu rombongan pengajian?”
“Nggak, siapa yang mau saja. Pak Lurah menaggung ongkos kami setengahnya.”

Saya hanya bisa bilang: o, mungkin ini ziarah politik. Tapi saya tidak berminat mendalami sisi politik ini. Lagi-lagi yang menarik buat saya adalah antusiasme yang besar masyarakat Indoensia terhadap wisata ziarah di Banten, sehingga menjatuhkan pilihan wisata mereka di Banten Lama.

Hal ini satu kehormatan bagi kita orang Banten. Ini juga berkah dan bukti keabadian dari ilmu yang dimiliki oleh orang-orang suci atau para pejuang, penyebar Islam di Banten ini. Maka sudah sepantasnya, kehormatan yang diberikan oleh para wisatawan di atas, kita balas dengan memberikan fasilitas terbaik. Supaya mereka punya kesan bagus setelah pulang ke kotanya masing-masing. Jangan sampai mereka terkagum-kagum hanya kepada orang tua kita, para pejuang yang dimakamkan di Banten Lama ini, sedangkan kepada anak cucunya, generasi Banten sekarang, malah mengumpatnya. Gara-gara kita tidak bisa menjaga apa yang mereka tinggalkan.

Tetapi tidak. Saya melihat titik terang di sebelah kanan Masjid Agung. Di sana ada bangunan baru, dekat pendopo. Karena penasaran saya mendekati bangunan itu. Ternyata, al-hamdulillah! Ini bangunan WC UMUM. Saya masuk ke dalam bangunan yang bertulis “pria.” Saya menghitung jumlah toilet di dalamnya, ada 14 kamar. Tempat buang air kecil ada 12, dan cuci tangan ada 4 buah.

Untuk detil di WC perempuan saya tidak tahu. Tapi, kira-kira sama lah. Yang penting sekarang, ada titik terang: penataan di komplek Banten Lama sudah mulai terlihat membaik. Dan, saya akan menyambut dengan bangga tamu-tamu yang datang dari luar kota bahkan luar negeri. Bila mereka bertanya dimana letak tolilet, jari telunjuk saya akan dengan pasti menunujuk WC yang keren itu.

Ke depan, tidak hanya WC, fasilitas-fasilitas yang lain juga mudah-mudahan segera menyusul. Tidak boleh dilupakan ketertiban juga masih perlu pembenahan. Semuanya harus lebih baik dari sebelumnya. Karena kita bangga dengan Banten Lama, bangga menjadi orang Banten. Amin! 

Karangtengah
Cilegon - Banten

Senin, 12 November 2012

Fokus Memperkenalkan Banten


Senin, 12 Nopember 2012

Selamat pagi. Hari ini saya punya jam di kelas 9, jam ke-2. Guru piket menyarankan saya untuk masuk, sebab guru yang seharusnya masuk jam ke-1 tidak hadir. Mungkin sakit, atau ada orang hajatan. Untuk hal yang terakhir saya juga sering mengalami. Betapa berat meninggalkan urusan permintaan masyarakat ini, baik yang langsung minta maupun tidak meminta. Tidak didatangi bagaimana… didatangi meninggalkan tugas mengajar.

Sering saya meninggalkan mengajar karena ada yang hajatan. Seharusnya ini tidak boleh terjadi, apalagi sering. Kalaupun mau, ya jarang-jaranglah. Jangan sampai tugas utama, dan juga berkaitan dengan banyak orang (umat) terbengkalai. Mudah-mudahan untuk ke depan saya bisa memilih tugas utama, dan masyarakat mau mengertinya. Juga guru-guru yang lain. Supaya pembelajaran di madrasah berjalan dengan tertib.

Selamat pagi. Kelas 9 saya rencanakan untuk fokus pada Kerajaan Islam Banten. Ini penting, supaya mereka mengenal lebih banten ketimbang yang lain. Jangan sampai pengetahuan mereka tentang daerah sendiri kurang. Kurangnya pengetahuan tentang diri sendiri (daerah sendiri) akan menyebabkan disorientasi diri. Perkembangan tanpa arah. Tidak jelas dari mana – mau kemananya.

Selain pembelajaran di kelas, saya juga seperti tahun-tahun sebelumnya, akan mengajak mereka ke situs Banten Lama. Supaya mereka menyaksikan sendiri sisa-sisa kebesaran Kesultanan Banten yang dibicarakan di kelas, baik yang tertulis di buku maupun penjelasan saya selaku guru. Akhirnya kan bertemu, antara konsep dengan realitas. Saya juga yakin akan timbul berbagai rasa, ketika mereka menginjakkan kaki langsung di puing-puing kesultanan. Rasa inilah sebagai nilai lebih, bahkan yang utama, karena saya yakin itu yang akan mendekatkan mereka pada kesadaran sejarah.

Sebetulkan tahun ini bukan kali pertama. Saya sudah melaksanakan ini sejak 4 tahun yang lalu. Efeknya luar biasa. Mereka bersemangat, antusias mencari tahu apa yang mereka temukan di sana. Yang paling penting, materi sejarah bisa terkenang dalam jangka waktu yang lama. Khas. Tidak ada sampai detik ini mata pelajaran yang mau mengemong anak-anak ke luar kelas dalam satu hari full. Mata pelajaran, yah. Kalau ektrakulikuler ada lah: pramuka, ciplukan, dan dll.

Oleh sebab itu saya pertahankan program ini. Kepala Madrasah juga kemarin bertanya, bagaimana program ke Banten Lama. Saya jawab, bagaimana yah? Sengaja saya jawab dengan kalimat bertanya lagi, karena ingin mengetahui tanggapan beliau tentang program ini. Maklum, program ini lahir dari saya sendiri, bukan program sekolah. Jadi, hitung-hitung evaluasi tanggapan Kepala Madrasah terhadap program ini. “Ya, lanjukan saja, karena angkatan-angkatan sebelumnya pergi ke Banten, nanti kalau angkatan sekarang tidak berangkat, nanti gimana githu anak-anaknya.”

Syukurlah Kepala Madrasah merestui program ini. Meskipun jawabannya lebih politis: mempertimbangkan protes siswa kalau program ini dihentikan, daripada akademis: tujuan, manfaat dan kegunaan program ‘wisata sejarah’ ini.

Tetap semangat. Protes siswa, itu artinya program ‘wisata sejarah’ yang saya gagas diminati siswa.

Karang Tengahaswah, Cilegon – Banten.

Minggu, 11 November 2012

Nazar Ibu


Minggu, 11 Nopember 2012

S
ABTU, 10 Novermber, saya diajak ibu ke Banten (Lama) untuk berziarah ke makam Sultan Maulana Hasanudin dan Sultan Maulana Yusuf. Kebetulan saya tidak ada kesibukan saat itu. Ya, hitung-hitung lihat keadaan di sana, saya mengiringi ibu ke Banten (Lama). Sejak ayah meninggal, setahun yang lalu, ibu selalu meminta saya untuk mendampinginya kalau ada keperluan. Sebagai anak pertama, saya mungkin dianggap paling bertanggungjawab. Dan, kebetulan paling punya waktu luang ketimbang saudara-saudara saya.

Sebelum berangkat saya bertanya kepada istri, “ibu ke Banten (Lama) dalam rangka apa ma?” Jawab istri, ibu pernah bernazar kalau Mab dan Agus, dua adikku, diterima kembali berkerja di tempat kerjanya semula, dia akan berziarah ke Banten (Lama). Ternyata do’a ibu dikabulkan, dua adik saya kembali bekerja di tempat semula. Nah, ziarah kemarin dalam rangka ini.

Diam-diam saya salut kepada ibu, kepada orang-orang kampung pada umumnya. Mereka sangat menepati janji, meski janji itu hanya mereka ucapkan di dalam hati, tidak ada saksi, melainkan janji itu hanya dia dan Allah yang tahu. Tetapi ketika harapannya tercapai maka mereka tidak mengingkarinya.

Hal nazar sangat lumrah di kampung saya. Biasanya mereka punya harapan besar terhadap sesuatu, dan berjanji dalam hati, kalau harapannya itu terpenuhi dia akan melakukan sesuatu. Sesuatu itu bisa jadi sebuah pekerjaan, memberikan sesuatu atau malah menghentikan sesuatu yang buruk.

Pekerjaan yang lumrah sebagai bentuk nazar antara lain puasa, shalat dan ziarah ini. sementara memberi biasanya shadaqah kepada fakir miskin, kepada tetangga, ngariung, numpeng dan sebagainya. Ada juga, jika harapannya tercapi orang akan menghentikan sesuatu yang buruk yang sering dia lakukan, misalnya menghentikan minum, judi, berhenti merokok dst.

Dalam rangka memenuhi nazarnya ini, ibu tidak hanya mengajak saya, tetapi juga ibue, tetah sepupu, dan keponakan-keponankan. Mungkin supaya mobil yang dicarter penuh tidak mubazir.

Dari pengalaman ini saya teringat dengan tingkahpola wakil rakyat, pejabat, aparat, dan kebanyakan orang sekarang. Dimana sering berjanji kepada sesama manusia dan mengatasnamakan Allah, ada banyak yang menyaksikan, di bawah Kitab Suci Al-Qur’an, tetapi enteng sekali janji itu diingkari.

Kalau demikian kehidupan yang sakral dan penuh kepercayaan kepada hal-hal di luar nalar lebih menyelamatkan kehidupan ini, daripada yang rasional tetapi meng-akali untuk melanggar akad-akad, baik akad dengan manusia maupun dengan Allah. Rasionalitas yang berhati-lah yang bisa menyelamatkan kita.

Dukumalang, Cilegon - Banten 

Sabtu, 20 Oktober 2012

Karena Puisi Itu 'Gemblong'

Oleh Ayatulloh Marsai


Puisi itu indah, menyentuh, dan mungkin bisa dikatakan mengena. Serasa diri ada di dalamnya. Inilah yang saya rasakan sebagai pembaca puisi. Dalam puisi lain, puisi itu tajam menghantam sasaran. Tapi, tidak membuat puisi urung disampaikan kepada sasaran. Karena gaya bahasa puisi memungkinkan seperti itu. Dan, mungkin harus seperti itu.

Tetapi, ketika saya mencoba untuk memasuki dunia penciptaan puisi, ternyata puisi itu terlalu mewah buat saya. Tidak terjangkau, karena saya tidak punya instrument sama sekali untuk masuk ke dalam dunia penciptaan puisi. Larik-larik yang saya buat sejak duduk di bangku sekolah, dan kuliah, tidak pernah saya menyebutnya puisi. Hanya sebatas kata-kata yang mewakili perasaan saya waktu menuliskannya. Meski hanya satu atau dua larik, itu sangat sangat mewakili perasaan saya yang tidak sederhana. Justru kalau dibeberkan dengan banyak kata mungkin tidak bisa terwakili.

Ya, dulu saya pernah menulis dalam diary saya: “Keyakinan ‘tlah tumbuh/ bak bumi dengan langit/bersama hujan.” Tiga larik kalimat ini tidak pernah saya nobatkan sebagai puisi. Hanya mengekspresikan kebahagiaan saat itu. Tidak lebih. Sebab, puisi dalam benak saya adalah sesuatu yang “waw gitu!” Maksud saya luar biasa, tidak terjangkau. Saya beranggapan dalam puisi ada instrument-instrumen khusus untuk menciptanya. Mulai dari apa itu puisi? Bagaimana membuat puisi? Kapan puisi dibuat? Dan, untuk apa puisi dicipta? Saya tidak punya pengetahuan semewah itu. Hingga saya bertemu dengan Toto St. Radik, penyair Banten, dalam satu pertemuan pertama di Majlis Puisi Rumah Dunia (MPRD). Dari sekian banyak kata pengantar dalam pertemuan itu, yang paling saya tunggu adalah “Puisi adalah ….” Ternyata tidak ada. Sampai kemudian ada peserta MPRD yang bertanya, “Jadi, pengertian puisi itu apa?” Apa kemudian jawab Mas Toto, “Saya sendiri tidak tahu apa pengertian puisi itu.” Saya kecewa.

Segera Mas Toto memberi “gemblong” dan “nasi goreng” kepada semua peserta. Kekecewaan saya pun terobati oleh “gemblong” dan “nasi goreng” yang diberikan itu. Mas Toto memberikan majas yang sangat jelas, “Puisi itu seperti gemblong. Sementara, prosa seperti nasi goreng.” Jelas beda antara gemblong dan nasi goreng. Gemblong, makanan yang terbuat dari beras ketan yang diliwet? Kemudian ditumbuk sampai halus dan padat. Nasi goreng adalah nasi cere yang biasa untuk makan sehari-hari, diolah lagi dengan cara digoreng dengan bumbu khusus. Penegasan Mas Toto pada nasi goreng ini terletak pada keteruraian nasi sampai detil-detil nasinya. Benar-benar jelas dan terurai, gamblang. Sementara gemblong sebaliknya, benar-benar padat berisi atau isinya padat.

Dari gambaran gemblong untuk puisi dan nasi goreng untuk prosa, juga penjelasan-penjelasan lain yang menggambarkan kebebasan dalam puisi, dengan langkah pasti saya memberikan “mahkota” kepada goresan-goresan pena yang saya padat-padatkan sebagai puisi –yang dulu maupun sekarang. Pemahaman ini yang menghilangkan ketakutan tidak puitis pada goresan-goresan saya selanjutnya. Selamat datang puisi!